Minggu, 18 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Features

Para Pembudidaya Bunga Anggrek yang Memanfaatkan Lahan Sempit

Gunakan Lab Pinjaman untuk Ciptakan Varietas

20 Juli 2019, 16: 12: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

anggrek

TELATEN: Tri Hadi Mulyono menyemprotkan pupuk ke tanaman anggrek di dalam green house Jl Kawi, Mojoroto, Kota Kediri. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

  Tanaman anggrek tidak hanya memiliki keindahan pada bunganya. Untuk membudidayakannya dapat dilakukan ditanah yang tak luas. Di lahan sempit, bunga ini dikembangkan dalam green house.

HABIBAH A. MUKTIARA

Tanaman anggrek atau disebut Orchidaceae menjadi salah satu bunga  paling disukai. Tidak hanya karena keindahan bunganya, namun juga lantaran untuk membudidayakannya tidak terlalu memakan banyak tempat.

Salah satu green house tanaman ini berada di salah satu rumah yang beralamat di Jalan Kawi II, Kelurahan/Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. “Green house ini memiliki ukuran sekitar 4 x 20 meter,” terang Tri Hadi Mulyono, salah satu ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI).

Untuk mendirikan green house tersebut, Tri bekerja sama dengan pemilik tanah, yaitu Diah Arista Siwi. Keduanya telah menjadi mitra selama dua puluh tahun.

“Di sini Bu Diah berperan sebagai penyedia tempat, sementara saya yang menyediakan peralatan dan tanamannya,” imbuh dia.

Green house dengan ukuran 4 x 20 meter itu terbuat dari plastik ultraviolet (UV) sebagai atap. Jaring paranet atau penahan panas dibentangkan melingkar. Hal itu berfungsi sebagai dinding. Plastik UV dan jaring berguna untuk menstabilkan tekanan udara dan angin.

Tujuannya, agar suhu menjadi tidak lembab namun juga tidak terlalu kering. “Di dalam green house ini terdapat sekitar 3.800 jenis bunga,” ungkap Tri.

Ribuan anggrek terdiri dari berbagai varietas diletakkan pada wadah berupa pot elastis. Tanaman itu ditata berjajar menjadi beberapa deret. Di antaranya ada jenis anggrek dendrodium, anggrek bulan, anggrek macan, kataleya dan ragam varietas lainnya. Bunga tersebut ditaruh pada media tanam seperti serabut kelapa, akar pakis, akar kadaka, dan arang.

Sementara itu, menurut Tri, untuk merawat anggrek sangatlah mudah. Tidak terlalu memakan banyak waktu. Karena anggrek tidak perlu disiram setiap hari, asalkan anggrek masih dalam keadaan basah. 

Anggota PAI lain yang memiliki green house adalah Ridlon Ansori. Laki-laki yang pernah bekerja di PTPN XI ini membagunnya tepat di belakang rumahnnya yang berada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Puncu.

“Waktu kali pertama saya memiliki 100 tanaman anggrek,” ungkap laki-laki yang kerap dipanggil Ridlon ini.

Sebelum keluar dari perusahaan tersebut, dari awal Ridlon memang memiliki kegemaran menanam bunga anggrek. Dengan keluar dari perusahaan tersebut, ia memilih untuk tetap menekuni pembudidayaan anggrek.

Di dalam PAI, keanggotaannya dibagi menjadi dua. Anggota sebagai petani dan ada juga anggota yang memasarkan. Untuk menarik konsumen, kelompok PAI memanfaatkan akun media sosial pribadi. Kebanyakan pembeli via online berasal dari hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia.

Wilayah terjauh yang pernah dikirim adalah ke Kota Tual, Provinsi Maluku. Meski begitu, banyak pembeli di kawasan sekitar Kediri yang memilih langsung bertandang ke green house. Dengan langsung ke lokasi produksi, mereka dapat bebas memilih barang sesuai selera.

PAI juga bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Kediri. Karena mereka masih belum memiliki laboratorium (lab) untuk pembenihan, dalam kerja sama tersebut dinas pertanian meminjamkan fasiltas lab untuk menciptakan jenis anggrek baru. Hingga kini, lelaki yang gemar memakai topi ini masih harus membeli bibit anggrek dari petani di Bogor.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia