Minggu, 18 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Features

Pasutri asal Gurah Disabilitas yang Berkarya di Tengah Keterbatasan

Ahli Menjahit, Jago Mendaur Ulang

11 Agustus 2019, 12: 13: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

Sujinah Sugito

PANTANG BERPANGKU TANGAN : Sujinah dan Sugito menyelesaikan pesanan yang mereka terima secara bersama-sama. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Keterbatasan tidak membuat pasangan suami istri ini ‘terbatas’ dalam berkarya. Mulai dari menjahit, merajut, hingga mendaur ulang sampah plastik mereka tekuni.

Seorang lelaki keluar dari rumahnya di Dusun Kebonagung, Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah siang kemarin. Di ketiaknya terselip alat bantu jalan (kruk) dari besi. Kemudian, sang lelaki itu menggantungkan sangkar burung piaraannya di depan rumah.

Lelaki umur 54 tahun itu menggunakan kruk besi untuk menopang tubuhnya. Sebab, kaki kiri lelaki bernama Sugito tersebut cacat. Kaki kirinya tak normal karena terkena polio. Penyakit yang menderanya saat dia berusia tujuh bulan. Saat masih balita.

Minggu Inspiratif Radar Kediri

Minggu Inspiratif Radar Kediri (radarkediri.id)

Setelah mempersilakan koran ini masuk, Sugito bergegas masuk kamar. Dia kembali muncul dengan mendorong kursi roda yang diduduki sang istri, Sujinah. Istrinya itu harus berada di kursi roda karena juga seorang penyandang disabilitas polio. Dalam kasus Sujinah, ia menderita polio di kaki kanannya.

Meski memiliki kekurangan di tubuh mereka, Sugito dan Sujinah tidak pernah mengeluh. Keduanya tak menyerah dengan keterbatasannya itu. Sebaliknya hal itu mereka jadikan motivasi agar tidak membebankan semuanya ke keluarga atau lingkungan sekitar. “Motivasi saya tidak pernah ingin merepotkan keluarga dan orang lain,” imbuh Sujinah.

Wanita asal Desa Wonojoyo, Gurah, itu menjelaskan bahwa ia sudah berlatih untuk menjahit sejak ia masih duduk di bangku SMP. Menurut Sujinah menjahit adalah salah satu kegiatan yang dapat ia lakukan secara maksimal meski memiliki keterbatasan.

Hingga lulus SMA Sujinah terus menjahit. Dibekali mesin jahit yang dibelikan oleh ayahnya sekitar 1972, Sujinah yakin bahwa ia akan meneruskan usaha menjahitnya. “Saya juga sudah memutuskan bahwa nanti setelah lulus SMA akan melanjutkan kuliah. Dan mengajarkan ke teman-teman disabilitas tentang menjahit,” terangnya.

Meskipun nasib memutus lain, dia tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, Sujinah masih terus mengejar mimpinya. Yaitu agar bisa melatih teman-teman disabilitas dalam bidang yang ia tekuni. Selama belasan tahun, ia juga terus berkembang. Tidak hanya menjahit, kini ia juga berkarya di bidang merajut dan juga daur ulang sampah plastik.

Bersama dengan Sugito, Sujinah terus berusaha menghasilkan banyak produk yang dikerjakan bersama. Semua demi menghidupi keluarganya. Rasa syukur terus mereka ucapkan ketika ratusan pelanggan menghubungi dan meminta untuk membuatkan tas rajut. Atau baju jahitan keduanya. “Alhamdulillah, terus disyukuri, Mas. Ramai atau sepi tetap bersyukur,” tegas Sujinah.

Untuk mencari penghasilan tambahan, awalnya Sujinah punya usaha jualan kue gorengan. Ia menggoreng dan menitipkan ke warung dan sekolah-sekolah di wilayah Gurah. Namun ia tidak melanjutkan usaha menjual gorengan itu karena terkendala jarak. Akhirnya ia memiliki ide mendaur ulang limbah kain yang ia pakai untuk menjahit. Dan dia jadikan berbagai kerajinan tangan. Mulai dari gantungan kunci, tas, keset, dan lain-lain. Tentunya juga dibantu oleh Sugito. “Karena selain untuk menghidupi keluarga, juga untuk mengurangi sisa-sisa kain yang ada di rumah,” terang Sujinah.

Ajari Siapa Saja yang Datang

Yang satu besar di Kabupaten Kediri. Sementara seorang lagi berasal dari Mojokerto. Namun, bila jodoh, jarak yang jauh pun tak menghalangi pertemuan. Itupula yang dialami oleh Sujinah dan Sugito.

Keduanya juga bertemu di tempat ‘netral’. Di Bangil, Pasuruan. Kala itu, Sujinah yang asli Wonojoyo, Gurah, dikirim dinas sosial mengikuti studi banding. Sedangkan Sugito juga rombongan serupa asal Mojokerto. Bak pepatah garam di laut, asam di gunung, bertemu di belanga, begitulah cerita hidup mereka. Keduanya dipersatukan ketika mengikuti kegiatan di kota tersebut.

Saat bertemu, keduanya tentu sudah mengetahui kondisi masing-masing. Sejak awal, Sugito dan Sujinah memang berusaha tidak menjadikan kekurangannya sebagai halangan untuk terus berkembang.

Pada 2000 keduanya pun menikah. Dan hingga saat ini menetap di Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. “Saya sudah bilang, kalau memang jadi menikah, harus tinggal di sini (Wonojoyo, Red). Karena memang pesan bapak saya dulu begitu,” terang Sujinah.

Pesan ayahnya itu terus dia pegang. Keduanya pun hidup di dalam kesederhanaan. Dikaruniai satu anak perempuan yang cerdas. Dan juga tidak pernah malu dengan keadaan orang tuanya yang memiliki keterbatasan itu.

Sujinah menjelaskan bahwa selama menikah keduanya sering melakukan hal bersama-sama. Mulai dari menjahit hingga mendatangi kelas mengajar disabilitas. “Malah dulu anak saya juga saya ajak. Dari Grogol hingga sampai ke Surabaya,” terang keduanya.

Sugito dan Sujinah juga membuka kelas mengajar di rumah mereka. Asal ada siapa saja yang datang, Sujinah dengan senang hati mengajarinya. Entah dari teman-teman disabilitas maupun yang tidak.

Tak heran, rumah Sujinah dan Sugito kerap menerima tamu setiap pagi maupun sore. Mereka datang untuk belajar. “Selama saya di rumah dan ada orang yang mau belajar, ya saya bantu. Lha wong saya di rumah terus,” terang Sujinah, dengan bumbu canda.

Dan, mulai dari mengajarkan menjahit, kemudian melakukan banyak hal bersama, pasangan suami-istri ini terus berkembang untuk mencari rezeki yang halal bagi keluarganya. Bahkan, setiap malam pun Sugito juga kerap dimintai tolong oleh warga sekitar yang berjaga di pos kamling yang berada tepat di seberang rumahnya untuk membikinkan kopi atau mi instan. “Pekerjaan apa saja asal halal dan dapat menghidupi keluarga, tetap disyukuri,” terang Sugito.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia