Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Events

Anugerah Desa 2019: Gurih Saham Warga di Gronjong Wariti

Kayenlor Andalkan Layanan Sehari Jadi

11 Agustus 2019, 10: 53: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

gronjong wariti mejono

MENGHIDUPI: Camat, kades, dan pengelola bersama tim juri Anugerah Desa di objek wisata Gronjong Wariti di Desa Mejono, Kecamatan Plemahan. (Bagus Choco - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Yuyun Ismawati, 34, semringah. Sebab, kini jualannya lebih laku. Bahkan omzetnya bisa naik dua kali lipat dibanding sebelumnya saat berjualan di rumah. Itu semua karena Gronjong Wariti, kawasan wisata air yang diciptakan oleh Pemerintah Desa Mejono, Kecamatan Plemahan.

“Kalau hari libur, di atas Rp 1 juta. Hari-hari biasa Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kediri di sela-sela penjurian lapangan Anugerah Desa 2019, kemarin.

Makanya, Yuyun sudah punya rencana mengembangkan usahanya. Jika kini berjualan di dalam area wisata, perempuan yang berjualan ayam geprek, ayam bakar, dan aneka minuman itu ingin membuka warung lagi di jalan masuk menuju kawasan tersebut. 

Anugerah Desa 2019

BAGI HASIL: Riadi, direktur BUMDes Hapsari, di posko informasi Gronjong Wariti kemarin. Semua wahana di sana dibeli oleh warga dengan sistem saham. (Tauhid Wijaya - radarkediri.id)

Padahal, sebelum 2016, sungai itu masih sangat kotor. Meski sudah dinormalisasi, pendangkalan tetap sering terjadi. Bahkan, tuas besi pemutar pintu air saluran irigasinya sempat hilang. Jika turun hujan deras dan air meluap, lahan di kanan-kirinya menjadi langganan tergenang.

Inilah yang menggerakkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa (Kades) Mejono Mujito untuk turun tangan. Bersama warga, ia membersihkan sungai bernama Gronjong tersebut. Mengeruk sedimennya. Membersihkan sampah-sampahnya. Lalu, merapikan dan membersihkan lahan-lahan di sekitarnya. “Sungai ini bisa dijadikan tempat wisata,” katanya.

11 April 2016 gerakan bersih-bersih sungai itu pertama kali dilakukan. Semula tak banyak warga yang ikut. Tapi, itu tidak membuat menyerah Mujito dan perangkat desa yang lain. Mereka dibantu Riadi, salah satu tokoh warga. Sebab, mereka punya keyakinan dan visi besar. Sungai yang bersih bisa dijadikan wisata. Dan, wisata bisa menggerakkan perekonomian warga.

Benar saja. Setelah terlihat bersih, orang mulai mau untuk datang. Pelan-pelan area itu pun ditata. Lalu, pada 2018, pemerintah desa mulai mengucurkan anggaran Rp 35 juta dari dana desa (DD) untuk membangun jalan paving dan sarana prasarana lain.

Langkah lebih serius juga dilakukan. Yaitu, dengan memasukkan pengelolaan wisata Gronjong Wariti ke dalam salah satu unit usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sistemnya dibangun. Kelompok sadar wisata (pokdarwis) dibentuk. Masyarakat dilibatkan penuh. Termasuk dalam kepemilikan saham aneka wahana wisata di sana seperti perahu kayu, perahu karet untuk rafting, perahu fiber kayuh, rakit bambu, dan wahana selfie putar di atas sungai.

“Ini untuk menggerakkan ekonomi warga Desa Mejono. Makanya, semua petugas, semua yang berjualan, dan semua yang memiliki saham adalah warga desa kami sendiri. Tidak boleh dari luar,” tandas Riadi yang diangkat sebagai direktur BUMDes Hapsari yang membawahkan pengelolaan Gronjong Wariti.

Heru Iswanto yang sehari-hari beternak lele termasuk yang ikut merasakan hasilnya. Ia menjadi salah satu pemegang saham wahana perahu di sana. Dari saham Rp 2 juta yang ditanamnya, setiap bulan setidaknya ia bisa menikmati Rp 400 ribu-Rp 600 ribu. Cukup besar. “Itu sudah bersih,” ucapnya. Maklum, persentase bagi hasil untuk pemegang saham bisa mencapai 55 persen dari pendapatan. Belum lagi jika digelar event mancing di sungai itu. Lele milik Heru dipastikan laku diborong untuk dipancing. Benar-benar rezeki yang ‘gurih’.

Misiyem juga merasakan betul imbas ekonomi dari Gronjong Wariti. Ia ikut berjualan makanan di dalam areal wisata. Seperti Yuyun, ia mendirikan gazebo yang standarnya sudah diatur oleh pengelola Gronjong Wariti. Kepada pengelola, ia hanya membayar ongkos kebersihan Rp 5 ribu per bulan. Kepada pemilik tanah, hanya bayar sewa Rp 20 ribu per bulan.

“Kalau omzet, sekitar Rp 500 ribu setiap jualan,” aku perempuan 45 tahun itu. Dia berjualan soto bathok, ayam rica-rica, pecel, dan cenil. “Biasanya buka kalau pas hari Minggu. Tapi, pas musim liburan sekolah kemarin setiap hari jualan,” lanjutnya. Rezeki juga mengalir dari parkir yang dikelola warga.

Tiga tahun berjalan sejak pertama kali dibersihkan 2016 lalu, tingkat kunjungan di Gronjong Wariti kini bisa menembus seribu orang per minggu. “Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk. Hanya bayar saat menggunakan wahana,” ungkap Riadi. Harga makanan di sana juga dijamin murah. Semua terkontrol.

Selain dari Kediri, pengunjung datang dari kabupaten/kota lain. Seperti Mojokerto, Jombang, dan Nganjuk. “Pernah juga ada wisatawan Jepang,” lanjut Riadi.

Jumlah pengunjung itu dipastikan meningkat karena tahun ini Pemdes Mejono kembali mengucurkan Rp 100 juta dari DD untuk penambahan sarana prasarana di sana. Salah satunya kolam renang. “Untuk PAD (pendapatan asli desa), sejak Desember 2018 sampai Juli kemarin, kami sudah setor Rp 4,49 juta,” beber Riadi.

So, seperti diharapkan, Gronjong Wariti sudah berhasil menyulap Sungai Gronjong menjadi Sendang Wariti alias sendang kehidupan seperti dalam kisah pewayangan. “Di Sendang Wariti, Suratimantra yang dibunuh Jagal Abilawa selalu hidup kembali. Karena Sendang Wariti memang merupakan sendang kehidupan,” terang Mujito yang gemar wayang.

Sementara itu, di Desa Kayenlor, Kecamatan Plemahan, pelayanan surat-menyurat untuk warganya kini semakin mudah, cepat, dan nyaman. Ini sejak pemerintah desa (pemdes)-nya menerapkan sistem one stop service untuk pelayanan segala kebutuhan surat-menyurat. “Asal semua lengkap, bisa langsung jadi. Bisa ditunggu, tidak sampai sehari,” kata Evi Kartika Widarwati, kadesnya.

 Warga cukup membawa surat pengantar dari ketua RT-nya. Ruang pelayanannya sangat nyaman untuk ukuran desa. Dilengkapi AC, kursi tunggu, juga air mineral plus permen yang bisa diambil gratis. Mereka tinggal menuju konter yang diinginkan. Apakah hendak mengurus KTP, SKCK, SKTM, legalisir, atau surat-surat yang lain. Semua bisa diselesaikan di satu meja.

Itu bisa dilakukan karena Pemdes Kayenlor sudah menerapkan Sistem Informasi Manajemen dan Profil Desa (Simpade) yang diinisiasi oleh Pemkab Kediri. “Kalau syaratnya lengkap, kami tinggal panggil datanya lalu ngeprint surat yang diminta. Sepuluh menit sudah jadi,” ungkap Zeny Kurniawan, kasi pelayanan, yang standby di ruang pelayanan.

Untuk menunjang program one stop service itu, pada 2018 Pemdes Kayenlor menganggarkan Rp 45 juta dari APBDes-nya. “Untuk beli meja pelayanan, kursi, dan sarana yang lain,” tutur Kades Evi.

Di Desa/Kecamatan Plemahan, pemdesnya mengandalkan program Saka Wana Bhakti yang melibatkan Karang Taruna untuk inovasi pembinaan anak mudanya. Program itu dibina langsung oleh puskesmas. Anggotanya dilibatkan dalam program-program kesehatan yang menginduk ke dinas kesehatan. Seperti pemberantasan demam berdarah dan pelayanan kesehatan di posyandu. Mereka bersinergi dengan kader-kader yang sudah ada.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia