Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Kiprah Pandergoen, Intelijen Keturunan Belanda Asal Desa Baleturi

Tiga Perang Besar di Nganjuk Jadi Saksi

15 Juli 2019, 15: 03: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

Pandergoen

Foto Pandergoen semasa hidup (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Nama Pandergoen jadi perbincangan di puncak peringatan HUT ke 73 Bhayangkara di Alun-Alun Berbek, Kamis (11/7) lalu. Banyak orang yang penasaran dengan kiprah intelijen keturunan Belanda, asal Desa Baleturi, Prambon itu. Meski namanya tak muncul di buku sejarah, ternyata sumbangsihnya di masa perjuangan tidaklah kecil.

REKIAN

Rumah tua bercat putih di depan balai Desa Baleturi, Prambon masih kokoh berdiri. Rumah bergaya joglo itu jadi saksi bisu perjalanan Pandergoen, sosok polisi yang sejak seminggu lalu banyak dibicarakan. Rumah yang kini ditinggali Witanto, cucu Pandergoen itu pun jadi perhatian.

Rumah

SAKSI SEJARAH: Rumah Pandergoen di Desa Baleturi, Prambon masih kokoh berdiri. (Rekian - radarkediri.id)

          Apalagi, di bagian depan rumah yang menyerupai balai itu memang dipasang foto Pandergoen. Pria yang bagi keluarganya tak ubahnya sosok pahlawan. “Rumah ini selama masa perjuangan sering jadi tempat berkumpul para pejuang,” ujar Witanto, cucu pertama Pandergoen, membuka perbincangan.

          Bahkan, sejak Pandergoen belum menjadi polisi, rumah yang didominasi kayu itu sudah ramai didatangi warga. Sebab, Vandergoen, sang ayah merupakan demang kepala desa di masa itu. Bangunan menyerupai balai di bagian depan rumah itu pun jadi tempat diskusi.

          Tak hanya di bagian depan rumah, bagian belakang juga kerap digunakan untuk pertemuan. Termasuk oleh Pandergoen dan teman-temannya. “Biasanya rapat pada malam hari,” lanjut Witanto yang dahulu mendengar cerita dari Pandergoen, sang kakek.

          Selama masa perang kemerdekaan, aktivitas Pandergoen memang tidak banyak diketahui. Senyap. Warga sekitar juga hanya melihatnya sebagia penduduk biasa.

Aktivitas sang intelijen baru banyak diketahui setelah situasi Indonesia aman. Pandergoen mulai terbuka kepada RA Soeratmi, sang istri. Demikian juga kepada anak-anak dan cucunya. Sebagai cucu pertama sang pejuang, Witanto sempat merasakan diasuh oleh sang kakek.

Karena itu pula, dia banyak mendengar cerita tentang perjuangannya. Pria yang menjadi polisi intelijen sejak 1929 itu secara total berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Dia kerap membantu pejuang melawan penjajah dengan informasi yang dikumpulkannya.

Tiga pertempuran hebat di Jembatan Kertosono, di Desa Kweden, Ngetos dan di Baron yang berhasil dimenangkan para pejuang, tak lepas dari peran intelijen Pandergoen. “Salah satu yang dikenal adalah senjata ranjau tawon ndas,” tutur Witanto.

Akibat aktivitasnya itu, Pandergoen sering tertangkap penjajah. Setidaknya dia dua kali dipenjara. Mulai di Kediri dan di Kertosono. Meski dua kali menjalani hukuman, dia tak kapok. Setelah bebas, bapak tiga anak itu tetap memasok informasi untuk para pejuang.

 Bahkan, tak hanya menjalankan tugas di Nganjuk, Pandergoen juga pernah ditugaskan ke Semarang dan Ambarawa. “Baru 1947 kembali ke Nganjuk dengan pangkat terakhir polisi kelas II,” beber Witanto tentang sang kakek yang meninggal pada 1971 lalu itu.

Terlepas dari kiprahnya sebagai intelijen, Pandergoen dikenal sebagai sosok yang disiplin dan memegang prinsip. Hal itu pula yang ditanamkan kepada anak dan cucunya. “Kakek sangat disiplin dan tegas,” urai pria berambut ikal ini.

          Karena sikapnya itu, tidak jarang cucu-cucunya banyak mendapat hukuman. Terutama, jika mereka tidak bersikap sopan di depan tamu yang datang ke rumah.

          Suatu kali, Witanto pernah dicambuk karena bersikap tidak sopan saat ada tamu di rumah. “Lewat di depan tamu dan tidak sopan. Langsung di-cemeti (dipukul, Red),” lanjut pria berusia 65 tahun itu.

          Selain kedisiplinannya, keluarga juga belajar banyak hal dari Pandergoen. Termasuk keteguhannya menjunjung tinggi budaya Jawa. Meski memiliki darah Belanda dari sang ayah, Pandergoen tidak tertarik dengan budaya dari negeri Kincir Angin itu.

          Sebaliknya, dia bertekad untuk melestarikan budaya Jawa. Itu diperlihatkan dengan kiprahnya sebagai dalang wayang kulit di masa tuanya. Tak hanya mendalang, Pandergoen juga kerap memimpin upacara adat di desanya.

          Salah satu ajaran yang diwarisi dari Pandergoen adalah upacara wiwit sebelum memanen padi. “Sampai saat ini, setiap panen kami masih melakukan upacara wiwit pari,” beber pria bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Witanto Harjowinoto Negoro ini.

          Untuk menghormati sang kakek, keluarga bertekad untuk terus melestarikan ajarannya. Pun, melanjutkan cita-cita Pandergoen untuk melestarikan seni dan budaya Jawa. Bentuk lain perjuangan sang intelijen sebelum tutup usia.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia