Minggu, 18 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Features

Koesnan, Salah Seorang Pelari Tertua, Peserta KVVR 2019

Tiga Kali Iringi Obor PON, Penasaran Kelud

12 Agustus 2019, 13: 39: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

pelari kvrr

MASIH SEMANGAT: Koesnan ketika berlatih lari di kawasan Lebak-Tumpang, Kecamatan Mojoroto beberapa waktu lalu. (SONY WIJAYA for radarkediri.id)

Share this          

Usianya sudah 70 tahun. Tapi tak menyurutkan kakek satu ini mengikuti ajang lari tahunan Kelud Volcano Road Run (KVRR) 2019. Berbekal semangat, Koesnan optimistis bisa menaklukkan medan di salah satu gunung api teraktif di Indonesia ini.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kota, JP Radar Kediri

pelari kvrr

Koesnan (SONY WIJAYA for radarkediri.id)

Koesnan tampak semringah saat wartawan koran ini menghubunginnya melalui video call di media sosial whatsapp. Sesekali kakek ini mendekatkan smartphone miliknya ke telinga. Bahkan tak jarang sang anak juga membantu mengulang pertanyaan untuk memperjelas percakapan kami yang memang putus-putus.

“Iya Wa’alaikumsalam,  Alhamdulillah sehat,” ujarnya lantang saat ditanya bagaimana kabar kakek sembilan cucu ini. Pun jawaban itu mengawali percakapan kami kemarin sore. Ditemani putranya Sony Wijaya, Koesnan sedikit menceritakan keinginannya untuk mengikuti ajang lari tahunan yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Kediri bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri tersebut.

Pensiunan Pemkab Ponorogo ini memang menggeluti olahraga lari sejak dulu. Bahkan telah menjadi rutinitasnya sehari-hari. Selain kegemarannya berolahraga sepeda. Setidaknya semua itu telah dilakukannya 10 tahun lebih. Alasannya yang pasti adalah untuk menjaga kebugaran tubuhnya yang semakin renta itu.

Ditanya motivasi utama ikut KVRR, dia justru tersenyum. “Ingin tahu Gunung Kelud,” jawabnya singkat.

Ya memang selama ini Koesnan belum pernah pergi ke sana, Gunung Kelud. Menjadi salah satu alasan kenapa dia penasaran dengan gunung api yang terakhir erupsi pada 2014 lalu.

Tak hanya lari dan bersepeda, rutinitas berjalan kaki juga menjadi kegemarannya. “Sambil kuliner juga,” cetusnya.

Kuliner yang digandrungi ayah 4 anak ini utamannya adalah gule dan sate kambing. Sembari olahraga ia juga kerap menyempatkan untuk wisata kuliner tersebut. Di Ponorogo tak hanya berlari di kawasan perkotaan, ia juga kerap keliling di pedesaan.

Terakhir berlalu jauh, salah satunya dilakukan ketika ia berkunjung ke Kota Kediri. Berlari dari kediaman putra keduanya Sony Wijaya, Koesnan menyusuri jalanan Kota Tahu sejauh 8 kilometer. Dari daerah Jalan Veteran Sukorame, berlari mengelilingi wilayah kawasan gunung Klotok yakni jalur Lebak Tumpang. Dan kembali lagi ke Sukorame.

“Medan itu tersebut padahal naik turun. Tapi bapak tetap kuat dan tidak kecapekan,” ungkap Sony.

Selama ini Sony menjelaskan bahwa Koesnan tinggal di Ponorogo. Tepatnya di Kelurahan Mangkujayan, Kecamatan Ponorogo. Sementara berkunjung ke Kediri selama tiga bulan sekali. Berkunjung ke kediaman Sony. Ketika berkunjung di Kota Tahu, Sony menyebut Koesnan bergabung dengan tim lari asal kota ini yakni Winner.

“Terus tahu ada even KVRR dan ikut bergabung,” jelasnya.

Sony memaparkan, ayahnya pernah mengikuti iringan obor PON. Berlari dari perbatasan Ponorogo mengelilingi kota. “Sudah tiga kali ikut mendampingi obor PON,” tukasnya.

Sony mendukung ayahnya ikut dalam kegiatan ini. Sebab menurutnya Koesnan sangat bersemangat untuk membuktikan medan sekaligus menikmati keindahan pesona Gunung Kelud. Tentu ini menjadi even tahunan yang ditunggu-tunggu banyak pelari dari seluruh penjuru tanah air. Menyusuri jalanan gunung api yang menjadi kebanggaan Kabupaten Kediri ini.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia