Minggu, 18 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Polisi Pisahkan Ruang Tahanan Tujuh Tersangka

Tangkap Tiga Anggota Sindikat Pencurian Motor

13 Agustus 2019, 12: 40: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

Curanmor

SUSUL KOMPLOTANNYA: Polisi menggelandang tiga tersangka pencuri motor untuk mengikuti rilis, kemarin. Total ada tujuh pria spesialis curanmor yang ditangkap Polres Nganjuk. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Polres Nganjuk kembali menangkap jaringan pelaku pencurian motor (curanmor) jaringan Deva Faris Yoga Pamungkas dkk. Adalah M. Zain Ansori, 21 dan Krisma Bimantara, 22, asal Desa Mungkung, Loceret; serta Pungki, 19, warga Desa Kecubung, Pace yang kini menyusul empat tersangka terdahulu. Untuk mencegah para pelaku spesialis curanmor ini bekerja sama, polisi berencana memisahkan ruang penahanan mereka.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk menyebutkan, penangkapan tiga tersangka pelaku curanmor ini berawal dari keputusan Krisma Bimantara untuk menyerahkan diri. “Dia ketakutan dan memilih menyerahkan diri,” ujar Kapolres Nganjuk AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta dalam rilis di Polres Nganjuk, kemarin. 

Dari keterangan Krisma pula, polisi berhasil menangkap Pungki pada Kamis (1/8) dan Zain Ansori. “Dua orang (Pungki dan Zain, Red) terpaksa kami beri tindakan tegas dan terukur (ditembak, Red) karena berusaha melawan,” lanjut perwira yang sebelumnya bertugas di Bareskrim Mabes Polri ini.

Dikatakan perwira dengan pangkat dua melati di pundak itu, Zain alias Aan dibekuk saat sedang bekerja di toko mebel Desa Sombron, Loceret. Kemudian, Pungki digerebek saat bersembunyi di kamar kosnya.

Dua pria tersebut beraksi di tiga lokasi di Kota Nganjuk. “Targetnya rumah kontrakan dan kosan,” beber perwira yang hobi bersepeda ini.

Terkait perannya, Pungki dan Zain selalu menjadi pemetik alias yang mencuri motor. Selanjutnya, Krisma bertugas mengantar ke lokasi dan menjual hasil curiannya ke Kabupaten Tulungagung. “Penadahnya sudah ditahan ,” tandas Dewa.

Saat beraksi, biasanya Pungki menggunakan obeng untuk menyalakan motor. Sedangkan Zain memilih sasaran motor yang kuncinya masih menancap.

Dalam pemeriksaan, ketiganya mengaku menjual motor secara utuh kepada penadah. “Mereka bukan spesialis penjual onderdil, setiap satu unit harganya Rp 3 juta sampai Rp 4 juta tergantung jenis motor,” urai Dewa.

Uang hasil pencurian tersebut mereka gunakan untuk kebutuhan keluarga. “Satu yang masih bujang (Zain, Red) uangnya digunakan untuk senang-senang,” tandasnya.

Untuk mencegah mereka membuat jaringan baru, Dewa memerintahkan agar ruang tahanan komplotan spesialis pencuri motor ini dipisah. Termasuk dengan empat tersangka satu komplotan mereka yang sudah ditangkap Juli lalu. “Jangan disatukan nanti bisa jadi pintar di dalam (tahanan, Red),” imbuhnya.

Kasatreskrim Polres Nganjuk Iptu Nikolas Bagas Yudhi Kurniawan mengatakan, tujuh tersangka akan di masukan ke sel tahan sejumlah polsek di sekitar Kota Nganjuk. Satreskrim, menurut Nikolas sudah berkoordinasi dengan polsek jajaran.

Usai mengamankan tujuh tersangka, polisi masih mencari beberapa barang bukti motor yang sudah dijual. Sejauh ini mereka berhasil mengamankan tiga unit motor hasil curian. Yaitu, satu unit Yamaha Ninja bernopol B 6108 CTN, Honda Vario AG 2377 RAA, dan Honda Beat 2304 UE. “Honda Beat hitam digunakan untuk sarana mencuri,” beber Nikolas.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia