Rabu, 22 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

- - Handle - -

24 Juli 2019, 16: 03: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

sego tumpang

Sego Tumpang (radarkediri.id)

Share this          

Apa arti sebuah tuas? Sangat penting. Sebab, itu mesti terkait dengan tangan. Tangan sangat membutuhkannya. Dalam aktivitasnya sehari-hari. Cekelan. Handle, begitu londo bilang. Bisa dibayangkan. Setiap hari orang pasti keluar-masuk rumah. Lewat pintu. Sementara, pintu itu ndak ada tuasnya. Ndak ada cekelan-nya. Ndak ada handle-nya. Betapa susahnya.

Itu pula yang bikin Dulgembul ngelu. Bukan karena pintu rumahnya. Tapi, karena motornya. Yang ndak ada handle-nya. Padahal, motornya bukan matic. Bukan pula bebek yang semiotomatis. Tapi, manual. Pakai kopling. Untuk memindahkan gigi persnelingnya.

Handle itu patah. Setelah coba diluruskan. Dari bengkoknya. Akibat terjatuh. Ambruk. Mencium aspal. “Walah…,” katanya melongo setelah tahu handle itu bukan terbuat dari besi. Tapi aluminium. “Lha terus piye lek ku numpaki…”

Tanpa handle itu, motornya sulit untuk dijalankan. Lha wong begitu persneling dimasukkan, mesinnya mesti mati. Menarik kabel kopling pakai tangan? Itu jelas kurang gawean. “Mbok sampai tanganmu kither, mbok sampai menghabiskan sebakul sego tumpang, motormu ndak akan mau jalan, Mbul,” komentar Kang Noyo yang sudah tau beratnya tarikan kopling motor itu.

Handle. Memang bukan hal sepele. Tanpanya, banyak peralatan atau perkakas sehari-hari sulit untuk digerakkan. Seperti pintu, jendela, laci, kursi. Pada motor pun, bukan hanya rem atau kopling yang memerlukan, tapi juga boncengan. Begitu pula pada mobil, pesawat, atau kendaraan lain.

Meski demikian, begitu mudah kosakata itu terucap dalam percakapan sehari-hari. Seolah begitu sepelenya. Seperti Matkriting waktu menjumpai Dulgembul krenggosan nuntun motornya. Yang patah handle koplingnya itu. “Sini, aku handle urusan motormu ini,” ucapnya.

Seolah-olah, urusan handle patah adalah urusan gampang baginya. Padahal, jangankan membongkar dan mengganti handle-nya dengan yang baru, nyurung motor saja dia ndak kuat. Mengendarai motor pun masih ugal-ugil. Lha wong dia sukanya minta bonceng.

Karena itu, urusan handle-menghandle memang harus diserahkan kepada ahlinya. Bukan sembarang orang. Kecuali jika dia memang sudah kedapuk sebagai orang yang harus meng-handle. Maka, mau ndak mau, bisa ndak bisa, ya harus bisa. Harus tegen.

Seperti Mbok Dadap kalau pas ndak bisa ngladeni pesenan sambel tumpang. Dia pasti ndak sembarang milih orang untuk menggantikannya. Hanya orang tertentu yang dia percaya untuk mengolah tempe bosok menjadi kuliner paling enak sak ndonya itu. Dan, orang itu pasti sudah melalui serangkaian uji coba yang digelar Mbok Dadap secara diam-diam di antara sekian rewang-nya.

Masalahnya adalah jika mak bedunduk ada pesenan yang ndak bisa ditolak. Sementara, Mbok Dadap ndak ada. Rewang-nya yang dipercaya pun ndak bisa. Sementara, pesenan itu harus dilayani. Maka, siapa pun rewang-nya yang kedapuk untuk ngladeni, ya harus bisa. Meski, citarasa racikan sambel tumpangnya hanya mampu mencapai level KW5.

Nah, hari-hari ini, banyak orang yang muncul mak bedunduk seperti itu. Ndak tau dari mana, ndak tau bagaimana kiprah sebelumnya, tiba-tiba namanya diumumkan lolos. Jadi sesuatu. Padahal, entah disadari atau tidak, dia harus meng-handle urusan yang ndak gampang. Urusan publik. Urusan orang banyak. Dan, urusan orang banyak itu menyangkut banyak hal pula. Politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, de el el, de el el…

Nah, yang mak bedunduk-mak bedunduk seperti itu musti menyadari. Bahwa dia bakal dan harus meng-handle urusan yang ndak gampang. Setidaknya, tidak terburu jumawa. Bahwa dia lolos. Bahwa dia menjadi pemenang. Kemudian, seperti Matkriting, menjadikan ‘handle’ sebagai kosakata yang ringan untuk diucapkan bibir.

“Urusan politik, saya yang handle…”

“Urusan ekonomi, saya yang handle…”

“Urusan pendidikan, saya yang handle…”

“Urusan pemerintahan, saya yang handle…”

“Urusan sosial, saya yang handle…”

“Pokoknya, urusan rakyat, semua pasti saya handle…”

Hendal-hendel mbahmu kutilen…!! (tauhid wijaya)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia