Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Harga Bawang Merah Anjlok Lagi

09 Agustus 2019, 12: 28: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

Bawang

KUALITAS BAIK: Akad, petani bawang merah asal Rejoso menunjukkan hasil panenan yang tahun ini sangat baik. Produktivitas tanaman juga naik meski harga jelang panen raya justru anjlok dan petani terancam rugi. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

REJOSO, JP Radar Nganjuk- Jelang panen raya, petani bawang merah harus bersiap menanggung rugi. Pasalnya, harga bawang merah di pasaran kemarin hanya Rp 7 ribu hingga Rp 8 ribu per kilogram.

Ketua Gapoktan Luru Luhur Desa Sukorejo, Rejoso Akad mengatakan, dua minggu ke depan para petani bawang merah di Nganjuk mulai panen raya. “Tetapi sekarang harga bawang merah malah anjlok lagi,” ujar Akad ditemui koran ini kemarin.

Lebih jauh pria yang juga ketua Asosiasi Petani Bawang Merah Indonesia (APBMI) Jawa Timur itu mengungkapkan, produktivitas panenan bawang merah tahun ini sangat baik. Dia memprediksi dari tiap satu hektare tanaman akan menghasilkan sekitar 16 ton.

Bawang

CEK LAPANGAN: Kabid Hortikultura Dispertan Agus Sulistiyono (kanan) mengecek panenan bawang merah di Rejoso, kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

Jumlah itu, lanjut Akad, jauh di atas target dinas pertanian. Yaitu, sekitar 12 hingga 13 ton per hektare. Sayangnya, produktivitas bagus itu tak sebanding dengan harga di pasaran yang justru jeblok.

Padahal, menurut hitungan kakek dua cucu ini, para petani baru bisa meraup untung jika harga bawang merah mencapai Rp 12 ribu per kilogram. “Kalau sekarang (harga Rp 7-8 ribu per kilogram, Red) jelas rugi,” keluhnya.

Untuk memperkecil kerugian, menurut Akad petani bisa melakukan tunda jual dengan menyimpan panenan di gudang. Meski, diakuinya tidak semua petani bisa melakukan hal itu. “Kalau yang tidak kuat pasti dijual karena butuh modal lagi untuk memutar uangnya,” ungkapnya.

Lebih jauh Akad menuturkan, kebanyakan para petani bawang merah menjual tanamannya dengan sistem borongan. Ada pula yang bekerja sama dengan perusahaan. “Saat harga anjlok, uang muka dari pembeli dikurangi. Tapi kalau harga naik, petani tidak mendapat uang tambahan,” urainya sembari menyebut posisi petani sangat lemah.

Adapun petani yang bekerja sama dengan perusahaan, sering kali mendapat pembayaran yang terlambat. Padahal, mayoritas petani butuh modal mereka kembali dengan cepat agar bisa menanam bawang merah lagi.

Dengan berbagai permasalahan itu, Akad berharap pemkab bisa melindungi petani Nganjuk. Terutama, agar tidak selalu merugi saat panen raya setiap tahunnya.

Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Agus Sulistiyono yang kemarin mengecek bawang merah di sawah mengatakan, anjloknya harga brambang diduga akibat panenan serentak dari beberapa daerah sentra. Mulai Brebes, Jawa Tengah, serta Bima, Nusa Tenggara Barat. “Stok di pasaran melimpah. Nganjuk panennya agak telat,” tandasnya.

Terkait keluhan petani tentang perbaikan sistem penjualan, Agus mengatakan, pemkab akan berupaya mencarikan solusi. “Kami akan koordinasi dengan dinas perindustrian dan perdagangan,” urainya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia