Rabu, 11 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

350 KK Butuh Air Bersih

Bencana Kekeringan Meluas ke Desa Gampeng

13 Agustus 2019, 11: 41: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

Kekeringan

BUTUH BANTUAN: Kartiningsih, 27, warga Dusun Puncu, Desa Gampeng, harus mengangkat air bersih dari sumur sawah yang berjarak ratusan meter. Sebab, sumur di rumahnya sudah mengering awal Agustus lalu. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGLUYU, JP Radar Nganjuk-Bencana kekeringan di Kabupaten Nganjuk meluas. Setelah ratusan warga di Dusun Sendanggogor, Desa Ngepung, Kecamatan Lengkong kesulitan air bersih, kondisi yang sama menimpa warga di Dusun Puncu, Desa Gampeng, Ngluyu.

Sedikitnya ada 350 kepala keluarga (KK) di sana yang mengalami kekeringan. “Agustus ini sumur warga (di Dusun Puncu, Desa Gampeng, Red) mulai mengering,” ujar Kades Gampeng Wajito.

Lebih jauh Wajito mengungkapkan, debit air di sumur warga sudah menyusut sejak Juni lalu. Selanjutnya, pada awal Agustus mulai mengering. Untuk bisa mendapatkan air bersih, warga Dusun Puncu harus mencari ke sumur sawah atau ke tengah hutan. “Jaraknya bisa sampai satu kilometer dari rumah,” lanjutnya.

Sebenarnya, menurut Wajito masih ada beberapa sumur warga yang mengeluarkan air. Tetapi, sudah tidak layak dikonsumsi. Sebab, debit air yang kecil membuat air mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Karenanya, warga memilih menggunakan air untuk mandi dan mencuci. “Kalau untuk memasak dan diminum, mereka mencari ke hutan,” terang pria berkumis tebal ini.

Melihat kondisi kesulitan air bersih di Dusun Puncu, Wajito mengaku sudah mengajukan permohonan bantuan air bersih ke Pemkab Nganjuk. Namun, sampai kemarin desanya belum mendapatkan bantuan air bersih.

Karningsih, 27, warga Dusun Puncu mengatakan, sejak awal Agustus ini dirinya terpaksa mencari air bersih di sumur sawah. Sebab, sumur di rumahnya sudah mengering.

Sebenarnya, sumur di sawah itu biasanya digunakan untuk mengairi tanaman warga. Tetapi, karena kesulitan air bersih, Ningsih bersama warga lainnya ramai-ramai mengambil air di sana. “Setiap musim kemarau selalu begini,” tutur perempuan yang terbiasa membawa air di timba dan menempuh jarak ratusan meter ini.

Ningsih mengaku beruntung. Sebab, air sumur sawah di dekat rumahnya masih dalam kondisi bagus. Menurut penuturan beberapa warga, banyak sumur sawah lainnya yang airnya berbau. Sehingga, tidak layak lagi untuk dikonsumsi.

 “Ada yang sudah bau bangir tapi tetap diminum,”keluhnya.

Terpisah, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Hendro Djoko Soedarsono melalui Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Nugroho mengatakan, BPBD akan segera melakukan asesmen ke lokasi tersebut. “Sejauh ini kami belum menerima surat permohonan dari desa, bila benar sudah mengalami kekeringan sebaiknya segera kirim surat untuk kami tindaklanjuti,” papar Nugroho.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia