Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Nurul Huda, CJH yang Meninggal Dunia di Makkah, di Mata Keluarga

Janji Telepon Balik Pun Tak Pernah Kesampaian

31 Juli 2019, 17: 24: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

haji kediri

KENANGAN MANIS: Nizar Arif, anak semata wayang almarhum M. Nurul Huda saat berada di rumah duka Dusun Pelem, Desa Maesan, Mojo, kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

 Almarhum Muhammad Nurul Huda dikenal sebagai sosok kepala keluarga yang bertanggung jawab. Sepeninggalnya, wajar bila anak dan istrinya merasakan duka mendalam.

ANDHIKA ATTAR, Kabupaten, JP Radar Kediri

 

Hingga kemarin, masih banyak pelayat yang datang. Menunjukkan simpati dan bentuk dukungan. Terutama untuk sang istri Evi Riana, 47, dan anak semata wayangnya M. Nizar Arif, 25.

Di sela kunjungan para kerabat yang melayat, Nizar mengaku bahwa sempat berbincang lewat telepon dengan ayahnya. Sekitar satu jam sebelum ayahnya melaksanakan ibadah Sai.

“Saya telepon lewat WhatsApp, masih menyambung. Tapi tidak bisa lama, bapak sudah mau bersiap-siap ibadah katanya,” cerita Nizar kepada Jawa Pos Radar Kediri saat dijumpai di ruang tamu rumahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nizar mengaku sejatinya ada sebuah keperluan yang hendak disampaikan. Namun karena waktunya tidak memungkinkan, ia pun tidak memaksakan hal tersebut.

Sang ayah pun berjanji akan meneleponnya kembali seusai ibadahnya selesai dan ada waktu luang. Garis Tuhan ternyata berbeda. Itu adalah perbincangan terakhir ayah dan anak tersebut.

Berdasarkan keterangan Nizar, saat berbincang tersebut suara ayahnya memang terdengar sedikit serak. Selayaknya orang yang sedang kelelahan. Ia pun tidak mengira ada sesuatu yang buruk kala itu.

“Dari suara sewaktu telepon terdengar serak. Beda dengan suara bapak pada biasanya. Tetapi beliau mengaku tidak apa-apa dan kondisinya baik-baik saja,” imbuhnya.

Sebelumnya, Muhammad Nurul Huda dinyatakan meninggal dunia lantaran terkena serangan jantung. Namun ia dan ibunya justru menyangkal kalau almarhum memiliki riwayat penyakit jantung. Tidak pernah dalam sepengetahuan keduanya sang ayah mengalami sakit jantung.

“Bapak tidak pernah sakit atau mengidap penyakit jantung. Sewaktu akan berangkat haji juga sudah periksa ke dokter spesialis jantung. Hasilnya juga negatif,” terangnya.

Hanya saja, Nizar mengaku bahwa beberapa kali mendapati ayahnya sesak nafasnya. Selayaknya orang yang terkena penyakit asma.

Kabar meninggalnya sang ayah diketahui Nizar dari kerabat yang dikenalnya. Ia pun kaget dan tidak percaya. Oleh karena itu, ia pun berusaha menghubungi kerabatnya yang lainnya. Yang juga turut berangkat haji.

Konfirmasi pun didapatkannya. Nizar dan Evi pun mau tidak mau harus menerima kenyataan tersebut. Lebih lanjut, dari cerita dan kabar yang didapatnya, sang ayah baru dapat dimakamkan pada Selasa (30/7) subuh waktu Arab Saudi.

Sementara itu, melaksanakan ibadah haji sendiri bukanlah menjadi hal yang baru bagi almarhum Huda. Bahkan, ini adalah kali kelimanya menunaikan perintah ibadah tersebut. Ibadah haji yang pertama kali dilakoni oleh alm Huda adalah pada 2001 silam.

Sang istri pun juga telah melaksanakan ibadah haji. Hanya saja, pasangan suam-istri tersebut tidak pernah dapat berangkat bersamaan. “Dulu memang bergantian karena menjaga anak (Nizar, Red) yang masih kecil,” kenang Evi.

Keseharian almarhum Huda sendiri diisi dengan kegiatannya sebagai perajin rebana dan berternak ikan. Selain itu, almarhum Huda juga tercatat bekerja pada salah satu kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH).

Untuk diketahui, almarhum Huda meninggal dunia pada saat melaksanakan salah satu rukun umrah, yaitu Sai sekitar pukul 09.30 WAS. Sebelum kejadian ia dinilai tidak menunjukkan gejala yang mencurigakan. Hanya saja, saat ibadah mencapai putaran kelima, Huda langsung terjatuh. Penyebab kematiannya sendiri diyakini lantaran serangan jantung.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia