Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Bukan Saos

09 Agustus 2019, 18: 28: 20 WIB | editor : Adi Nugroho

saos

Sego Tumpang (radarkediri.id)

Share this          

Bosen. Jika ndak kuat, tahap selanjutnya menjadi nggrundel. Jika masih ndak kuat juga, bisa naik lagi. Menjadi marah. Yang tahap puncaknya adalah anarki. Yang di dalamnya ada amuk. Yang jika tidak terkendali menjadi chaos.

Untunglah. Jika ndak kuat ngempet bosen, ekspresi lanjutan Dulgembul hanya sampai nggrundel. Kalaupun meningkat menjadi marah, tahapannya ndak sampai anarki. Paling banter hanya mbesengut. Alisnya gathuk. Bibirnya nyaprut limang senti. Lalu pergi. Sambil ngomel-ngomel.

Biasanya, itu terjadi jika dia sudah ndak kuat nahan lapar. Sementara, antrean sego tumpang di warung Mbok Dadap terlalu panjang. Nunggu giliran dilayani ndak juga sampai. “Mboookkk..sik suwe to?!,” tanyanya setengah berteriak membuat orang-orang yang antre lebih awal langsung menatap tajam ke arahnya.

Makan di warung sego tumpang yang enaknya sak ndonya seperti itu memang ndak cukup berbekal lapar. Salah-salah malah bisa mbesengut kayak Dulgembul. Mau marah apalagi anarkistis justru ndak pantes. Lha wong produknya Mbok Dadap memang layak untuk diantre. Layanannya juga sudah maksimal: kecepatannya, kebersihannya, keramahannya. Tapi, yang antre memang ndak habis-habis.

Yang cuma berbekal lapar, memang lebih baik mencari alternatif ke warung lain. Meski, dengan risiko standar rasa berbeda. Sebab, kalaupun dipaksakan tetap antre, segala kelezatan yang ditawarkan sego tumpang Mbok Dadap bisa hilang. Lenyap oleh kemarahan.

“Masakan yang dibuat dengan hati riang juga harus dinikmati dengan hati yang diliputi kegembiraan. Agar dapat menemukan kelezatan dan kenikmatan di baliknya,” kata Kang Noyo yang biasa menunggu antrean sambil rengeng-rengeng di pojokan.

Makanya, kalau sudah diniati berburu sego tumpang Mbok Dadap, harus ada bekal lain. Di luar lapar. Apa? Kesabaran. Ini penting agar keriangan dan kegembiraan menyantap lezatnya hidangan si Mbok itu ndak hilang. Apalagi jika perginya di jam-jam yang antreannya sak hohah: sarapan atau makan siang.

Masalahnya adalah jika yang diantre bukan sego tumpang. Tapi, layanan umum. Yang hanya ada pada instansi milik pemerintah. Yang ndak ada alternatif tempat lain untuk mencarinya. Yang mau ndak mau ya hanya di situ.

Maka, rasa lapar justru sama sekali tidak dianjurkan untuk menjadi bekal. Sebaliknya, sejak melangkah keluar rumah, perut harus dipastikan sudah menerima asupan dalam jumlah yang cukup. Kalau perlu sambil mbontot. Sebab, antrean pasti terjadi dan tidak mengenal jam. Lha wong memang itu satu-satunya tempat yang bisa dituju.

Apalagi di instansi-instansi yang belum punya atau belum menerapkan sistem layanan baik. Yang lebih suka membuat antrean memanjang daripada memecahnya. Yang ndak risi melihat pengantre berdiri dan bergerombol daripada menyediakan tempat duduk yang nyaman dalam jumlah yang cukup. Yang petugas-petugasnya masih suka pasang tampang galak daripada menebar senyum.

Untuk ke instansi-instansi yang masih seperti itu, bekal yang harus dibawa banyak-banyak adalah kesabaran. Sambil mbontot makanan. Sambil nyangking bahan bacaan. Sambil sangu powerbank dan earphone buat dengar musik. Kadang juga harus bawa tikar dan bantal. Agar dapat nomor antrean 1.

Dengan begitu, menunggu antrean tetap terasa menyenangkan. Izin atasan untuk tidak masuk atau terlambat datang ke kantor pun terasa izin untuk liburan. Serasa piknik di tengah-tengah kerumunan antrean. Sehingga, hati yang dingin tetap terasa sejuk.

Hati yang dingin ndak akan gampang bosen. Ndak gampang nggrundel. Sebab, jika sudah nggrundel, tahapan selanjutnya bisa ngeri. Marah. Anarkis. Ngamuk. Dan, dalam kerumunan, semua itu bisa cepat menular. Lalu, menjadi chaos. Ya, chaos. Bukan saos. Yang biasa untuk bakso –bukan sego tumpang—itu... (tauhid wijaya)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia