Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Rumah Bonsai Indonesia (RUBI) Kediri, Wadah Pecinta Tanaman Bonsai

Prospek Besar si Tanaman Kerdil

10 Agustus 2019, 13: 57: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

bonsai

TELATEN: Solik dan Bambang sedang merawat tanaman bonsai dengan penuh ketelatenan di Dusun/Desa Tawang,Wates, pada Senin (5/8) kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Bonsai merupakan tanaman atau pohon yang dikerdilkan di dalam pot. Dengan tujuan membuat miniatur dari bentuk asli pohon tersebut di alam bebas. Namun, jangan salah! Tanaman kerdil tersebut memiliki prospek ekonomi yang sangat besar.

Diakui oleh Ketua Rumah Bonsai Indonesia (RUBI) cabang Kediri Solik, bahwa bonsai merupakan aset yang besar. Tentunya apabila dikelola dengan baik dan mendapatkan perhatian dari segala lini.

“Pasar ekspor bonsai itu sangat tinggi. Sangat bernilai ekonomis jika kita bisa menyediakan kebutuhan pasar tersebut,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di kebunnya di Dusun/Desa Tawang, Wates pada Senin (5/8) kemarin.

Bahkan tidak perlu jauh-jauh. Pasar bonsai di dalam negeri sendiri sangatlah ‘menggoda’. Berawal dari hobi merawat bonsai, jika ditekuni tentunya akan membawa nilai ekonomis. Harga bonsai relatif stabil. Tidak seperti katakanlah tanaman lainnya yang cenderung naik-turun mengikuti tren. Bonsai memiliki pasarnya sendiri.

Beruntung, di Kediri banyak tanaman keras yang cocok untuk dijadikan bahan mengembangkan bonsai. Beberapa jenis tanaman keras bahan bonsai seperti serut, mustan, ficus, dan kimeng masih akan dengan mudah dijumpai di Kediri. “Ada semuanya di Kediri,” celetuknya.

Hal itu sendiri didukung dengan iklim yang ada di sini dinilai cocok untuk perawatan tanaman hias tersebut. Oleh karena itu juga pecinta bonsai di Kediri semakin menjamur belakangan ini.

Termasuk yang tergabung dalam RUBI cabang Kediri. Setidaknya telah ada sebanyak 78 orang yang menjadi anggota. Itu pun masih ada 30-an lagi yang berminat untuk bergabung. Geliat tanaman bonsai di Kediri dianggap sedang menunjukkan tren positif. Seni menanam bonsai sendiri dipercaya telah masuk Kediri sejak puluhan tahun lalu.

Bagaimana dengan perawatannya? Bambang Budiono, divisi penelitian dan pengembangan Rubi cabang Kediri mengaku tidaklah sesulit yang dibayangkan. Ada empat kunci utama yang harus dipegang setiap pemain bonsai, terutama bagi yang baru akan menggeluti dunia ini. Antara lain ketercukupan sinar matahari, sirkulasi udara yang bagus, pemupukan, dan penyiraman rutin setiap hari.

“Kalau disiram memang wajib setiap hari. Tetapi kalau pupuk cukup sebulan sekali. Terlalu banyak pupuk juga hasilnya buruk,” beber Bambang.

Namun, apabila ingin bonsai yang dimiliki sesuai dengan kaidah, memang diperlukan perhatian dan ketelatenan yang lebih besar lagi. Pasalnya bonsai yang bagus dapat dilihat dari berbagai aspek. Seperti gerak batang, kaki-kaki, dan keselarasan batang serta cabang.

Ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan dalam merawat bonsai. Salah satunya adalah ketika harus berganti media tanam. Pasalnya tak jarang setelah dipindah justru akan mati. “Pemupukan yang berlebihan juga berbahaya. Gangguan dari hama juga perlu diperhatikan. Pokok intinya itu telaten,” tandas Bambang.

Bagaimana tidak, merawat bonsai memang diperlukan waktu tahunan. Setidak paling cepat adalah setahun hingga dua tahun. Oleh karena itu, merawat bonsai juga diakui dapat mengajarkan kesabaran dan membuat pemiliknya lebih kalem.

Soal harga bagaimana? Keduanya mengembalikan semuanya kepada masyarakat. Menurutnya, bahan tanaman bonsai bisa didapatkan dengan harga puluhan ribu hingga ratusan juta. Tergantung kita sendiri memilih yang mana. Ingin yang merawat dari awal dengan harga miring atau terima jadi tetapi perlu merogoh kocek dalam-dalam.

Meskipun begitu, mereka menyarankan untuk memulai dari “bermain” bonsai dengan bahan yang murah dahulu. Merawat dari awal. Perlahan-lahan dengan diimbangi ketekunan tinggi. Pasalnya, di situlah seni merawat bonsai yang sebenarnya.

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia