Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Thyga, Band Kafe yang Nekat Bikin Album Fisik

Sukses Masuk I-Tune, Joox, hingga Spotify

22 Juli 2019, 15: 01: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

boxset album

MENARIK : Kotak kardus rilisan album yang berisi cd hingga gelang kulit dipajang rapi, Sabtu Malam(13/7). (Erzha Yuli Triaranta - radarkediri.id)

Share this          

Tak banyak band yang membuat album fisik. Apalagi di era industri musik masa kini yang lesu. Beberapa memilih digital atau hanya mengeluarkan single. Tapi Thyga seolah ingin menjadi pembeda. Tanggal 13 Juli lalu, band yang digawangi pemuda asli Kediri dan Nganjuk, Nganjuk, yakni Baiu, Wahyu, dan Hardo ini meluncurkan mini album perdananya.

ERZHA YULI TRIARANTA

Penguasa membisu. Sipir-sipir berburu. Hukum menghukum palsu. Diskriminasi baru. Jadi komoditimu. Karya-karya tak malu...

thyga band

KOMPAK : Personel band Thyga asal Nganjuk, dari kiri Baiu, Hardo dan Wahyu. Sukses rilis mini album. (Thyga for radarkediri.id)

Lagu bertema kritik sosial ini mengalun merdu. Semua penonton yang datang pun tergerak untuk mengikutinya. Ada yang ikut menyanyi, bergoyang, hingga bertepuk tangan. Dibawakan dengan full band, lagu berjudul Diskriminasi Baru ini seolah membius dan menghangatkan suasana acara di pelataran Orens Café atau Kantor Pos Nganjuk malam itu (13/7).

Apalagi, Hardo dengan vokalnya yang rancak, genjrengan gitar Wahyu, dan betotan bas Bayu memang tampil interaktif. Penonton tak dibiarkan diam semenit pun. Thyga, begitu band yang baru terbentuk di tahun 2018 ini tampil dalam launching albumnya. Memang tak semeriah launching album band papan atas yang saat ini justru jarang dijumpai.

Tapi, malam itu memang terasa spesial. Selain kali pertama band ini mengenalkan album perdananya, juga terasa tak ada jarak antara penonton dan personel band Thyga. Acara berlangsung sangat intim. “Tidak wah, tapi kami memang ingin acara yang sederhana namun hangat,” ujar Baiu Mita Ariescy, basis band Thyga.

Band ini memang bisa dibilang baru. Namun, semua personelnya memang sudah banyak dikenal oleh komunitas musik di Kediri dan Nganjuk. Mereka sering tampil bareng di kafe maupun berbagai acara.

Termasuk dalam Gebyar Undian Pelanggan Radar Kediri 2019 yang baru digelar Rabu lalu (17/3). “Seneng banyak yang mengapresiasi karya kami,” ungkap Baiu yang merupakan alumnus ISI Jogjakarta.

Band Thyga sejatinya bukan merupakan band pertama masing-masing personelnya. Semua punya band sendiri pada awalnya. Seperti Hardo dan Wahyu yang punya band di Kediri. Mereka pun sering nge-jam bareng dan tampil bersama. Di luar itu, Wahyu dan Baiu juga kerap tampil dengan nama band lain. Beberapa kali, Hardo juga ikutan nongkrong.

Karena sering ngobrol bersama, ketiganya merasa cocok dan satu visi. Akhirnya, mereka pun mantap membentuk band baru dengan nama Thyga. Tepatnya tanggal 11 Maret 2018. “Karena isinya tiga personel, kami beri nama Thyga (tiga, Red),” papar Baiu sembari tersenyum.

Perjuangan masih baru dimulai. Di tahap ini, Baiu, Wahyu, dan Hardo masih kerap membawakan lagu band lainnya. Belum ada lagu sendiri. “Berpetualang istilahnya. Dari panggung ke panggung. Masih meng-cover lagu orang,” sambung Hardo.

Pria bernama lengkap Hardo Noresa Bagijo itu menyadari, proses ini memang harus dilalui sebelum akhirnya satu per satu lagu dengan ciri khas Thyga berhasil dibuat. “Semua perlu pengorbanan,” ungkap pria berusia 25 tahun itu.

Salah satunya, tentu ketika harus manggung dari satu acara ke acara lain. Suatu kali, kenang Hardo, mereka pernah diundang di acara yang lokasinya di kawasan wisata air terjun Irenggolo, Besuki, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

Dengan mengendarai motor, mereka berangkat ke lokasi sore hari. Tak disangka, saat itu hujan deras disertai angin menerjang. Selain sangat berhati-hati karena jalan di kawasan pegunungan itu berkelok naik-turun, mereka juga harus mengamankan peralatan mereka agar tak rusak atau kebasahan. “Selalu ada sih kayak-kayak begitu. Tapi jadi berkesan dan teringat sampai sekarang,” sambung pria asli Maluku ini. 

Merekam beberapa lagu atau biasa dikenal dengan sebutan extended play (EP), Thyga menyepakati tajuk utamanya adalah manusia. Tajuk ini sengaja dipilih karena para personel Thyga melihat manusia sangat berperan dalam berbagai sisi kehidupan.

Mulai dari yang aktual hingga sisi spiritual yang terkadang justru lebih banyak perpengaruh dalam keseimbangan dunia. “Kami sangat mengagumi eksistensi manusia dan perannya di dunia ini,” tutur Hardo.

Pria berambut keriting ini banyak berperan dalam pembuatan lirik empat lagu di mini album Thyga. Seperti Diskriminasi Baru, Tak Beralasan, Kawan Lama, dan Maca Udrasa.

Mengapa sampai berani me-launching album, apalagi dalam kelesuan industri musik Indonesia saat ini? Hardo mengaku Thyga memang ingin mendobrak pasar. Apalagi, band indie seperti Thyga tidak terjebak dalam banyak kepentingan seperti mayoritas band yang tergabung dalam label besar.

Mereka bisa bebas menuangkan kreativitas mereka dalam setiap lagu yang akan dirilis. Nyaris tanpa batas. “Itu kelebihannya. Tapi ada kurangnya juga, karena semua biasa kami usahakan secara mandiri. Memang agak berat, tetapi ya seru juga,” papar mahasiswa Universitas Nusantara PGRI Kediri ini.

Soal mini album, Wahyu Nizarudin, 28, gitaris Thyga punya alasan sendiri. Sebagai sebuah band, Thyga ingin memberi yang terbaik bagi penggemarnya. “Butuh satu setengah tahun untuk membuat album ini,” tuturnya.

Dengan mini album itu, lagu-lagu Thyga tidak hanya bisa dinikmati secara digital. Melainkan juga ada wujud fisiknya. Memang, selain merilis mini album fisik yang berisi empat lagu di compact disc (CD), Thyga juga menyertakan berbagai aksesori dalam box set berbahan kardus. Mulai dari stiker, t-shirt dan gelang kulit serta cerita singkat terbentuknya band ini.

Tak hanya itu, kini lagu-lagu mereka bisa dinikmati pula di i-Tune, Joox, Spotify, hingga di You Tube. “Semua untuk para pendengar musik Thyga,” paparnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia