Jumat, 20 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Alice Setya Salsabila, Pendongeng Cilik yang Jago Akting

Berteriak Keras Dulu agar Tidak Deg-degan

05 Agustus 2019, 13: 19: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

pendongeng cilik cerita panji

BERBAKAT: Alice bersama sang bunda dan gurunya, Nono (kiri) usai tampil pada Seminar Cerita Panji di Museum Airlangga (14/7). (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

 Bakat seni melekat pada bocah sebelas tahun ini. Setiap kali naik panggung dia selalu percaya diri. Mendongeng cerita klasik dari tanah Jawa.

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kota, JP Radar Kediri

“Panji Laraaassss!!!”  Bunyi teriakan itu berasal dari balik panggung Seminar Panji, Minggu (14/7). Melengking nyaring. Membuat peserta seminar di Museum Airlangga Kota Kediri itu menggerakkan kepala. Berusaha mencari sumber suara.

Tiba-tiba menyusul teriakan, “Inu Kertapati!” Sahutan ini keluar dari mulut gadis kecil. Nadanya naik-turun. Sang bocah itu berjalan dari arah belakang peserta seminar.

Gadis kecil itu adalah Alice. Lengkapnya Alice Setya Salsabila. Di tangan bocah ini membawa anak wayang berbentuk ayam jago. Setelah itu dia dengan lantang mendongeng cerita Panji Laras di hadapan banyak orang.

Penampilannya saat itu sangat total. Kata demi kata terucap dengan lugas. Irama setiap bait mengalun menyesuaikan situasi apa yang diceritakan.

Menurut Alice, ada satu bait di tengah cerita yang sangat sulit. Dia butuh waktu latihan berulang-ulang agar bisa sesuai apa yang diinginkan. “Anak manis yang pemberani,” ujar Alice saat ditanya kata yang dianggapnya sulit tersebut.

Alice mengatakan bahwa kata tersebut harus menggunakan nada yang bergelombang. Dia harus berlatih berulang-ulang agar bisa memadukan nada yang tepat.

Alice termasuk anak yang percaya diri di hadapan banyak orang. Tidak seperti sebagian besar bocah, bahkan orang dewasa. Alice mengaku tak merasa canggung dan selalu tampil dengan leluasa.

Sebenarnya, apa resep dari kepedeannya itu? Alice mengungkapkan bahwa pertama yang ia lakukan sebelum naik panggung adalah dengan cara teriak sekeras mungkin. Atau bisa juga saat menceritakan sesuatu, kata yang pertama harus dengan teriakan.

“Kata pertama harus teriak keras. Setelah itu baru plong dan tidak deg-degan lagi,” kata gadis kelas 6 SD ini.

Ia mengaku dahulu pernah deg-degan saat naik panggung. Kala itu dalam lomba story telling. Penyebabnya karena ia lupa tidak teriak di awal kalimat. Sejak saat itu ‘ritual’ teriak keras di awal penampilan tak pernah dia tinggalkan.

Sejauh ini cukup banyak cerita yang ia dongengkan. Di antarannya adalah Calonarang, Lembu Suro, dan Dewi Songgolangit. “Yang pertama adalah Calonarang, saat lomba di Dinas Kearsipan,” kenangnya.

Anak pasangan Dewi Setiana dan Handri Setyawan ini sejak kecil telah percaya diri. Sejumlah prestasi ia raih. Termasuk memenangi lomba story telling dengan judul singa dan tikus. Pernah juga mewakili Pildacil tingkat kota dan provinsi.

Bakat Alice ini ternyata muncul karena sang kakek sering mendongeng sebelum tidur. “Kalau kecil pede dalam menari. Kadang di depan kaca cerita sendiri, cerita pada boneka, yang suruh jadi penonton,” ujar Dewi Setiana, ibunda Alice.

Bakat yang jarang dimiliki kebanyakan anak ini membuat Dewi sangat mendukung Alice. Apalagi anak semata wayangnya ini juga suka membaca. Terutama membaca kisah sejarah dan dongeng. “Biasanya kalau di rumah itu diceritakan ke saya dulu. Beli buku dulu dan diceritakan. Selalu seperti itu hingga dia lancar mendongeng,” ungkapnya.

Tak hanya orang tua, Nono Emje, guru Alice juga bangga. Ia menyebut bahwa bakat yang dimiliki Alice sangat luar biasa di usianya yang masih belia. “Anak seusia dia bisa akting dengan baik. Gesturnya juga bagus dalam memperagakan dongeng,” jelasnya.

Ia menganggap ini merupakan salah satu kekayaan anugerah yang diberikan untuk anak-anak Indonesia. Khususnya bagi Kota Kediri. Menjadi aset berharga yang bisa dijadikan modal. Bahkan dalam hal bahasa Inggris Alice juga juaranya. Menjadi contoh anak berprestasi. Yang patut diapresiasi adalah tetap melestarikan dongeng tradisional dan sejarah. Mengenalkan kearifan lokal yang ingin di bawanya ke kancah Internasional.  

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia