Jumat, 17 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Events

Inovasi Para Peserta Anugerah Desa: Pijat hingga Briket Sampah

09 Agustus 2019, 18: 47: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

anugerah desa

AKUPRESURE: Bidan Desa Wates Sutiyem memeragakan teknik akupresure kepada Rozi, salah seorang juri. (Puspitorini Dian - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Posyandu yang satu ini bukan sembarang posyandu. Sebab, di posyandu ini khusus untuk para penyandang orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Tak hanya berisi pemeriksaan kesehatan, juga tentang berbagai kegiatan keterampilan.

“Kami memperlakukan para ODGJ seperti yang lainnya. Sehingga terbiasa berbaur,” jelas Ketua Posyandu Jiwa Desa Semen, Kecamatan Pagu Kamdani.

Keterampilan yang diberikan pun bermacam-macam. Mulai membuat keset dari kain perca hingga membuat pita untuk hiasan. Meski harus terus didampingi, para ODGJ terlihat bersemangat. Diakui Kamdani, semangat inilah yang membuat para ODGJ berangsur-angsur sembuh dan bisa beraktivitas.

Anugerah Desa 2019

Anugerah Desa 2019 (radarkediri.id)

Perubahan-perubahan inilah yang diakui Kamdani melegakan. Sebab, Desa Semen tercatat memiliki jumlah ODGJ tertinggi di Kecamatan Pagu. Jumlahnya adalah 26 orang. Dari jumlah ini, sebanyak 13 orang termasuk aktif dan membentuk kelompok terapi.

Kondisi ini juga diakui oleh Ida Nuria, kades Semen. Karena itulah, desa menggelontorkan sejumlah dana untuk Posyandu ODGJ tersebut. Totalnya sekitar Rp 7,5 juta. Selain memberikan honor untuk kader posyandu, juga pemberian makanan tambahan agar gizi para ODGJ terpenuhi. “Pemantauan kami, adanya ODGJ juga dipicu adanya kekurangan gizi,” jelas Ida.

Sementara di Desa Wates, Kecamatan Pagu juga mengajukan diri di kategori pelayanan kesehatan dengan program Asuhan Mandiri Pemanfaatan Toga (Asman). Menurut Ketua Kader Asman Sri Supeni, program ini bertujuan untuk memelihara, menjaga, mempertahankan dan meningkatkan status kesehatan dengan mengolah tanaman Toga. Mulai dari pembuatan minuman hingga pelatihan untuk pijat untuk penyembuhan sakit ringan. “Tujuannya adalah mengurangi obat-obatan kimia,” terangnya.

Sedangkan di Desa Bangkok, Kecamatan Gurah menawarkan program wisata edukasi dengan memanfaatkan lokasi tempat pengolahan sampah terpadu (TPST). Selain pengembangan briket sampah, juga pengembangan bibit hingga akhirnya jadi tempat wisata dengan memamerkan aneka tanaman hias. “Program ini telah kami mulai sejak 2016,” terangnya.

Program yang sudah menghabiskan dana hingga lebih setengah miliar ini akhirnya diajukan sebagai program inovasi untuk kategori pengelolaan lingkungan di Anugerah Desa 2019.

Titik lainnya yang didatangi tim juri Anugerah Dsa adalah Desa Gayam, Kecamatan Gurah. Di desa ini mengajukan kategori pelayanan administrasi masyarakat. Layanan online menjadi andalah desa ini, khususnya untuk layanan KK, KTP, akta.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia