Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Hidup Sehat di Kampung STBM Kelurahan Payaman

Arisan pun Yang Dibahas Kebersihan Lingkungan

15 Juli 2019, 10: 30: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

Lingkungan

CARA HIDUP SEHAT : Anak-anak di RT 02 RW 07 Kelurahan Payaman, Kecamatan Nganjuk, mencuci tangan pakai sabun setelah bermain. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

Warga RT 02 RW 07 Kelurahan Payaman, Kecamatan Nganjuk, terbiasa dengan rutinitas bersih-bersih lingkungan. Sebagai kampung STBM, warganya memiliki tingkat kesadaran tinggi terhadap kebersihan. Kini, kebiasaan baik itu menurun ke anak-anak mereka.

ANWAR BAHAR BASALAMAH

Suparto tahu persis kondisi kampungnya sekitar 10 tahun silam. Sebagai penduduk asli gang merpati, Kelurahan Payaman, Kecamatan Nganjuk, pria yang akrab disapa Parto ini merasakan betapa kumuh di sekitar tempat tinggalnya. Kala itu, kampungnya jauh dari kesan bersih dan sehat.

Menjabat ketua RW sejak 1986, Parto bertekad membenahi lingkungannya. Tapi usaha itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tingkat kesadaran warga untuk menjaga kebersihan lingkungan masih rendah. “Dulu kotor sekali di gang ini,” kata pria 61 tahun ini saat ditemui di rumahnya, Selasa lalu (9/7).

Alhasil, banyak sampah berserakan di sepanjang gang. Untuk membuang sampah rumah tangga, warga masih membuat joglangan (lubang besar) di belakang rumah. Sebagian sampah dibuang ke sana lalu dibakar. “Belum ada tempat sampah yang layak,” ucap Parto.

Untuk aktivitas buang air, warga membuat WC seadanya. Jambannya hanya berupa lubang. Karena itulah, mereka yang tinggal di sana rentan terkena penyakit.

Barulah pada 2013, lambat-laun, gang di RT 02 RW 07 itu mulai berbenah. Melalui lomba RT cantik yang diselenggarakan kantor lingkungan hidup (sekarang menjadi dinas lingkungan hidup) Kabupaten Nganjuk, Parto mengajak warganya untuk mempercantik setiap jengkal rumah mereka. Mereka begitu antusias membersihkan lingkungan.

Berkat kerja keras warga, keberuntungan itu akhirnya berpihak pada RT 02 RW 07. Pada tahun itu, mereka dinobatkan sebagai RT cantik di kabupaten. Mendapat penghargaan tersebut, membuat Parto semakin bersemangat untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Puncaknya, pada 26 Juli 2016, RW 07 Kelurahan Payaman mendeklarasikan sebagai kampung sanitasi total berbasis masyarakat (STBM). Sejak saat itu, pola hidup warga di gang tersebut berubah total. “Tingkat kesadaran masyarakat terhadap kebersihan semakin tinggi,” ucap pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Nganjuk ini.

Joglangan sampah yang sempat bersemayam bertahun-tahun di rumah warga, sekarang sudah ditinggalkan. Di kampungnya, kata Parto, setiap kepala keluarga (KK) punya bak sampah yang ditaruh di depan rumah. Bak pun dibedakan antara sampah organik dan nonorganik. “Sampah dibuang di bak depan rumah,” kata Parto.

Setiap hari, sampah-sampah tersebut diambil petugas pemungut sampah yang juga warga RW 07. Sampah yang sudah terkumpul lalu dikirim ke tempat pembuangan sementara (TPS) Kelurahan Payaman.

Kata Parto, sebenarnya warga tidak asal membuang sampah. Mereka bisa memilah sendiri mana yang harus dibuang dan disimpan. Untuk sampah berupa botol plastik, sedotan dan bungkus makanan, biasanya disisihkan untuk didaur ulang. Sampah pun disulap menjadi aneka kerajinan tangan seperti tempat lampu, bak air cuci tangan dan hiasan dinding. “Sebagian kerajinan ada yang dijual,” ungkap Parto.

Perilaku positif lain dari warga adalah kebiasaan cuci tangan pakai sabun. Parto menyebut, ada empat titik tempat cuci tangan yang diletakkan di beberapa spot gang. Tempat tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi warga setempat, tetapi juga masyarakat yang bertamu atau melintas di gang.

Jadi, begitu mereka selesai beraktivitas, kata Parto, warga biasanya langsung mencuci tangan dengan sabun di tempat yang disediakan. Kini, kebiasaan cuci tangan menjadi hal yang lumrah bagi warga.

Untuk mendukung perilaku hidup sehat, warga juga mengganti standar jamban mereka. Dari yang semula hanya berupa lubang, sekarang berubah menjadi jamban dengan sanitasi yang lengkap. “Tidak cuma jamban yang makplung,” kata bapak dua anak dengan lima cucu ini.

Selaku ketua RW, Parto mengaku, sering mengerjakan hal-hal kecil di sekitar rumah yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan. Hal itu dilakukan untuk menggerakkan warga sekitar mengikuti langkahnya. Misalnya membuat taman kecil di depan rumah.

          Saat ini, hampir di setiap rumah sebanyak 95 KK di gang itu memiliki taman kecil di halamannya. Bahkan, ada warga yang berinisiatif menanam tanaman obat keluarga (toga) seperti jahe, kunyit dan temu lawak. “Saya justru senang ada warga yang mempercantik rumahnya. Bukan justru tersaingi,” kata Parto.

          Agar lingkungan tetap sehat, Parto selalu berupaya mengingatkan warga untuk menjaga kebersihan. Misalnya, dia tidak pernah lupa meminta warga memungut daun kering yang jatuh dari dahannya. “Memang sekilas tampak remeh, tetapi hal itu untuk menjaga komitmen,” kata pria kelahiran Nganjuk, 27 Oktober ini.

          Di lingkungan yang lebih besar, kata Parto, warga terbiasa mengadakan kerja bakti lingkungan. Biasanya, aktivitas tersebut dilakukan tanpa jadwal yang pasti. “Kerja bakti di lingkungan kami kerjakan ketika warga ingin membuat sesuatu di gang. Misalnya lapangan voli atau gazebo. Jadi sekalian bersih-bersih,” ujar Parto.

          Setiap bulan, mereka juga punya tradisi arisan. Mulai dari arisan untuk bapak-bapak, ibu-ibu sampai pemuda karang taruna. Dan, setiap kali arisan digelar, Parto mengaku, persoalan kebersihan lingkungan selalu jadi pembahasan. Di pertemuan itu pula, mereka membayar iuran rutin Rp 15 ribu per orang.

          Uang yang terkumpul itu, dimanfaatkan untuk perawatan sarana dan prasarana (sarpras) yang dimiliki. Di antaranya membersihkan tempat cuci tangan, mengganti lampu penerangan di gang, dan membeli sabun cuci tangan. “Bapak-bapak punya kas sendiri. Ibu-ibu juga punya,” kata Parto.

          Yang menggembirakan, kebiasaan positif warga akhirnya menular ke anak-anak mereka. Menurut Parto, anak-anak sudah memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan. “Saya lihat sendiri. Setelah makan, mereka langsung membuang bungkusnya ke tempat sampah,” ujar Parto.

          Sementara itu, Puskesmas Nganjuk yang selama ini menjadi pendamping juga konsisten mengingatkan warga dengan pola hidup sehat. Sherly Novalia Rahmawati, Pemegang Program Kesehatan Lingkungan (Kesling) Puskesmas Nganjuk mengatakan, pihaknya secara rutin menggelar pertemuan dengan warga.

          Dengan bertemu langsung, Sherly mengatakan, puskesmas bisa mengingatkan warga tentang perilaku hidup sehat. Dengan begitu, mereka tetap konsisten mempraktikannya di lingkungan tempat tinggal. “Jadi warga selalu ingat dan konsisten,” kata perempuan 40 tahun ini.

          Bupati Novi Rahman Hidhayat melalui visinya Tri Cita Bakti, meminta dinas kesehatan (dinkes) lebih banyak memberikan edukasi kepada masyarakat terhadap pentingnya melakukan tindakan preventif. Salah satunya adalah menyadarkan masyarakat untuk menjalani pola hidup sehat. “Makan makanan yang sehat, menjaga kebersihan lingkungan, tidak merokok, dan gemar berolahraga,” sebut Novi.

          Melalui upaya tersebut, Novi berharap, tingkat kesehatan masyarakat Nganjuk semakin berkualitas. Sehingga mendukung salah satu visinya, yakni, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). (*)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia