Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Jadi Saksi, Kades Kaliboto Beri Keterangan Palsu

Marah, Hakim Minta Jaksa Menindaklanjutinya

16 Juli 2019, 11: 24: 30 WIB | editor : Adi Nugroho

Bukti

BEBER BUKTI: Majelis hakim membuka berita acara pemeriksaan di depan para saksi dan JPU, dalam sidang kasus pemalsuan KTP dan KK untuk menikah dengan terdakwa Kades Tarokan Supadi, kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK-Sidang kasus pemalsuan kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga dengan terdakwa Supadi, 40, kepala Desa Tarokan, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, menguak fakta baru. Kepala Desa Kaliboto, Kecamatan Tarokan Woko kedapatan memberi keterangan palsu terkait kondisi blangko surat keterangan.

          Tak ayal, keterangan pria yang mengikuti sidang di ruang Cakra itu kemarin jadi perhatian majelis hakim. “Jaksa, tolong ditindaklanjuti lagi keterangan saksi (Woko, Red),” pinta Ketua Majelis Hakim Sugiyo Mulyoto kepada Jaksa Penuntut Umum Jemmy Sandra.

          Sebelumnya, di depan majelis hakim, Woko memberi keterangan jika Supadi sempat datang ke rumahnya meminta surat keterangan untuk menikah.

 “Alasan Supadi saat itu untuk saudaranya yang akan menikah di luar kota,” aku Woko.

Lantaran percaya dengan Supadi, dia mengaku memberi pria yang juga sesama kepala desa itu blangko kosong. Dari sinilah awal kebohongan Woko. Hakim Dwianto Jati Sumirat yang tak percaya dengan perkataan Woko lantas menunjukkan blangko yang awalnya diakui Woko dalam kondisi kosong.

Tetapi, blangko surat keterangan untuk menikah yang ditunjukkan oleh Dwianto itu terlihat sudah tercetak rapi tulisannya. Saat dicermati ulang, hakim yakin bila blangko surat keterangan untuk menikah itu tidak kosong saat diserahkan.

Awalnya Woko berkeras dengan keterangannya. Tetapi, setelah dicecar oleh majelis hakim, akhirnya dia mengakui jika pernyataannya terkait blangko kosong itu tidak benar.

Dia lantas menceritakan kronologi kejadian. Menurutnya, saat itu Woko menerima blangko surat keterangan untuk menikah dari kasi kesra Desa Tarokan. Saat disodori blalngko, Woko mengaku tengah banyak tamu. Karenanya, dia langsung menandatangani blangko tersebut. “Blangkonya memang tidak kosong, tapi tidak saya baca secara detail,” kilahnya.

Pengakuan Woko itu langsung membuat hakim geram. Sugiyo menganggap saksi telah memberikan keterangan tidak benar padahal sudah diambil sumpahnya. Menurut Sugiyo, perbuatan Woko ini membuat Supadi bisa menikah dengan dokumen palsu. “Beban saudara (Woko, Red) cukup berat. Saksi ini adalah kades, punya tanggungjawab,” tegasnya.

          Atas keterangan saksi tersebut, hakim meminta agar jaksa segera menindaklanjutinya. Melihat hal itu, JPU Jemmy mengingatkan kembali agar saksi memberi keterangan yang sebenarnya.

          Woko yang ketakutan lantas mengakui jika semua keterangannya di kepolisian tidak benar. “Saya ingin menolong terdakwa, agar tidak memberatkan hukumannya,” terang Woko.

          Untuk diketahui, selain Woko kemarin ada empat saksi yang dihadirkan dalam kasus pemalsuan dokumen oleh Supadi untuk menikah lagi tersebut. Di antaranya, Yaitu, Yatirah, istri pertama Supadi. Kemudian, Dewi Atma Megawati, istri kedua Supadi.

          Di depan hakim, Yatirah mengaku kesal dengan Supadi dan melapor ke polisi terkait pemalsuan KK dan KTP. “Saya ingin mereka (Supadi dan Dewi, Red) berpisah,” tegas Yatirah sembari menyebut Pengadilan Agama (PA) Kediri telah membatalkan pernikahan Supadi dan Mega.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia