Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

-- KPM 330 --

29 Juli 2019, 12: 52: 17 WIB | editor : Adi Nugroho

iqbal syahroni

Oleh : Iqbal Syahroni (radarkediri.id)

Share this          

   Selamat Hari Jadi ke-1140 Kota Kediri. Terbentuk pada Senin, 27 Juli 879M lalu, kini kota dengan luas mencapai 6.300 hektare itu akan terus menjadi salah satu kota yang selalu memberikan kenyamanan. Khususnya bagi yang merasa diberikan kenyamanan oleh kota yang tergolong sedang di Provinsi Jawa Timur ini.

Karena tergolong sedang, dalam satu jam perjalanan, secara tidak sadar kita berpapasan dengan dua atau tiga kenalan kita. Di lampu merah, di pasar tradisional, di taman, ataupun saat sedang mengisi bahan bakar kendaraan. Bertukar sapa, atau hanya sekadar mengangguk karena sudah bertatapan mata. Semua bisa terjadi kapan saja. Semua orang terlihat ramah, dan baik-baik saja.

Di kota yang sedang ini, kebanggaan juga dipupuk dan dipelihara. Mulai dari saat dari kandungan, para remaja yang masih mencari identitas dan kesibukan, hingga yang sudah veteran. Bersama dalam menggambarkan arti perjuangan untuk mengawal kemenangan.

Di kota yang sedang ini, tersimpan banyak kenangan. Mulai yang terus digelorakan, atau yang benar-benar ingin dibuang. Kita tidak bisa dengan sengaja melupakan suatu kenangan. Cara terbaik saat ini hanya dengan menciptakan kenangan-kenangan baru untuk memupuk yang ingin dilupakan.

Perubahan demi perubahan terus terjadi di kota yang sedang ini. Perubahan yang terjadi dari hasil berubahnya faktor ekologis, dan demografis. Sehingga mempengaruhi sikap, pola perilaku, dan nilai sosial. Tidak selamanya perubahan itu buruk, dan tidak selamanya perubahan itu baik. Tergantung bagaimana arah perubahan tersebut membentuk manusia yang terdampak. Setidaknya begitu, dari apa yang saya pelajari dari mata kuliah Perubahan Sosial KPM 330 saat masih duduk di bangku kuliah.

Perubahan juga terjadi di lingkungan sekitar. Bukan dampak dari perkembangan yang terjadi di Kota Kediri. Namun perubahan dari sesuatu yang tiada, menjadi ada. Begitupula sebaliknya.

Satu minggu yang lalu, seseorang yang tidak saya kenal dengan akrab memamerkan sebuah video berdurasi 15 detik melewati suatu aplikasi berbagi foto di internet. Mengisyaratkan bahwa ia telah resmi menjadi seorang ibu, dan orang tua dari seorang putri. Udara baru, datang.

Satu minggu yang lalu, seseorang yang sudah saya kenal selama sembilan tahun di kelas kecil di SMAN 7 Kota Kediri. Bersama menikmati gol-gol Italia di 2016, dari layar televisi. Melawan Belgia, Swedia, hingga Spanyol di malam hari. Mulai gol dari Giaccherini, hingga gol Chiellini. Bukan seorang teman yang dekat. Namun seseorang saudara lelaki yang hebat, kini Ia pergi untuk beristirahat. Udara pergi menghilang.

Perubahan-perubahan seperti itu memang tidak hanya terjadi di kota yang sedang ini. Bisa terjadi di mana saja. Perubahan menandakan bahwa ada kemajuan. Entah kemajuan ke arah yang baik, atau kemajuan ke arah buruk. Yang penting ada kemajuan. Ada perubahan.

Untuk menjadi tidak berubah pun juga baik. Sekali lagi, tergantung dari yang terdampak. Misalnya tidak berubah menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Atau tidak berubah untuk mengasihi sesama. Semua kendali untuk berubah ataupun tidak tergantung diri sendiri.

Untuk Kota Kediri, tidak ada yang  saya sesali. Semua datang dan pergi. Namun tidak ada satupun yang akan tahan untuk tidak kembali ke Kota Kediri. Sekali lagi, Selamat hari jadi.(penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia