Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Gladiators, Relawan Penjaga Pintu Masuk Stadion Brawijaya

Terdesak Suporter, Kepala Benjol

09 Agustus 2019, 18: 51: 29 WIB | editor : Adi Nugroho

gladiator

JAGA SUASANA : Koko dan anggota Gladiators memeriksa suporter Persatu Tuban sebelum memasuki ke Stadion Brawijaya, Senin (29/7) (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Setiap kali Persik bertanding, mereka selalu berada di garda depan Stadion Brawijaya. Berada di pintu masuk stadion. Ikut memeriksa suporter yang hendak masuk. Itu mereka lakukan sejak 2003.

IQBAL SYAHRONI

Siang itu,  belasan ribu suporter Persik Kediri sudah membanjiri sekeliling Stadion Brawijaya, Kota Kediri. Mereka berjejal di pintu-pintu masuk stadion. Hasrat menyaksikan tim kesayangan mereka, yang saat itu akan menghadapi Persatu Tuban, sudah membuncah. Beberapa kali terlihat arus saling desak. Tanda ingin segera masuk ke stadion.

Upaya suporter itu masih tertahan. Mereka harus melewati para petugas di pintu-pintu masuk. Mulai dari yang berseragam satpol PP, polisi, hingga berseragam panpel. Di antara para petugas keamanan dan portir itulah terselip beberapa pria berbadan kekar. Mengenakan kaus warna hitam berkerah.

Para pria berotot itu melakukan pengecekan ke suporter yang hendak masuk. Melihat tiketnya. Kemudian juga memeriksa barang bawaannya. Bila ada benda terlarang akan disita.

Para pria berbadan besar itu adalah anggota Gladiators. Mereka ini relawan yang membantu panpel menjaga keamanan selama pertandingan. Terutama di pintu-pintu masuk. Karena itu, keberadaan mereka ada di setiap pintu gerbang.

“Sebelum (suporter) dicek oleh panpel di dalam, kami cek dulu dari sini,” ucap Eko Agus Koko, salah seorang lelaki berbadan kekar itu.

Koko adalah ketua Gladiators. Saat itu dia berjaga di pintu tempat suporter tamu masuk. Tepatnya di gerbang utama sisi selatan.

Pria beralamat di Bendon, Kelurahan Banjaran, Kota Kediri itu mengaku kegiatan berjaga di depan Stadion Brawijaya adalah murni untuk membantu jalannya pertandingan. Agar tidak terjadi kerusuhan selama pertandingan berlangsung. Apalagi, tahun ini, setiap botol plastik tidak boleh dibawa. Menyusul beberapa kejadian pelemparan botol plastik ke lapangan telah terjadi.

Selama bertugas, pasti ada cerita suporter ngeyel. Namun, sebagai ketua dia sudah mewanti-wanti agar anggota Gladiators tak terpancing emosinya. “Alhamdulillah, selama ini tidak pernah ada insiden adu fisik antara anggota (Gladiators) dan suporter,” terangnya.

Padahal, kerja mereka itu selalu menyerempet bahaya. Mereka sering mendapat ancaman. Yang muncul akibat ketegasan mereka menjaga pintu masuk. Seperti menolak memasukkan orang yang tidak memiliki tiket.

Pernah ada suporter yang mengancam bakal menggeruduk anggota Gladiators. “Saya tunggu hingga stadion sepi, yang mengancam tidak datang-datang. Padahal saya tidak pindah ke mana-mana, tetap di pintu itu,” kenangnya.

Belum lagi risiko cedera. Seperti suatu saat kepalanya terbentur gerbang pintu ekonomi. Saat itu antrean suporter begitu panjangnya. Mereka menunggu panpel menyobek tiket agar bisa masuk. Tiba-tiba terjadi aksi dorong. Untuk menghindari kebobolan penonton, mereka pun menutup gerbang. Hanya membukanya separo bagian saja. Namun, apa daya, desakan suporter semakin kuat. Tubuh Koko terdesak ke gerbang. Kepala dan badannya langsung menghantam pintu besar itu.

“Keesokan harinya, ada sampai seminggu, kepala saya benjol. Tidak kunjung sembuh,” ujarnya sembari tertawa mengingat-ingat masa itu.

Pria yang tahun ini berumur 50 tahun ini juga menjelaskan bahwa awalnya ia memulai Gladiators hanya untuk berkumpul dengan seluruh pemuda yang memiliki satu hobi. Memang  yang tergabung di Gladiators adalah para atlet angkat besi dan binaraga. Koko sendiri adalah seorang atlet angkat besi. Hingga saat ini anggotanya adalah para pemuda dari latar belakang hobi yang berbeda-beda.

Kelompok ini memulai pada 2003 silam. Kelompok yang namanya akronim dari Gerak langkah anak Kediri terorganisir ini, masih setia menjaga pintu gerbang di Stadion Brawijaya.

Koko menegaskan bahwa niatnya dari awal adalah untuk membantu secara ikhlas tanpa dibayar. Niat baiknya itupun juga mendapat atensi dari pihak Persik Kediri. “Sejak beberapa tahun berjaga di depan pintu mulai 2003, sekarang sudah diberikan uang makan siang untuk berjaga setiap ada pertandingan,” terangnya.

Bahkan, tidak hanya pertandingan Persik Kediri saja. Koko dan Gladiators juga melakukan penjagaan di setiap pertandingan klub apapun. Mulai dari pertandingan tanpa penonton, hingga pertandingan Arema melawan Persiwa pada 2008 silam. Yang berbuntut kerusuhan hingga merusak Stadion Brawijaya.

“Tujuan kami juga untuk membantu menjaga dan melestarikan stadion kebanggaan ini (Brawijaya, Red), agar tidak terulang lagi kerusuhan seperti 2008 lalu,” imbuhnya.

Mereka tetap setia dengan pekerjaannya itu. Meskipun teriakan gol dan chant-chant dari Persik Kediri hanya bisa mereka dengarkan. Demi tugas yang ia lakukan secara sukarela berasama dengan anggotanya ini, Koko terus memberikan semangat positif untuk terus menjaga dan mengawal Persik Kediri dan stadion kebanggaan, Stadion Brawijaya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia