Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Pukul dengan Asbak

Akui Bunuh Anaknya, Sumiatun Langsung Ditahan

08 Agustus 2019, 12: 41: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

Bayi

(Grafis : Nakula Agie Sada - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Nganjuk-Perbuatan sadis Sumiatun, 27, terhadap bayi yang baru dilahirkannya Minggu (4/8) dini hari lalu, akhirnya terungkap. Perempuan asal Kelurahan Payaman, Kota Nganjuk itu mengakui telah membunuh anak keduanya itu dengan cara yang kejam. Polisi langsung menetapkannya sebagai tersangka dan menahan perempuan bertubuh gendut tersebut.

Kasatreskrim Polres Nganjuk Iptu Nikolas Bagas Yudhi Kurniawan mengatakan, dalam pemeriksaan sejak Selasa (6/8) lalu, Sumiatun mengakui terus terang perbuatannya. “Tersangka membunuh bayi yang dilahirkannya karena tidak ingin punya anak lagi,” ujar perwira dengan pangkat dua balok di pundak itu.

Karenanya, Sumiatun nekat menghabisi nyawa bayi yang baru dilahirkannya itu dengan cara yang sadis. Bayi seberat 2,87 kilogram itu dipukul menggunakan asbak beton hingga lima kali. “Dipukul di kepala dan dada,” lanjut pria yang akrab disapa Niko ini.

Bayi

(Grafis : Nakula Agie Sada - radarkediri.id)

Melihat bayi berjenis kelamin perempuan itu belum meninggal, Sumiatun langsung kalap. Dia memasukkan bayi merah itu ke dalam kresek warna hitam. Rupanya, bayi sepanjang 53 sentimeter itu tetap hidup. Terakhir, Sumiatun menjerat lehernya menggunakan celana pendek hingga tewas.

Setelah anak malang itu tewas, Sumiatun meletakkan mayat bayi di bawah kolong tempat tidur. Kemudian, dia membangunkan M. Imam Shodiq, 27, suaminya yang sedang tidur.

Melihat istrinya berdarah, pria yang bekerja menjaga sebagai tukang parkir ini mengira Sumiatun keguguran. Minggu dini hari lalu Shodiq juga sempat melihat ari-ari bayi.

Dia pun memutuskan untuk membawa istrinya berobat ke RSUD Nganjuk sekitar pukul 09.00. “Tersangka sengaja menutupi kehamilannya. Tidak pernah periksa ke bidan atau dokter,” terang Niko sembari menyebut tubuh Sumiatun yang gendut membuatnya mudah menyembunyikan kondisi kehamilannya.

Seperti diberitakan, Sumiatun dilarikan ke RSUD Nganjuk sekitar pukul 09.00 Minggu lalu. Kepada tim medis, dia mengaku keguguran. Dalam pemeriksaan lanjutan tim medis curiga dengan keterangan Sumiatun. Terutama, setelah mereka melihat ari-ari bayi yang seberat 500 gram.

Ukuran ari-ari mengindikasikan jika bayi lahir dalam kondisi besar alias tidak prematur. Dari sana muncul berbagai dugaan. Karenanya, tim medis RSUD Nganjuk memilih melapor ke Polsek Nganjuk Kota.

Kejanggalan semakin jelas terlihat saat tim dari Polsek Nganjuk Kota melakukan olah tempat kejadian perkara. Dari sana diketahui jika leher bayi dalam kondisi terikat kain.

Kepastian bayi tewas karena dibunuh diketahui dari hasil visum. Tim dokter RS Bhayangkara menyebutkan, bayi malang itu lahir dalam kondisi hidup. Mereka juga menemukan bekas luka di dada, kepala dan leher bayi akibat pukulan benda tumpul.

Akibat perbuatannya itu, Sumiatun diancam pasal 80 ayat 3 UU Perlindungan Anak atau pasal 341 KUHP tentang pembunuhan bayi. Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. “Nanti kami akan lakukan rekonstruksi ulang,” tegas perwira yang sebelumnya berdinas di Polda Jatim ini.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia