Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Ketika Gabungan Santri Embongan (Gasebo) Badas Belajar Agama

Sejak Rutin Ngaji, Diajak Nakal Malu Sendiri

04 Agustus 2019, 18: 05: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

gasebo kediri

KOLEKTIF: Budi (kiri), Asep (kanan), dan anggota Gasebo turut meramaikan lapak yang ada di event Kediri Scooter Festival 2019, GOR Jayabaya, Kota Kediri. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Mantan “anak-anak nakal” asal Desa/Kecamatan Badas ini berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Meski baru awal, iktikad mereka rutin mengaji patut diapresiasi.

Mayoritas masyarakat hanya memaknai citra punk hanyalah sebatas pakaian dan aksesoris semata. Dengan penampilan nyentrik dan hiasan rajah di badan kerap digeneralisasi sebagai anak punk. Padahal, di dalamnya terdapat nilai kebersamaan dan pergerakan.

Tak sepenuhnya keliru, sebab anggapan masyarakat tersebut memang terbangun karena kebanyakan anak punk identik dengan “kenakalan”. Itu pula yang dahulu dilakukan gerombolan pemuda asal Desa/Kecamatan Badas. Kata “nakal” sudah seperti menjadi nama belakang saja.

gasebo

KOMPAK: Anggota Gasebo mengaji secara rutin setiap Selasa dan Kamis malam di Musala Baitul Salam Desa/Kecamatan Badas. (Gasebo for radarkediri.id)

“Walah, kalau nakalnya anak sekarang belum ada apa-apanya. Zaman saya lebih parah lagi. Sampai-sampai rasanya sudah bosan nakal,” aku Anton Goplo, salah satu anggota Gasebo, sembari tersenyum.

Ya, bosan nakal. Dua kata itulah yang menjadi titik balik perjalanan para pemuda di sana. Berawal dari kata “bosan nakal” mereka pun mulai berusaha kembali ke jalan yang baik. Pencarian dan pergolakan batin pun dimulai di hati masing-masing.

Hingga akhirnya datanglah kesempatan emas untuk mengatasi rasa dahaga akan pencarian itu. Suatu ketika ada lima anggota awal Gasebo yang ngopi seperti biasanya di warung. Namun, tidak sengaja mereka semeja dengan salah seorang tokoh agama di sana. Yakni Gus Muhammad atau yang akrab di sapa Gus Mad.

“Waktu itu ada yang tanya, Gus lek arek-arek belajar ngaji oleh ta? (Gus kalau anak-anak belajar ngaji bolehkah?),” kenang Asep Muzaky yang juga menjadi anggota Gasebo tersebut.

Gus Mad pun menjawab pertanyaan tersebut dengan bijak. Selama memang serius dan ada niat, maka ia bersedia mengajari. Sontak, keesokan harinya kelima pemuda itu pun berkumpul dan mengajak sepuluh teman-temannya yang lain. Mungkin lantaran memang sama-sama sudah memiliki niat masing-masing, ajakan itu pun diterima.

“Kami berkumpul, mencari konsep dan hari apa saja yang tepat. Hingga akhirnya disepakati ngaji setiap Selasa dan Kamis,” sambung Asep.

Gasebo sendiri lahir pada 9 Oktober 2018. Sebentar lagi usia pergerakan tersebut sudah akan mencapai tahun pertamanya. Meskipun begitu, mengubah sesuatu hal tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.

Satu-dua bulan pertama berjalannya kegiatan rutin mengaji itu pun banyak godaan dari diri masing-masing. Beruntung, mereka pun terus berusaha menjalankan kepercayaan yang diberikan Gus Mad.

Salah satu yang membuat mereka tetap awet mengaji di Musala Baitul Salam, Desa/Kecamatan Badas, adalah karena sistem dan gaya mengaji yang diterapkan. Awalnya mereka takut dan kikuk jika harus mengaji sendiri-sendiri. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Mereka diminta mengaji bersama-sama sesuai aba-aba Gus Mad.

“Ceramah yang diberikan juga ndak ndakik-ndakik (tidak tinggi-tinggi). Pelan-pelan, Gus Mad orangnya mengayomi. Kebanyakan ceramahnya tentang kehidupan sehari-hari dan bermasyarakat,” ungkap Asep.

Kini, setelah beberapa bulan berjalan, rasa terpaksa pun berganti dengan rindu.

Banyak perubahan positif yang terasa pada diri masing-masing. Mereka mengaku, seperti punya kendali atau rem terhadap dirinya sendiri. Terutama ketika akan melakukan kenakalan seperti dulu kala.

“Sekarang mau ngajak nakal juga sungkan. Yang diajak pun juga begitu. Mosok arep e nakal dewean?” celetuknya sembari tertawa lepas.

Dari anggota yang hanya 15 orang, kini telah ada 50-an orang yang tergabung dalam Gasebo. Bahkan tidak hanya mereka yang pernah nakal saja, komunitas dan kegiatan itu pun kini terbuka untuk umum. Dari berbagai kalangan dan umur turut menjadi satu di sana.

“Banyak yang ikut karena merasa cocok dengan Gus Mad. Bahkan ada pula yang berasal dari luar Badas,” tandasnya.

Pemuda-pemuda Badas tersebut memang belum bisa menjadi pribadi yang sempurna. Namun, usaha dan iktikad yang mereka lakukan tersebut patut mendapat apresiasi. Gasebo mengajarkan kita agar tak hanya melihat orang dari luarnya saja.

Kerap Dinilai Aneh dan Dicap Pengangguran

Di pandang sebelah mata menjadi hal yang lumrah bagi anggota Gasebo. Namun mereka telah menganggap hal tersebut sebagai angin lalu. Mereka tahu, pemikiran negatif tersebut lahir lantaran masih banyak orang yang tidak mengenal luar dalam.

Salah satu stigma negatif yang kerap disematkan adalah “pengangguran”. Anggapan tersebut tercetus lantaran kebanyakan orang hanya tahu mereka selalu cangkruk dan ngopi-ngopi di siang hari.

Padahal, sejatinya kebanyakan dari mereka telah bekerja sebagai tukang sablon. Pekerjaan itu dilakukan saat malam. “Saat malam kami bekerja hingga pagi. Menyablon kaus. Siangnya kami gantian yang tidur dan santai. Tapi karena tidak sama dengan orang kebanyakan akhirnya dianggap aneh hingga dicap pengangguran,” ungkap Asep Muzaky.

Bahkan meskipun telah rutin mengaji setiap Selasa dan Kamis malam, stigma jelek itu masih saja melekat. Walau demikian, anggota Gasebo tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bagi mereka, tidak penting apa yang dipersepsikan oleh orang lain selama mereka tidak melakukan hal tersebut.

Para pemuda di sana memang terkenal kreatif. Berangkat dari satu komunitas yang sama, mereka pun saling bertukar ilmu. Seperti halnya dalam bidang sablon dan konveksi kaus. Mereka pun saling berbagi ilmu yang mereka dapatkan. Hingga akhirnya, di Desa/Kecamatan Badas terdapat enam sampai tujuh tempat sablon.

Pertumbuhan usaha tersebut dirasa cukup menjadi oase di tengah susahnya mencari pekerjaan. Belum lagi dengan latar belakang yang mereka miliki. “Dengan begitu, kami jadi punya pekerjaan dan sumber pemasukan,” ujar Catur Bagus, yang juga merupakan anggota Gasebo.

Selain menjalani hari sebagai tukang sablon atau konveksi, beberapa anggota Gasebo pun banyak yang menjadi tukang las atau bekerja di bengkel. Pekerjaan demi pekerjaan pun dilakoni meski bagi kebanyakan orang dianggap tidak menarik.

Bagi mereka, selama tidak merugikan orang lain, pekerjaan apa pun sama saja. Mereka pun berusaha tidak berkecil hati. Toh jalan hidup telah mereka pilih sendiri. “Insya Allah, teman-teman yang ngemper di jalanan sudah tidak ada sekarang. Sudah punya pekerjaan sendiri-sendiri,”  imbuh Bagus.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia