Minggu, 18 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

-- Kurban --

11 Agustus 2019, 12: 04: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

didin saputro

Oleh: Moch. Didin Saputro (radarkediri.id)

Share this          

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…Laailahailallahu Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillahilham!!! Suara takbir pun menggema. Menandakan waktu mulai masuk malam Idul Adha. Malam yang penuh kedamaian, malam yang ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh penjuru dunia. Merayakan salah satu hari besar Islam yang bagi sebagian besar orang merupakan hari penuh berkah.

Tak hanya berkah bagi orang yang mendapat jatah hasil penyembelihan hewan kurban saja. Juga berkah bagi si pengurban yang dengan ‘ikhlas’ menyumbangkan sebagian hartanya untuk bersedekah. Tentu saja si pengurban itu harus dengan ikhlas. Rela berbagi kebaikan demi kepentingan bersama. Bukan sebagai ajang adu tingginya strata sosial.

Ibarat kata, Idul Adha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat muslim. Terkadang, di negeri ini Idul Adha disebut juga sebagai Idul Kurban atau Lebaran Haji. Sebenarnya, jika dilihat dari berbagai sudut pandang, beberapa sumber menyebut bahwa secara luas istilah kurban juga disebutkan di berbagai agama. Bukan hanya umat muslim saja. Hanya, cara mengartikan kurban itu berbeda.

Dari artikel yang pernah saya baca, kurban adalah sebuah praktik yang banyak ditemukan dalam berbagai agama di dunia. Biasanya dilakukan sebagai tanda kesediaan si pemeluknya untuk menyerahkan sesuatu kepada tuhannya. Bahkan cara ini juga pernah dilakukan oleh nenek moyang, ketika saat itu masih memeluk kepercayaan animisme.

Praktik pemberian kurban juga ditemukan dalam catatan-catatan manusia yang paling tua. Termasuk temuan-temuan arkeologis yang mencatat tulang-belulang manusia dan binatang yang menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka telah dipersembahkan sebagai kurban dan praktik ini. Pun demikian, hingga sekarang, pada beberapa kepercayaan di Tanah Jawa ini juga masih melakukan hal serupa. Namun sekarang sudah diistilahkan sebagai suatu tradisi dan budaya.

Terakhir, yang saya lihat adalah tradisi labuh bumi dan larung sesaji di Kali Brantas. Mengurbankan kepala sapi yang dilarung ke kali. Tujuannya adalah sebagai wujud syukur. Untuk berbagi bersama dan mengharap berkah setelah dengan ikhlas membagikan rezeki berupa hasil bumi dan kepala sapi tersebut.

Saya rasa keikhlasan dalam berkurban ini tak jauh berbeda dengan rasa ikhlas ketika berkurban untuk membangun daerah. Sama-sama demi kepentingan bersama. Tentunya bukan untuk ajang kesombongan karena mendapat tahta sebagai pemilik jabatan. Tetapi harus sebagai ajang berkurban demi kemajuan daerah yang dipimpinnya.

Yang terpenting, harus diimbangi dengan rasa ikhlas, berkurban untuk kepentingan rakyat. Jangan untuk memperoleh kehormatan dari rakyat yang dipimpin. Hingga tak ada rasa ikhlas saat membangun daerahnya.

Jika sifat tersebut hilang, apa jadinya daerah ini. Dipimpin dengan orang yang hanya memimpin demi sebuah tahta. Demi kepentingan kelompoknya yang justru tak bisa membuat daerah ini maju. Menjadi catatan penting bagi setiap orang yang ingin menjadi pemimpin, dengan tulus dan ikhlas mengabdi demi kemajuan negeri ini.

Teringat pendapat yang pernah saya dengar itu dari seorang tokoh bernama Muhammad Ainun Nadjib, atau yang selama ini karib disapa dengan panggilan Cak Nun. Beliau berpendapat tentang makna dalam ibadah kurban, jika seseorang sedang disembelih Allah, maka sikap orang itu mestinya harus ikhlas serta tulus.

Sebagaimana Nabi Ibrahim yang ingin menyembelih Nabi Ismail, malah mendapatkan domba sebagai ganti untuk disembelih. Yang menjadi masalah adalah manusia sekarang ini sering tidak ikhlas saat ‘disembelih’ Allah. Atau dalam arti lain saat diberi ujian, mendapat amanah dari Allah. Menurutnya inilah hal yang berat untuk bisa ikhlas dan tulus saat dijalankan. Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri).

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia