Minggu, 25 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Features

Khoirul Badiyah, Anggota Bhayangkari yang Juga Pelukis Pita

Awal Berkarya, Kanvas Jebol

13 Juli 2019, 08: 35: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

pelukis pita pekan budaya

TELATEN: Khoirul menyelesaikan lukisan pita di sela-sela menunggui stan di arena Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

  Awalnya hanya hobi. Membuat sulam pita di mukena. Kemampuannya ‘bermain’ pita dia kembangkan menjadi lukisan. Hasilnya, hobi itu kini jadi pekerjaan yang menghasilkan. 

HABIBAH A. MUKTIARA

Seorang wanita duduk di salah satu stan UMKM di ara Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri. Di kedua pahanya tergeletak kayu persegi yang di atasnya terbentang kain putih. Klip kertas warna hitam menjepit kain itu di masing-masing sisinya.

Tangan kanan wanita itu terus bergerak. Ke samping, bawah, atas. Menarik pita warna kuning. Pita yang sama itu sebelumnya juga dia jahitkan ke lembaran kain putih yang berfungsi sebagai kanvas. Bentuk bunga sudah terlihat di kanvas tersebut.

Wanita itu adalah Khoirul Badiyah. Wanita usia 36 tahun yang juga warga Jalan Erlangga, Dusun Katang, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri ini punya keahlian khusus. Melukis pita.

Keahlian itu, dan tentu saja berikut hasil karyanya, dia pamerkan di Pekan Budaya dan Pariwisata itu. Membuat banyak orang tertarik. Terbukti, stannya hampir selalu terisi pengunjung. Baik membeli atau sekadar menikmati pajangan karyanya. Ketika pengunjung sepi, dia isi dengan aktivitas menyelesaikan lukisan.

“Ini lagi menyelesaikan lukisan, untuk jadi stok jualan,” terang ibu dua anak tersebut.

Khoirul menggeluti dunia perpitaan sejak empat tahun silam. Tapi, saat itu bukan melukis. Dia memulai usaha dengan produksi sulam pita. Yang ia aplikasikan di muken dan home decoration seperti taplak meja atau sarung bantal.

“Saya mulai tertarik dengan sulam pita ketika membeli baju yang ada sulam pitanya,” terangnya.

Waktu itu 2012. Khoirul membeli baju yang bermotif sulam pita di Kota Bandung.  Pada saat itu baju dengan hiasan pita belum menjamur seperti sekarang.

Tertarik, Khoirul mulai belajar membuat sulam pita. Otodidak. Belajar sendiri dengan searching di internet. Karena saat itu di Kediri sulit mendapatkan buku-buku tentang keterampilan sulam pita.

Kemudian, pada 2015, Khoirul bergabung dengan komunitas yang bernama Ribbon Embrodery. Anggotanya tidak hanya dari dalam negeri. Banyak pula yang berasal dari luar Indonesia.

“Semula saya hanya sekadar menyukai halaman tersebut, tidak tahu siapa yang memasukan menjadi anggota komunitas tersebut,” tutur Khoirul.

Tapi, dari komunitas itulah dia justru semakin mendapatkan banyak ide karya dari sulam pita. Salah satunya adalah membuat lukisan sulam pita. Anggota komunitas itu banyak yang melukis pita di atas sketsa yang sudah jadi.

Tantangannya, di Kediri tak ada yang menjual kain bersketsa seperti itu. Akhirnya, dia pun harus membuat sketsa sendiri. Beruntung, Khoirul pada dasarnya telah memiliki bakat melukis. Saat kecil dia belajar dari pamannya yang hobi melukis.

Menggunakan bahan dasar kain, pita, cat akrilik, dan krayon, Khoirul memberi label karyanya “Khurorin”. Karyanya itu dia pasarkan. Termasuk dalam pameran itu.

Waktu yang ia butuhkan untuk menyelesaikan lukisan bergantung dari kerumitan motif. Bisa sampai dua minggu. Berawal dengan menyekat motif bunga dan pemandangan sebagai latar belakang menggunakan krayon. Kemudian disulam menggunakan pita. Terakhir pengecatan menggunakan cat akrilik.

“Waktu pertama kali membuat, saya cat dulu. Namun rupanya kanvasnya terlalu keras akhirnya malah lubang,” kenang Khoirul.

Ternyata, karya lukisan pitanya justru lebih digemari orang. Membuatnya memilih fokus melakukannya. Dengan harga yang tergolong ekonomis, karya-karyanya merambah di berbagai pameran.  Pesanan dari luar kota pun berdatangan. Seperti dari Sukabumi dan Kalimantan.

Dari bakatnya membuat sulam pita, tidak hanya menjadikan ladang penghasilan. Namun ia juga dapat membagikan ilmunya, dengan diadakannya work shop. Selain aktif sebagai anggota Bhayangkari Polres Kediri Kota, ia juga aktif dalam komunitas Crafta Lovta Febric, di Surabaya dan Kediri.

Tidak hanya sekedar komintas biasa, banyak kegiatan yang berhubungan dengan kain. Mulai bedah tas, hingga diadakan workshop. Dalam kegiatan tersebut, Khoirul juga menjadi salah satu yang memberi pelatihan.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia