Senin, 16 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Events

Jajanan Ndeso ala Pasar Sor Pring di Mojo

05 Agustus 2019, 13: 31: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

pasar sor pring mojo

NIKMAT: Kades Ngadi Eko Margono (kiri) di Pasar Sorpring di desanya. (Bagus Choco - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Sudah pernah merasakan tape pecel? Bila belum, ada baiknya mendatangi DesaWisata Jajanan Ndesa Sor Pring di Desa Ngadi, Kecamatan Mojo. Karena di pasar yang hanya buka hari Minggu ini menu-menu seperti itu tersedia.

Tape pecel hanyalah satu dari sekian banyak jajanan ndesa yang ada di tempat ini. Sesuai namanya, semua jajanan dijual di antara rerimbunan pohon bambu. Suasana benar-benar dibuat ndesa dengan penjual juga berpakaian khas dan tempat berjualan yang unik, serba dari bambu. Dan yang membuat semakin menarik, harga semua jajanan sangat murah. Di kisaran Rp 1.000 hingga Rp 3 ribu.

“Di sini, sangu Rp 20 ribu sudah sangat kenyang,” kelakar Basuki Eko Margono, kepala Desa Ngadi seraya tertawa. Padahal, mengingat awal membuka tempat wisata ini di awal 2019, Eko mengaku harus susah payah meyakinkan warganya.  “Awalnya dianggap gila, sampai tiga kali harus ada pertemuan, sampai akhirnya percaya meski ragu,” tuturnya.

Karena itulah, pada saat pembukaan, dia hanya mampu mengumpulkan sekitar 31 pedagang. Itupun sedikit ada ‘paksaan’ ke warga. “Ternyata hari pertama membeludak, baru dibuka satu jam, dagangan sudah ludes,” terangnya.

Kini, tak lagi perlu memaksa. Total ada 98 kios pedagang jajanan yang meramaikan pasar. Tiap minggu, pembeli yang datang mencapai 5 ribu orang. Pendapatan dari parkir dan para pedagang mencapai jutaan rupiah.

Karena perkembangan yang pesat inilah akhirnya Desa Ngadi mengajukan diri pada lomba Anugerah Desa untuk kategori pengelolaan wisata. “Ini pengalaman pertama saya,” ucap Eko saat menyambut juri Anugerah Desa, kemarin.

Tak hanya mendatangi Desa Wisata Jajanan Ndeso Sor Pring, tim juri juga mengunjungi Desa Kawedusan, Kecamatan Plosoklaten. Ada wisata English Fun dan Peken Godhong yang ditawarkan desa ini.

Seperti halnya Desa Ngadi, di desa ini wisata Peken Godhong hanya ada pada hari Minggu. Di tempat ini, untuk membeli semua dagangan harus menggunakan daun yang sudah distempel khusus sebagai tanda.

Pembeli cukup menukarkan uang dengan daun dengan kisaran Rp 2.500 per 1 lembar daun. Nantinya, para pedagang menukar daun yang diterimanya dengan komisi 10 persen untuk panitia. “Selisih itu kami gunakan untuk mengembangkan peken godhong dan membayar mentor English Fun,” jelas Kepala Desa Kawedusan Dedy Santoso.

Menurut Dedy, pihaknya membentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis) untuk mengembangkan wisata Peken Godhong tersebut. Sebab, pasar ini memiliki potensi besar pengembangan wisata dengan menggandeng Kampung Inggris. Dia merekrut anak muda desa dan warga sekaligus mempromosikan sejumlah potensi desa sebagai paket wisata desa. “Lumayan, peminatnya banyak,” jelasnya.

Berbagai usaha pengembangan inilah yang selanjutnya menjadi dasar dirinya mengajukan desanya dalam kategori Inovasi Terbaik Kategori Pengelolaan Wisata.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia