Minggu, 15 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Ekskavasi Candi Klotok: Diperkirakan Berdiri pada Masa Bameswara

11 Agustus 2019, 11: 07: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

candi klotok kediri

UNGKAP SEJARAH: Anggota tim ekskavasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur sedang meneliti struktur bangunan Candi Klotok. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Keberadaan Candi Klotok membuat sebagian besar warga penasaran. Terutama mereka ingin mengetahui sejak kapan keberadaan bangunan bersejarah itu. Selain itu, juga terkait fungsi candi yang terletak di puncak bukit kawasan Kecamatan Mojoroto tersebut.

Pertanyaan itupun sedikit terjawab. Sebab tim ekskavasi Candi Klotok telah memperkirakan bahwa candi telah ada sejak era Kerajaan Kadhiri. Dari keterangan Nonuk Kristiana, anggota tim ekskavasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim, ada satu benda yang bisa jadi indikator hal tersebut.

Benda tersebut merupakan sebuah peripih. Peripih itu ditemukan di bagian pojok luar candi sisi barat laut. Tepatnya berada di luar fondasi. Tapi keadaannya berada di kedalaman yang sama dengan fondasi.

"Peripih itu hasil temuan pada ekskavasi pertama tahun lalu," ujar Nonuk saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri di lokasi ekskavasi.

Nah setelah itu, peripih yang dimaksud dibawa ke BPCB Jatim. Selanjutnya dilakukan analisis untuk menentukan masa peripih yang terdapat uang kepeng tersebut dibuat.

"Setelah dianalisis ternyata kepingan yang ada di peripih berasal dari Dinasti Song Utara di bawah kepemimpinan Kaisar Zheng," jelasnya.

Nonuk mengungkapkan, Kaisar Zheng sendiri memimpin antara tahun 1111 sampai 1117. Nah sementara di Nusantara, pada masa tersebut mengalami kekosongan. Dan baru tahun 1917 di masa Kadhiri, di bawah kekuasaan Raja Bameswara.

Peripih yang ditemukan itu berbentuk periuk bertutup yang kondisinya sudah pecah. Sejauh ini dari pemahaman Nonuk, peripih merupakan benda-benda yang digunakan sebagai isian wadah yang terdapat pada suatu candi.

Wadah tersebut bertutup berbentuk persegi yang memiliki sembilan sampai 25 lubang persegi yang disebut Garbhapatra. Umumnya dipendam di dasar (sumuran) candi.

"Peripih berfungsi agar ada aura yang hidup pada bangunan sakral, salah satunya yakni candi," ungkap Nonuk.

Benar saja, selama ini fungsi peripih dikenal untuk menghidupkan candi. Tanpa peripih candi tidak akan dapat dipergunakan sebagai tempat ibadah. Di peripih itu, selain uang kepeng, juga ada sebuah tulang hewan, namun kondisinya sudah hancur. Namun Nonuk belum bisa memastikan tulang apa yang ditemukan.

Terkait keberadaan arca atau lingga dan yoni yang menjadi ciri khas tempat peribadatan zaman kerajaan. Nonuk menyampaikan, sejauh ini tidak menemukan benda tersebut.

“Dalam ekskavasi ini kami juga tidak menemukan benda yang menjadi unsur-unsur. Tidak ada lingga dan yoni, juga arca berupa tokoh dewa yang kami temukan," bebernya.

Nonuk tak bisa memastikan, apakah memang tidak ada sejak awal atau sebenarnya ada namun sudah dipindahkan orang di masa lalu. Selain peripih, ia menyebut, belum menemukan benda lain yang bisa diidentifikasi.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia