Rabu, 22 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Melihat Budi Daya Mina Padi di Desa Cerme, Kecamatan Pace

Pasang Pagar setelah Ikannya Sering Dicuri

04 Agustus 2019, 20: 05: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

mina padi

MENGUNTUNGKAN: Mujiarto menunjukkan lahan tempat menanam padi sekaligus budi daya ikan gurami miliknya di Desa Cerme, Pace. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

Mina padi belum banyak dipraktikkan oleh petani di Nganjuk. Dari segelintir itu, Mujiarto salah satunya. Sejak setahun lalu, pria asal Desa Cerme, Kecamatan Pace itu mengenalkan konsep integrasi pertanian dengan budi daya ikan di satu lahan.

ANWAR BAHAR BASALAMAH

Lokasinya di tepi jalan Dusun/Desa Cerme, Kecamatan Pace. Dari jalan raya Kediri-Nganjuk, jaraknya hanya sekitar 200 meter ke arah utara. Di lahan seluas 1.500 meter persegi itulah, Mujiarto mengembangkan integrasi pertanian dan budi daya ikan yang biasa disebut mina padi.

Sabtu siang lalu (27/7), di tempat budi daya, Mujiarto sedang memberi pakan ikan di kolamnya. Sebuah kolam besar yang berisi ribuan ikan gurami berada di sisi barat. Sementara di sisi timur, ada dua kolam yang ditanami padi dengan ukuran yang lebih kecil.

“Setiap hari saya selalu ke sini selepas subuh,” kata Mujiarto mengawali perbincangan dengan Jawa Pos Radar Nganjuk. Sebelum seperti sekarang, Mujiarto dikenal sebagai peternak ikan. Di belakang rumahnya di Dusun Cerme, dia memiliki kolam pembenihan ikan ukuran 10 x 8 meter.

Kolam tersebut dibuat sejak 1996. Saat itu, pria berusia 69 tahun tersebut memang menjual benih ikan gurami. Kecintaan pada budidaya ikan dan pertanian membuat Mujiarto ingin berionovasi.

Kebetulan, dia memiliki lahan seluas 1.500 meter persegi. Di luar kesibukan sebagai pembenih ikan, Mujiarto juga menanam padi di lahan tersebut. “Saya tanami padi dulunya di sini,” kenangnya.

          Dengan ilmu otodidak yang didapat dan beberapa kali mengikuti pelatihan, Mujiarto mulai mencoba mina padi. Sebab, cara tersebut dianggap lebih menguntungkan dibanding pertanian konvensional.

          Mujiarto melakukan uji coba itu. Sebenarnya, dia sudah berhasil mengintegrasikan pertanian dan budi daya ikan. Padi yang ditanam bisa dipanen dalam waktu sekitar 100 hari. Begitu pula ikan gurami yang dibudidayakan. Ikan semakin tumbuh besar setiap minggunya.

          Namun, Mujiarto lupa belum membuat pagar yang mengelilingi lahan tersebut. Akibatnya, seringkali orang mengambil ikannya di sana. Setiap ingin panen, jumlahnya semakin menyusut. “Sering dicuri. Saya anggap sebagai amal,” beber Mujiarto, lantas terbahak.

          Dari pengamalannya tersebut, Mujiarto bisa memetik pelajaran. Akhirnya, pada September 2018, dia mulai serius mengembangkan mina padi. Sekarang, lahan tersebut sudah dipagari. Di bagian belakang, dia membangun pagar tembok yang ditambah dengan kawat berduri. Untuk bagian depan, cukup dengan pagar bambu.

Di lahan tersebut, Mujiarto memiliki tiga kolam besar. Yang paling luas berukuran 24 x 12 meter. Dia sering menyebutnya sebagai embung. Pasalnya, selain ditaburi benih sekitar 4.000 ekor ikan gurami, kolam tersebut juga berfungsi sebagai sumber pengairan sawah di sekelilingnya.

          Dua kolam lain berukuran lebih kecil. Masing-masing  berukuran 30  x 6 meter dan 30 x 4 meter. Di kolam tersebut, bapak tiga anak itu mengintegrasikan pertanian dan budi daya ikan.

          Di kolam yang lebih luas, Mujiarto menabur sekitar 5.000 benih ikan gurami dan nila. Sedangkan kolam di sebelahnya, yang terletak di sisi selatan, ada sekitar 4.000 ekor.

           Dengan konsep mina padi, dia mengakui hasilnya memang lebih menguntungkan. Saat hanya menjadi lahan pertanian, hasil panennya berkisar 3-4 kuintal. Setelah diintegrasikan, dia juga memanen ikan sekitar dua ton dalam setahun. “Sangat menguntungkan karena kita bisa panen padi dan ikan,” ungkap pria tamatan SMK jurusan Teknik Mesin ini.

          Dari sisi ongkos produksi juga lebih murah. Kakek sembilan cucu itu menyebut, dengan mina padi dirinya tidak perlu menyiangi rumput. Sebab bisa dipastikan rumput tidak akan tumbuh di sana.

          Selain itu, serangan hama juga semakin minim. Karenanya, Mujiarto tidak pernah melakukan penyemprotan dengan pertisida. “Tanaman padi lebih sehat,” urainya.

          Hal yang sama juga berlaku untuk budidaya ikan. Dia hanya perlu memberi pakan ikan sekali sehari. Sebab, ikan sudah mendapat pakan alami dari padi seperti keong, cacing kecil, dan wereng. “Kalau di kolam biasa, pakan diberikan sampai tiga kali (dalam sehari),” lanjutnya membandingkan.

          Setelah mina padi berjalan setahun, Mujiarto sudah panen dua kali. Saat ini, tanaman padi memasuki musim tanam ketiga. Dia memerkirakan padi akan dipetik pada akhir bulan depan. “Mudah-mudahan hasilnya bagus,” harap Mujiarto.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia