Minggu, 15 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Pelestarian Warisan Budaya Cerita Panji

Berinovasi Manfaatkan Kemajuan Teknologi

15 Juli 2019, 18: 42: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

panji nusantara

ATRAKTIF: Salah satu penari Kediri Sesaji dalam acara seminar tersebut (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

 Festival Panji Nusantara menjadi agenda tahunan pemerintah. Salah satu daerah yang dilibatkan adalah Kota Kediri. Dikemas dalam bentuk seminar, diharapkan muncul inovasi pelestarian cerita Panji dari berbagai kalangan.

MOCH. DIDIN SAPUTRO

Gedung Etnografi Museum Airlangga di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kecamatan Kota Kediri mendadak ramai pengunjung, kemarin pagi (14/7). Kondisi tersebut tak seperti hari-hari biasanya yang lengang sepi pengunjung.

cerita panji

WARISAN DUNIA: Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar membuka seminar Panji Nusantara di gedung Etnografi Museum Airlangga kemarin. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Dari kejauhan, terdengar gemuruh tepuk tangan. Membuat suasana di bangunan yang penuh benda purbakala itu semakin hidup. Ramainya gedung yang terletak di lereng Gunung Klotok tersebut ternyata bukan karena banyak wisatawan berkunjung.

Melainkan sedang berlangsung seminar. Setidaknya ada sekitar 100 peserta dalam acara bertajuk ‘Transformasi Cerita Panji dalam Kreativitas dan Pengembangan melalui Media Digital’ tersebut.

Mereka tampak antusias mendengarkan pemaparan materi yang disampaikan narasumber dari berbagai latar belakang. Mulai budayawan, pelaku sejarah, arkeolog, praktisi animasi, hingga dosen dari sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur.

Tentu saja, antusiasme peserta tak lepas dari rasa penasarannya akan budaya cerita Panji. Sebuah warisan yang kini sudah diakui dunia internasional. Upaya pelestarian ini pun diakui Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar yang mengungkapkan bahwa budaya Panji syarat akan cerita menarik. Kisahnya dapat membentuk kearifan lokal.

“Dari tema seminar ini sangat bagus, karena cerita-cerita dari Kediri ini memang harus digitalisasikan. Kalaupun banyak versi, ceritanya harus dipatenkan. Di mana- mana yang namanya sejarah itu banyak versi karena kita merekonstruksi sesuatu yang sudah tidak ada lagi,” ujar kepala daerah yang karib disapa Mas Abu ini.

Ada dua hal yang ditekankan Mas Abu dalam sambutannya. Yaitu cerita Panji bisa dibahas. Namun, juga bisa dituangkan dalam sebuah benda yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk cenderamata.

“Yang jelas ini punya potensi yang besar, cuma harus dirumuskan, harus ada progres yang positif. Tetapi tidak melulu kita bahas benar atau tidaknya,” tutur Mas Abu.

Di daerah seperti Jogjakarta, Bali, Papua, ia mencontohkan bisa merealisasikan dengan membuat ikon daerah menjadi sebuah patung atau berupa candi kecil. Nah kalau di Kota Kediri, Abu menyebut, kemungkinan besar bisa dibuat baju.

“Harus ada desainer yang keren. Jadi kalau ada orang yang sudah pernah mendengar cerita Panji pasti akan tertarik untuk beli,” paparnya.

Dari seminar Panji, wali kota berharap, bisa membawa dampak yang positif serta dapat menciptakan ekonomi baru bagi masyarakat di Kota Kediri. Selama ini cerita Panji dikenal dengan kisah masa lalu yang mengandung nilai sejarah, tepatnya di era-Kerajaan Kadiri dengan tokoh tokoh utamanya Panji Asmarabangun dan Galuh Candrakirana.

Cerita Panji sendiri memiliki beberapa versi yang berkembang di beberapa wilayah Nusantara, salah satunya Kota Kediri. Untuk itu, seminar Panji Nusantara diadakan di Kota Kediri sebagai upaya dari pemerintah merevitalisasi cerita Panji melalui cara inovasi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi digital.

Pelestarian Panji ini tak hanya di Kota Kediri saja, di daerah lain pemerintah pusat juga melaksanakan hal serupa. Setidaknya di Jawa Timur ada beberapa kabupaten/kota yang menggelar festival ini. Seperti Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Pasuruan.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga (Disbudparpora) Kota Kediri Nur Muhyar mengungkapkan, cerita Panji sudah menjadi perhatian nasional. Warisan budaya yang sudah diakui oleh United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia ini didorong untuk menjadi sebuah cerita yang membanggakan.

“Karena memiliki potensi yang sangat besar. Ada banyak sekali fragmen dalam cerita panji yang bisa diangkat menjadi sesuatu yang sangat bagus,” jelasnya. Baik itu dalam bentuk kesenian tari, film, animasi bahkan bisa diwujudkan dalam bentuk suvenir, busana atau dalam berbagai bentuk seni.

Ke depan, Muhyar pun berharap, dari para peserta seminar akan muncul sebuah ide tidak hanya pemahaman sejarahnya. Tetapi juga aktualisasi dari pemahaman menjadi bentuk - bentuk yang bisa melegenda.

“Mungkin bisa dalam bentuk film pendek, atau desainer yang bisa membuat karya, misalnya tenun Bandar menjadi pakaian yang khas ala Panji atau kaus yang berlogo atau bersablon tentang Panji,” harapnya.

Pelestarian suatu kebudayaan memang sangat penting dilakukan. Terutama oleh generasi muda saat ini. Tak hanya pemerintah yang berhak mendorong realisasi pelestarian, peran masyarakat dari berbagai kalangan pun diharapkan mampu mempertahankan warisan nenek moyang yang melegenda.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia