Minggu, 18 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Fadjar, Bocah dari Desa Banaran dan Kunti, Kudanya

Duet Tangguh di Arena, Teman Setia di Kesehar

21 Juli 2019, 21: 24: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

juara berkuda

TAK TERPISAHKAN: Fadjar menunggang kudanya dalam perjalanan pulang dari sekolahnya di MI Asunnah, Banaran, kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Fadjar dan Kunti seperti dua sejoli. Tak terpisahkan. Tak hanya dalam meretas prestasi di jalur pacuan. Juga menjadi teman setia dalam keseharian.

Jalanan di Desa Banaran, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri terasa lengang di hari menjelang siang itu. Hanya satu dua kendaraan yang melintas. Menyisakan suara deru tertinggal di belakang.

Di antara deru suara motor itu, sayup-sayup terselip langkah kaki kuda. Lamat-lamat terdengar seperti tengah berlari. Makin lama makin jelas terdengar. Kali ini disertai ketukan sepatu kuda di aspal jalan. Juga dihiasi ringkikan  yang nyaring terdengar. Ditimpali teriakan dari sang penunggang.

PRESTASI: Fadjar saat meraih gelar di ajang berkuda di Malang, beberapa waktu lalu.

PRESTASI: Fadjar saat meraih gelar di ajang berkuda di Malang, beberapa waktu lalu.

“Hyaaa...hya....,” suara ini keluar dari mulut si penunggang yang terlihat masih bocah.

Sang penunggang itu berseragam sekolah. Tepatnya seragam olahraga. Kaus lengan panjang berwarna biru. Celana trainingnya berwarna sama. Dengan aksen garis kuning di leher, dada, dan celana bagian samping. Tas ransel hitam melekat di punggung.

Bocah itu adalah Fadjar Yusuf Abduloh. Usianya sembilan tahun. Dia adalah siswa kelas empat di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Asunnah. Madrasah ini berjarak sekitar 3 kilometer dari rumahnya, yang sama-sama berada di Desa Banaran. Saat itu Yusuf dalam perjalanan pulang dari sekolah.

Ketika jalanan menanjak, kecepakan sang kuda melambat. Meskipun begitu lajunya tetap fokus. Ketika berpapasan dengan kendaraan tidak panik. Hingga sampailah di rumah sang bocah.

Sesampai di depan kandang sang kuda berhenti. Fadjar melompat dari punggung kuda. Kemudian segera menambatkan sang kuda yang bernama Kunti itu. Setelah itu anak kedua dari tiga bersaudara tersebut berlari ke dalam rumah. Menaruh tas sekolahnya.

“Mbak tukang foto ya...?” tanya Fadjar kepada Jawa Pos Radar Kediri yang memang terus menguntit sejak dari jalanan. Saat itu, masih berseragam sekolah, Fadjar kembali menghampiri Kunti.

Tanpa begitu menghiraukan wartawan koran ini, Fadjar melepas pelana dari punggung kuda berwarna cokelat itu. Kemudian meluncur kata-kata dari mulutnya,”Kemarin saya mengikuti perlombaan.” Kata-kata itu mengawali perbincangan.

Ya, Fadjar adalah atlet berkuda. Dia memang baru mengikuti satu event kejuaraan berkuda di Malang. Kategori endurance. Kata kemarin yang dia lafalkan itu maksudnya adalah Maret.

“Waktu acara kemarin, Fadjar menjadi peserta paling muda,” kata Nunuk Prasetyo, ayah Fadjar, yang membuntuti sang anak saat keluar dari rumah.

Kemampuannya dalam olahraga berkuda tak bisa dipandang enteng. Meskipun jadi peserta paling muda, Fadjar tak pernah berkecil hati. Sebaliknya, dia justru makin terpompa semangatnya. Medan naik turun di area pegunungan tak menjadi soal.

“Ini kemarin waktu fajar dapat juara endurance di acara perdana Pordasi Malang” terang Nunuk sambil menunjukkan foto.

Tak mengherankan bila Fadjar sudah ahli berkuda di usia yang sangat belia itu. Sebab, dia lahir di keluarga yang memang penyuka olahraga berkuda. Sang ayah adalah ketua DPC Pordasi Kediri Raya. Sekaligus ketua klub berkuda bernama MTF. Selain Kunti, keluarga ini juga memiliki dua ekor kuda lainnya.

Kunti sendiri adalah kuda berjenis sandel lokal. Atau ada juga yang menyebut sebagai kuda tokol. Kuda ini pemberian sang ayah saat Fadjar berusia tujuh tahun. Ketika masih duduk di kelas 1.

Sejak saat itu Kunti seperti menjadi teman setia bagi Fadjar. Baik saat berlatih endurance dengan menjelajah hutan di sekitar Kandangan, teman bersekolah, hingga menjadi kompatriot dalam berbagai kejuaraan. Selalu bersama dalam keseharian itulah yang juga menjadi faktor keduanya menyatu. Yang berbuah serangkaian prestasi. Menjadi modal bagi upayanya meretas prestasi di jalur olahraga berkuda.

Awalnya, agar sang Anak Tak Kecanduan Gadget

Pasangan Nunuk Prasetyo dan Nurul Puji punya cara unik menghindarkan anak-anaknya dari kecanduan gawai dan televisi. Bukan melarang mereka menyaksikan acara televisi tapi membelikan seekor kuda untuk masing-masing anaknya. Karena punya tiga orang anak, maka pasangan inipun membeli tiga ekor.

“Alasan kenapa (membelikan) kuda karena rata-rata anak – anak menyukai kuda,” terang laki-laki yang merupakan Ketua DPC Persatuan Pemanah Berkuda Indonesia (PPBI) Kediri Raya ini.

Dengan memiliki kuda, anak-anak Nunuk menjadi fokus dengan piaraannya masing-masing. Membuat mereka tak memikirkan bermain gawai atau menonton televisi. Itulah yang membuat anak-anak Nunuk terhindar dari kecanduan gadget.

Khusus Fadjar, Nunuk mulai mengenalkan putranya tersebut kepada kuda ketika masih duduk di bangku kelas satu sekolah dasar (SD).  Namun tidak langsung mengajari Fadjar cara menunggang kuda. Nunuk terlebih dahulu memberi tanggung jawab pada Fadjar untuk merawat kuda. Hal yang sama dia lakukan untuk dua anaknya yang lain. Sebagai cara agar anak-anaknya bisa bertanggung jawab.

“Mulai dari membersihkan hingga memberi makan,” urainya.

Nunuk memilihkan kuda jenis sandel lokal yang diberi nama Kunti. Saat dibeli usia Kunti masih tiga tahun. Sejak itulah Fadjar bertanggung jawab penuh atas kudanya itu.

Bukan tanpa alasan Nunuk menggunakan cara tersebut. Dengan melakukan perawatan akan menimbulkan  rasa empati dan respek pada anak terhadap kudanya. Demikian juga sebaliknya.

Selain itu, juga memberikan latihan dari sisi psikologi. Karena seberjalannya waktu akan muncul chemistry di antara keduanya. Antara sang anak dan kudanya. Di mana akan timbul rasa percaya diri sang kuda terhadap perawatnya.

“Si anak dengan sendirinya tahu cara menaiki kuda,” tutur Nunuk.

Memang, Nunuk membiarkan Fadjar dan anak-anaknya yang lain belajar berkuda sendiri. Namun, dia tetap mengawasi aktivitas anak-anaknya dalam belajar menunggang kuda. Dia juga masih memberikan instruksi bagaimana cara menunggang kuda yang benar. Membetulkan bila ada yang salah.

Suatu saat, Fadjar pernah terjatuh dari kudanya. Penyebabnya adalah kekuranghati-hatian. Namun, kejadian tersebut tidak membuat siswa kelas empat sekolah dasar itu menjadi takut. “Habis jatuh langsung kembali naik kuda,” kenang Fadjar.

Dengan berjalannya waktu, Fadjar semakin matang dalam cara menunggang kuda. Memasuki kelas dua, Kunti tidak hanya ditunggangi untuk mengelilingi lepangan depan rumahnya. Namun, kuda yang kini berusia lima tahun itu juga digunakan untuk pergi ke sekolah.

“Waktu awal dulu, Fadjar diikuti oleh ibunya,” jelas Nunuk.

Sebagai orang tua, Nunuk merasa tidak takut Fadjar menggunakan kuda sebagai kendaraan pergi kesekolah. Hal tersebut jika dibandingkan dengan menggunakan sepeda. Kuda berbeda dengan sepeda. Dengan mengunakan kuda anak tidak bisa langsung memacu kuda dengan cepat. Berbeda dengan ketika sedang menaiki sepeda, hanya si anak yang memiliki jiwa. “Kalau kuda tidak bisa dipaksa untuk melaju dengan cepat,” imbuhnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia