Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Events

Manusuk Sima, Tegaskan Kota Kediri Jadi Destinasi Wisata Budaya

Mas Abu: Jangan Pernah Melupakan Sejarah

29 Juli 2019, 13: 18: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

manusuk sima

MANUSUK SIMA: Wali Kota Abdullah Abu Bakar memasukkan replika Prasasti Kwak ke dalam kotak saat upacara Manusuk Sima di Taman Wisata Tirtayasa. (Rudy Tribowo for radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri  – Ungkapan terkenal dari Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno dikutip oleh Wali Kota Abdullah Abu Bakar kemarin. Saat memimpin upacara Manusuk Sima di Taman Wisata Tirtayasa, Abu menegaskan lagi soal pentingnya mengingat sejarah.

“Jas merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Termasuk juga sejarah berdirinya Kota Kediri,” tandasnya sesaat sebelum melakukan prosesi memasukkan replika Prasasti Kwak ke dalam kotak.

Abu menegaskan, upacara Manusuk Sima merupakan satu cara Kota Kediri untuk melestarikan sejarah dan budaya. Setiap kali peringatan hari jadi, upacara tersebut selalu digelar. Tujuannya agar masyarakat dapat mengingat dan bersama-sama melestarikannya.

manusuk sima kediri

BUDAYA: Dua penari memasukkan sumber air ke dalam guci. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Wali kota yang baru memulai era kepemimpinannya yang kedua ini mengatakan, ke depan Manusuk Sima bisa menjadi destinasi wisata. Yaitu wisata yang memperkenalkan sejarah dan disertai pertunjukan seni dan budaya asli Kota Kediri.

“Sejarah akan terus tercatat. Harapannya, Manusuk Sima bisa dijadikan salah satu destinasi wisata di Kota Kediri,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu Abu juga mengatakan, selama 1140 tahun Kota Kediri telah mengalami beberapa kali transformasi. Dimulai saat Kediri dijadikan sebagai ibu kota kerajaan. Kemudian menjadi kota dagang karena memiliki dermaga sungai. Kota Kediri menjadi kota dagang dengan kafilah dari Arab, Tiongkok, Malaka, dan daerah Nusantara lainnya.

Transformasi selanjutnya terjadi di bidang ekonomi. Mulai dari berdirinya pabrik gula hingga industri rokok. Dan saat ini menjadi Kota yang berbasis jasa dan perdagangan. “Kisah perjalanan panjang Kota Kediri yang selalu membawa perubahan dan membawa kebaikan untuk masyarakat harus disyukuri dan dilestarikan bersama,” pinta Abu.

Orang nomor satu di Kota Kediri ini berpesan, agar masyarakat menjaga keharmonisan kota. Meskipun akan banyak perubahan yang akan terjadi. Masyarakat harus menjaga kemajemukan yang harus dibangun dan dikembangkan menuju arah yang lebih baik.

Upacara Manusuk Sima kemarin berlangsung semarak. Prosesi untuk memeringati Hari Jadi ke-1140 Kota Kediri itu diibaratkan sebagai napak tilas lahirnya kota yang penuh sejarah ini. Manusuk Sima sebagai visualisasi dari suatu peristiwa yang telah ada 1.140 tahun yang lalu.

Upacara Manusuk Sima diawali dengan kirab prasasti oleh para seniman dan budayawan. Mereka berbaris menuju panggung sebagai tempat berlangsungnya prosesi inti. Setelah itu, dibacakan naskah Jawa yang menggambarkan awal mula Kediri. Prosesi Manusuk Sima itu juga diiringi dengan tarian-tarian yang kental dengan tradisi di Kediri.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia