Minggu, 18 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Pilih Berpisah karena Tidak Dinafkahi

Angka Perceraian di Nganjuk Capai Ribuan

09 Agustus 2019, 12: 41: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

Cerai

(Grafis : Nakula Agie Sada - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Jumlah janda dan duda di Kabupaten Nganjuk terus bertambah. Dalam dua tahun terakhir, angka perceraian di Kota Angin mencapai ribuan kasus. Meski sempat dimediasi oleh mediator di Pengadilan Agama (PA), upaya tersebut lebih banyak mengalami kegagalan.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk, perempuan mendominasi gugatan cerai kepada suaminya. Tahun ini, jumlah cerai gugat (pihak perempuan) mencapai 1.059 kasus. Sedangkan cerai talak (pihak laki-laki) sebanyak 367 kasus. Dari jumlah itu, PA Kabupaten Nganjuk sudah memutus perkara masing-masing untuk cerai gugat sebanyak 995 kasus dan cerai talak 328 kasus.

Panitera PA Kabupaten Nganjuk Zainul Hudaya mengatakan, kasus perceraian tahun lalu tidak kalah banyak. Jumlahnya mencapai lebih dari 2.000 kasus. “Cerai gugat dari perempuan memang yang paling banyak,” ungkap Zainul.

Apa yang menjadi pemicu perceraian di Kabupaten Nganjuk? Zainul berujar, faktor ekonomi menjadi penyebab terbesar suami istri ingin berpisah. Dalam kasus tersebut, biasanya suami tidak menafkahi sang istri. “Atau bisa pula ada kesenjangan antara pendapatan istri dan suami,” terangnya.

Selain itu, perselisihan yang terus menerus dalam rumah tangga menyebabkan suami atau istri menggugat cerai. Zainul juga menyebut, ada pula suami atau istri meninggalkan salah satu pihak. “Pergi tapi tidak pernah pulang,” lanjutnya.

Faktor lain adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan, judi, mabuk, kawin paksa dan perbedaan keyakinan. Dalam persidangan perkara perceraian, PA tetap berusaha untuk menyambungkan kedua belah  pihak. Karenanya, ada upaya mediasi dari mediator.

Namun, sebagian besar upaya tersebut gagal. “Lebih banyak gagalnya. Karena biasanya keputusan suami istri sudah bulat untuk berpisah,” tegas Zainul.

Apalagi, dalam beberapa kasus, menurut Zainul orang tua dan keluarga ikut turut campur untuk memisahkan keduanya. Sehingga, suami istri semakin sulit untuk rujuk kembali.

Zainul menjelaskan, dari 363 mediasi yang dilakukan, sebanyak 354 di antaranya gagal. Hanya sembilan kasus saja yang akhirnya memutuskan untuk merajut hubungan rumah tangga lagi. Biasanya, suami istri masih saling mencintai. Tetapi, karena emosi sesaat akhirnya mengajukan permohonan cerai ke pengadilan.

Di luar faktor itu, Zainul mengungkapkan, masa depan anak-anak mereka menjadi pertimbangan utama. “Faktor anak memang nomor satu suami istri mau bersatu kembali,” tandas pria asal Kabupaten Sidoarjo ini.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia