Minggu, 18 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Events

Anugerah Desa: Lestarikan Ludruk Puluhan Tahun

14 Agustus 2019, 18: 11: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

anugerah desa

LUWES: Kaur Kesra Toha Desa Kuwik, Kecamatan Kunjangsaat memamerkan kepiawaiannya ludrukan pada tim juri Anugerah Desa, kemarin. (Bagus Choco - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Mungkin, hanya di Desa Kuwik, Kecamatan Kunjang yang memiliki kesenian satu ini. Ludruk. Yang membuat tambah menarik, ludruk dimainkan langsung oleh para perangkatnya. Semua perangkat desa, termasuk istrinya.

Nama ludruk yang dimiliki desa ini adalah Praja Mukti. “Sebenarnya, ludruk ini lanjutan dari ludruk Karya Jaya di tahun 1977,” terang Sekdes Kuwik Fauki Arif.

Secara kebetulan, para putra pemain ludruk Karya Jaya itu sebagian besar menjadi pamong desa. Sampai akhirnya, desa memutuskan menghidupkan lagi kesenian itu akhir tahun lalu.

“Karena pemainnya rata-rata perangkat desa, maka kami namakan Praja Mukti,” terang Fauki yang biasanya bertindak sebagai sutradara dan pemain ini.

Meski rata-rata pemain adalah perangkat desa, mereka tetap bermain secara profesional. Bahkan, saat ada lomba jula-juli di Pemkab Kediri, ludruk Praja Mukti meraih juara kedua.

Memang, desa sangat maksimal memfasilitasi berkembangnya kesenian ini. Dana diberikan untuk latihan sebesar Rp 10 juta selama setahun. Latihan digelar intensif sebulan tiga kali. Semakin rutin kalau saat menerima tanggapan.

Tak hanya para perangkat desa, mereka mengajak anggota keluarga setiap kali tampil. Alhasil, para istri pun didapuk menjadi pemain. Lantas, berapa biaya sekali tampil? Angka belasan juta disebut dan mereka siap tampil lengkap selama minimal enam jam.

Kepiawaian para perangkat desa ini ditunjukkan pada para juri Anugerah Desa. Desa ini memang mengajukan pelestarian kesenian ludruk dalam kategori inovasi terbaik bidang pelestarian kesenian tradisional.

Meski pemberitahuan penjurian sangat mendadak, dengan cekatan, perangkat desa berhasil mengumpulkan para niyaga dan sinden. “Sebagian besar memang warga sini, jadi mudah mengumpulkan,” terang Toha, kaur kesra yang juga pemain ludruk ini. Tak lama kemudian, Toha pun menunjukkan suara dan jogetannya yang lincah dan mampu menghibur para juri.

Sedangkan dua desa lainnya di Kecamatan Kunjang juga mengajukan dua program inovasi terbaiknya. Untuk Desa Klepek, mengajukan perpustakaan desanya untuk kategori Pembinaan Literasi Masyarakat. Sementara untuk Desa Balongjeruk mengajukan program bidang pemberdayaan perempuan dengan pembuatan aneka minuman sari buah.

Desa Balongjeruk memang membuat pelatihan untuk ibu-ibu pada 2017. Pelatihan untuk pembuatan minuman sari buah. Dari pelatihan itu, terbentuk tiga kelompok. Sayang, hanya satu kelompok yang masih bertahan.

“Kami dari kelompok PAUD (pendidikan anak usia dini), jadi produk kami jual kepada para ibu-ibu untuk pemasarannya,” jelas Istiqomah, koordinator.

Selain itu, hingga kemarin, mereka membuat aneka sari buah berdasarkan pesanan masyarakat. Dari kegiatan ini, tujuh anggota yang tergabung dalam kelompok mendapatkan pendapatan. “Lumayan untuk tambah-tambah uang belanja,” pungkasnya.  

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia