Minggu, 18 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

JPU Tuntut Pelaku Utama Pembunuhan Mak Mentil 14 Tahun Penjara

09 Agustus 2019, 19: 15: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

pengadilan pembunuh mak mentil

HADAPI TUNTUTAN: Dedyk Asmawan mengenakan rompi tahanan ketika akan disidang di Pengadilan Negeri (PN) Kota Kediri. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Duo terdakwa pembunuh Sukinem alias Mak Mentil, 72, pemulung yang tinggal di kios Pasar Setonobetek, hadapi tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Kota Kediri, kemarin. Namun jaksa penuntut umum (JPU) menuntut keduanya, Dedyk Asmawan, 26, dan Ahmad Setyawan, 25, berbeda.

          Dedyk yang dianggap pelaku utama dituntut 14 tahun penjara. Sedangkan, Setyawan hanya dua tahun. Pasal yang dikenakan JPU Anggi Luberti terhadap dua pemuda yang masih bertetangga di Desa/Kecamatan Pagu itu pun tak sama.

Dedyk dijerat tiga pasal. Untuk dakwaan primer, dia kena pasal 338 dan 339 KUHP tentang pembunuhan. Sedangkan untuk dakwaan subsider, pasal 365 ayat 3 tentang pencurian dengan kekerasan.

pembunuhan mak mentil

SIDANG: Ahmad Setyawan saat di pengadilan. (Dwiyan - radarkediri.id)

Sementara yang dikenakan pada Setyawan adalah pasal 55 ayat 1 KUHP tentang penyertaan. Dia dianggap ikut serta terlibat tindak pidana pencurian dengan kekerasan.

Dalam tuntutannya, Anggi mengungkap sejumlah pertimbangan. Yang memberatkan, perbuatan Dedyk mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Sedangkan yang meringankan, dia bersikap sopan, berterus terang serta mengakui perbuatannya. “Terdakwa juga belum pernah terkena kasus hukum,” jelasnya.

Usai JPU membacakan tuntutan, Hakim Ketua Yuliana Eny Daryati memberi kesempatan terdakwa untuk menanggapi. Dedyk melalui penasihat hukum (PH)-nya, Sandro Welly Adrian, menyatakan, akan mengajukan pembelaan.

Setelah mendengar tanggapan tersebut, majelis hakim pun menutup sidang. “Sidang selanjutnya kembali digelar Minggu depan. Agendanya pembacaan pembelaan,” tutur Yuliana.

Sementara itu, Sandro mengaku, keberatan dengan pasal yang digunakan untuk Setyawan. Menurutnya, tuntutan tersebut terlalu rendah jika mengacu pada isi pasalnya. “Kami akan siapkan pembelaan dan akan kami laporkan tuntutan JPU ini ke kejati (kejaksaan tinggi),” terangnya.

Sesuai pasal 55 ayat 1 KUHP yang menjerat Setyawan, menurut Sandro, seharusnya sanksi minimalnya sepertiga hukuman pokok. “Kalau mengacu pasal tersebut, mestinya dia dituntut minimal 8 tahun penjara,” urainya.

Berdasarkan fakta persidangan, pembunuhan itu terjadi pada 28 Januari 2019. Malam itu, Dedyk mendatangi kios Mak Mentil. Dia mengajak berhubungan badan. Sekitar 15 menit kemudian, Mak Mentil yang kelelahan ketiduran. Saat itulah, Dedyk melihat tempat kekasihnya menyimpan perhiasan dan dompet di kain setagen.

Dari situ timbul niat jahatnya. Sekitar pukul 03.00, dia membekap mulut Mak Mentil dengan kain yang dibawanya dari rumah. Karena korban meronta dan berteriak, akhirnya Dedyk mencekik lehernya. Setelah sang kekasih tewas, Dedyk mengambil kalung dan cincinnya. Padahal semasa hidup, Mak Mentil sering memberinya uang.

Persidangan Dedyk dan Setyawan di gelar di ruang yang sama, yakni di ruang Candra PN Kota. Setyawan disidang terlebih dahulu sekitar pukul 11.05. Dia dituntut dua tahun penjara. JPU menggapnya terlibat melakukan pencurian dengan kekerasan (curas) yang menyebabkan nyawa orang lain hilang.

“Pertimbangan yang memberatkan, perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat dan terbukti ikut serta dalam tindak pidana,” ungkap JPU Anggi.


(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia