Rabu, 22 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Kiprah Brigade Penolong 1318 Pramuka Kwarcab Nganjuk

Selalu Diterjunkan ke Daerah Bencana

14 Agustus 2019, 16: 57: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

pramuka

SIGAP: Anggota Brigade Penolong 1318 Pramuka Kwarcab Nganjuk bersiap melakukan penanggulangan bencana. (Pramuka Kwarcab Nganjuk for radarkediri.id)

Share this          

Pramuka tak melulu berkutat dengan pendidikan kepramukaan. Lebih dari itu, anggota pramuka juga terlibat aktif dalam kegiatan sosial. Lewat Brigade Penolong 1318, anggota Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Nganjuk terlibat langsung dalam penanggulangan bencana.

Unit Reaksi Cepat Brigade Penolong ( URC BP) 1318 Kwartir Cabang (Kwarcab) Nganjuk terbentuk sekitar dua tahun lalu. Cikal bakalnya bermula dari peristiwa longsor di Ponorogo dan Desa Kepel, Ngetos, pada April 2017. “Kejadiannya beruntun. Setelah Ponorogo, disusul Kepel (Nganjuk),” kenang Komandan BP 1318 Edi Wicaksono Utomo.

Waktu itu, kwarcab langsung menerjunkan tim yang bisa membantu evakuasi korban di titik longsor. “Kebetulan kami memang sudah punya unit brigade penolong,” ungkap Edi saat ditemui di kantor kwarcab Jl Supriyadi, Nganjuk, kemarin.

Total adaada ratusan anggota brigade penolong di Kwarcab Nganjuk. Namun, untuk berada di titik longsor, hanya beberapa anggota saja yang diperbolehkan ke lokasi. Karenanya, kwarcab menunjuk 12 orang yang diaggap memiliki kualifikasi sebagai tim search and rescue (SAR).

          Dari pengalaman penanganan bencana longsor tersebut, kwarcab memutuskan membentuk tim URC pada Agustus 2017. Tujuannya untuk memudahkan tim mengirim bantuan penanggulangan bencana ke berbagai daerah. “Sekarang kami punya tim khusus penanggulangan bencana,” tutur pria 51 tahun ini.

          URC Kwarcab Nganjuk memiliki 12 anggota. Mereka berasal dari berbagai latar belakang profesi. Di antaranya guru, mahasiswa, pegawai negeri sipil (PNS), swasta dan seorang anggota TNI.

          Berbeda dengan unit lain di kwarcab, anggota URC harus mempunyai kualifikasi khusus. Edi menerangkan, setidaknya mereka memiliki dua keahlian penyelamatan. Yakni vertical rescue (evakuasi dengan memanjang tebing) dan water rescue (di dalam air).

          Tidak hanya itu, anggota URC juga harus menguasai SAR gunung rimba dan laut (Gurila). Sehingga, minimal mereka bisa berenang atau menyelam. Apalagi, selain SAR, Edi menambahkan, setiap anggota juga memiliki kemampuan administrasi dan manajemen. “Karena itu, tidak semua anggota punya kualifikasi itu,” imbuhnya.

          Setelah terbentuk, tim URC BP 1318 sudah diterjunkan untuk penanggulangan bencana di Indonesia. Yang terbaru dan besar adalah gempa Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) dan tsunami Palu di Sulawesi Tengah (Sulteng) pada 2018. Selama sekitar dua minggu, 12 anggota berada di sana secara bergantian.

          Elga Cecep Sumarno, anggota bidang operasi dan pelatihan URC yang ikut terjun ke Lombok dan Palu, menuturkan, selama di daerah bencana, mereka harus bisa berbagi tugas. Intinya, tidak boleh ada anggota yang menganggur. “Semuanya harus bekerja,” beber Cecep.

          Karenanya, sebelum tiba di sana, persiapan di kwarcab harus matang lebih dulu. Setiap orang harus tahu tugasnya masing-masing. Untuk penanggulangan pascabencana, ada empat yang ditangani. Yakni, trauma healing, pengerjaan hunian sementara (huntara), dapur umum, dan pencarian.

          Dalam melaksanakan tugas, tim URC juga memiliki peralatan yang lengkap. Mulai peralatan menyelam, alat untuk memanjat, alat semprot, mesin gergaji, alat komunikasi dan peralatan rescue lainnya.

          Dengan keterampilan dan peralatan yang dimiliki, URC aktif dalam penanggulangan bencana di Nganjuk. Termasuk jika ada korban tenggelam di sungai Brantas hingga penanggulangan bencana kekeringan. “Tetap koordinasinya di bawah BPBD (badan penanggulangan bencana daerah),” tandas Cecep.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia