Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Menengok Upaya Tim Ekskavasi Candi Klotok Mengungkap Sejarah

Angin Kencang hingga Ancaman Masuk Jurang

13 Agustus 2019, 18: 06: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

candi klotok kediri

UNGKAP SEJARAH: Anggota saat ekskavasi lanjutan kawasan Candi Klotok kemarin (12/8). (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Ruang gerak mereka terbatas. Terpaan angin kencang pun menjadi makanan sehari-hari. Namun semua itu tak menjadi penghalang tim ekskavasi ini. Terus mengupas peninggalan nenek moyang di puncak bukit Gunung Klotok yang penuh sejarah.

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kota, JP Radar Kediri

Siang itu terik matahari begitu menyengat. Terlebih bila berada di puncak bukit. Namun, suasana seperti itu tak membuat tim ekskavasi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur berhenti beraktivitas. Mereka masih berkutat dengan pekerjaannya. Sebagian ada yang membersihkan bongkahan bata merah. Menatanya ke tepi. Kemudian mengidentifikasi posisi tata letak candi. 

Ada juga yang sibuk mengukur luasan struktur. Bahkan ada yang menaikkan drone guna melakukan pemetaan dari atas.

Tak seperti yang dibayangkan, debu di kawasan itu beterbangan. Tertiup angin kencang yang berhembus di bukit berketinggian lebih dari 200 mdpl itu. Membuat anggota tim menggunakan masker penutup wajah. Menghindari debu yang sewaktu-waktu bisa mengenai wajah mereka.

Tiupan angin tersebut juga menyulitkan drone milik tim ekskavasi. “Sudah saya tarik kecepatan penuh tapi jalannya tetap lambat,” keluh Faris Dwi Harianto, bagian dokumentasi dan pemetaan BPCB Jatim.

Kencangnya angin juga membuat Faris ketir-ketir dalam mengendalikan drone. Apalagi ketika hendak menerbangkan alat pengambil gambar dari udara itu dia sempat kesulitan mendapat koneksi global positioning system (GPS). “Entah kenapa di sini sering kehilangan koneksi GPS. Jadi ya khawatir kalau drone hilang kendali,” ungkapnya waswas.

Kondisi seperti ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi tim ekskavasi Candi Klotok. Hanya saja, mereka tetap sangat menikmati keadaan seperti itu. Mengungkap sejarah di atas ketinggian. Apalagi, pemandangan indah memanjakan mata tersaji dari atas bukit tersbeut. Sungai Brantas yang berkelok, megahnya Bukit Maskumambang, dan pemandangan padatnya Kota Kediri tampak jelas dari tempat itu.

Jalan menuju lokasi candi yang diduga dibuat pada abad 10 tersebut bisa dibilang susah-susah gampang. Yang jelas jarak dari jalan utama kawasan Lebak-Tumpang, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, memang tak terlalu jauh. Sekitar 10 menit perjalanan sudah sampai di lokasi ekskavasi.

Hanya ada beberapa tanjakan. Kondisinya pun juga mudah dilalui. Ada trap dari batu bata merah yang tersusun. Sementara yang tampak ekstrim justru di lokasi ekskavasi. Utamanya di kawasan candi paling atas. Tepat di puncak bukit yang luasnya tak lebih dari 20 meter persegi, kemiringan tebing di sekelilingnya sangat curam. Sekitar 70 hingga 80 derajat. Sementara bagian candi utama ukurannya 8,4 meter persegi. Ditambah 2,4 meter untuk penampil bagian depan candi yang menghadap ke barat tersebut.

Saking sempitnya lokasi ekskavasi, membuat tim tak bisa menyebar. Mereka selalu berkumpul menjadi satu di lokasi itu. Padahal dalam satu tim, totalnya ada belasan orang. Istilahnya ekskavasi guyub rukun. Selalu berkumpul di lokasi yang sama. “Berbeda kalau ekskavasi di tempat yang lapang, pasti tim sudah menyebar ke mana-mana,” ujar Anggota Tim Ekskavasi Nonuk Kristiana.

Berada di puncak bukit tentu membuat mereka harus ekstra hati-hati. Salah melangkah sedikit saja, bisa terperosok ke sisi kanan dan kiri yang kondisinya curam. Bahkan vegetasi di sana hanya berupa tanaman semak yang belum pasti bisa menahan jika ada yang jatuh.

Dengan kondisi seperti ini, justru membuat tim ekskavasi semakin penasaran dengan pola tata ruang kompleks percandian yang diperkirakan dari masa Raja Bameswara itu. Bahkan kemarin, Nonuk bersama Ketua Tim Albertus Agung Widi Susanto tampak menyusuri lereng kanan kiri kompleks candi. Hasilnya, mereka mengindikasikan ada talud di sisi kanan dan kiri candi. Talud tersebut untuk menjaga candi agar kawasan di sana tidak longsor.

“Namun ini hanya sebatas indikasi. Talud itu ada di seluruh sisi disebelah utara, barat, selatan dan sebagian sebelah timur,” terang Widi.

Talud tersebut menurutnya berupa batuan alam, dan ada isian berupa batu-bata. “Tadi kita masih menemukan sekitar empat lapis bata,” imbuhnya.

Bahkan di sana Widi menemukan ada bata fragmen yang digunakan sebagai isian pada talud. Termasuk penguat dasar talud yang menggunakan batuan alam. Upaya mereka untuk mengupas sejarah di kawasan Gunung Klotok tersebut memang sangat luar biasa. Tak kenal lelah mencoba membuktikan fakta-fakta baru.

Yang jelas, tim akan melakukan ekskavasi kawasan bersejarah tersebut hingga 30 Agustus nanti. Tak hanya kompleks percandian, lokasi yang diduga bekas petirtaan pun juga rencanannya tak luput dari penelitian mereka. Berusaha mengungkap misteri peninggalan nenek moyang, yang telah lama terpendam.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia