Minggu, 15 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Lalu Lintas Padat, Traffic Light Belum Difungsikan

Warga Jaga Perempatan secara Bergiliran

22 Juli 2019, 15: 21: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

lampu merah

DIGANTIKAN MANUSIA: Traffic light di Desa Cengkok, Ngronggot yang terpasang sejak awal 2019 lalu belum difungsikan hingga sekarang. Pengaturan lalu lintas dilakukan warga secara sukarela. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK - Sejumlah traffic light atau lampu lalu lintas terpasang di wilayah Nganjuk, Juli ini. Sayangnya, belum semuanya bisa difungsikan. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan di lokasi padat itu, warga secara suka rela mengatur lalu lintas di sana.

          Pantauan koran ini, dua titik lampu lalu lintas yang belum difungsikan, di antaranya di Desa Kuncir, Ngetos dan perempatan Desa Cengkok, Ngronggot. Padahal, lampu lalu lintas di Kuncir sudah terpasang sejak akhir 2018 lalu. Adapun lampu lalu lintas di Cengkok terpasang sejak awal 2019 lalu. 

          Belum berfungsinya dua titik traffic light di sana, disayangkan oleh warga setempat. Seperti dikatakan oleh Yanto, 29. Warga Desa Kuncir Ngetos itu mengatakan, arus lalu lintas di dekat jembatan Kuncir itu sangat padat.

          Karena lampu pengatur lalu lintas di sana tidak berfungsi, kecelakaan pun tak bisa dihindarkan. “Yang sering terjadi tabrakan sepeda motor,” ujar Yanto sembari menyebut pengendara motor sering ngebut saat melintas di jalan yang menghubungkan Ngetos dan Sawahan itu.

          Yanto khawatir jika lampu lalu lintas di sana tidak difungsikan, akan semakin banyak warga yang celaka. “Kalau (traffic light, Red) difungsikan, orang yang naik motor bisa lebih tertib. Kecelakaan bisa berkurang,” lanjutnya sembari meminta Pemkab Nganjuk segera menyalakan lampu lalu lintas di desanya itu.

          Hal senada juga disampaikan oleh Purwanto, 26, asal Desa Tanjungkalang, Kecamatan Ngronggot. Kepada koran ini ia mengatakan, keberadaan lampu merah yang ada di perempatan Cengkok, Ngronggot sampai saat ini mangkrak. “Belum menyala,” keluhnya.

          Padahal, lampu merah yang berada di akses antar kecamatan itu terus ramai. Di pagi hari, juga banyak pelajar yang melintas di sana. Karena lampu merah tak kunjung berfungsi, warga secara swadaya mengatur lalu lintas di sana.

          Jika tak dijaga oleh warga, menurut Purwanto perempatan tersebut rentan mengakibatkan kecelakaan. Sebab, kendaraan dari empat arah di sana sering melaju kencang. “Dijaga terus sampai malam,” terangnya sembari menyebut warga yang melintas biasa memberi imbalan uang Rp 1.000 hingga Rp 2 ribu kepada mereka.

Belakangan, menurut Purwanto bukan hanya warga di sekitar Cengkok dan Tanjungkalang saja yang memanfaatkan jalan di sana. Melainkan, jalan tersebut menjadi alternatif warga luar kota yang melewati Nganjuk menuju ke Kediri.

Karenanya, seperti halnya Yanto, dia meminta agar traffic light di sana segera difungsikan. “Menunggu apa lagi,” sesalnya.

Sayang, Dinas Perhubungan belum bisa dikonfirmasi terkait waktu pengoperasian dua titik traffic light tersebut. Kepala Dinas Perhubungan Nganjuk Nur Solekan yang dihubungi koran ini melalui ponselnya, tidak diangkat.

          Pantauan koran ini, selain di dua titik tersebut, sebenarnya ada beberapa lokasi traffic light baru. Di antaranya, di Desa Watudandang, Prambon. Berbeda dengan dua lampu lalu lintas lainnya, lampu lalu lintas di sana sudah difungsikan. Demikian juga dengan lampu lalu lintas di Kelurahan Warujayeng, Tanjunganom.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia