Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik
20 Tahun Radar Kediri

Mas Abu: Gunakan HP untuk Baca, Bukan Hanya Ngobrol

12 Juli 2019, 16: 23: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

minat baca kediri mas abu

GENJOT MINAT BACA: Mas Abu membaca koran Jawa Pos Radar Kediri. (M Arif Hanafi - radarkediri.id)

Share this          

Hoax tak akan mempan pada masyarakat yang cerdas. Masyarakat cerdas jika literaturnya banyak. Cuma, sayang, minat baca kita masih rendah. Setidaknya, berdasar studi Central Connecticut State Univesity pada 2016, minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara. Di Kota Kediri, Wali Kota Abdullah Abu Bakar terus menggenjotnya.

Anda punya komitmen tinggi terhadap peningkatan human development index (HDI). Apa yang bisa dikaitkan dengan minat baca masyarakat?

Human development index (HDI) atau indeks pembangunan manusia (IPM) itu diukur dari tiga faktor. Yaitu, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Pada faktor pendidikan atau pengetahuan itulah penumbuhan minat baca menemukan relevansinya. Masyarakat yang pendidikannya tinggi, minat bacanya akan meningkat. Dan, masyarakat yang minat bacanya tinggi, pengetahuannya pasti luas. Jadi, ini sudah bukan lagi sekadar melek huruf.

Kalau boleh memilah, apa beda melek huruf, minat baca, dan melek baca?

Jelas beda. Untuk melek huruf, saya kira sekarang relatif sudah tidak lagi menjadi persoalan. Melek huruf itu kan agar masyarakat yang semula tidak bisa membaca dan menulis menjadi bisa membaca dan menulis. Nah, minat baca itu di atasnya. Masyarakat yang sudah bisa membaca, mau atau tidak untuk terus meng-upgrade pengetahuannya dengan banyak membaca. Itu minat baca. Lalu, jika minat bacanya tinggi, mereka akan menjadi semakin melek. Melek baca itu sudah bisa memilih dan memilah informasi. Mana yang validitasnya teruji, mana yang tidak. Mana yang berkualitas, mana yang tidak. Tidak asal telan. Inilah yang sekarang perlu terus kita genjot.

Bagaimana dengan minat baca masyarakat Kota Kediri?

Tadi saya bilang, melek huruf relatif sudah tidak lagi menjadi persoalan. Sebab, kita tahu, Kota Kediri juga dikenal sebagai kota pendidikan. Sekolah-sekolah yang bagus ada di sini. Kampus-kampusnya juga bagus. Nah, minat bacanya, ternyata juga menggembirakan. Kami punya data dari penelitian yang baru dilakukan barenlitbang (badan perencanaan, penelitian, dan pengembangan) tahun ini. Indeks minat baca masyarakat Kota Kediri mencapai 83,96 persen dari skor tertinggi 100 persen. Ini masuk kategori sangat tinggi atau baik.

Apa saja faktor yang mampu mendongkraknya hingga setinggi itu?

Selain keberadaan sekolah-sekolah dan kampus yang bagus –karena kami punya komitmen untuk menggenjot kualitas SDM (sumberdaya manusia) di kota ini—akses informasi warga Kota Kediri cukup bagus. Banyak perpustakaan mandiri atau taman baca milik masyarakat. Kelurahan juga punya perpustakaan yang bisa diakses warga. Belum lagi dengan perpustakaan daerah yang menyediakan pula layanan perpustakaan keliling serta perpustakaan elektronik yang bisa diakses lewat Android. Nah, dari survei barenlitbang itu, lebih dari separo respondennya (51,17 persen) mengaku sering berkunjung ke taman baca atau perpustakaan di kota ini.

Bagaimana dengan media massa, apakah turut menjadi faktor?

Ya, sebaran media cetak di Kota Kediri saya kira juga berpengaruh. Sebab, berdasarkan survei itu, media cetak menjadi pilihan masyarakat Kota Kediri yang menggunakan waktu luangnya untuk membaca. Lebih dari separo (53,83 persen) menjadikan koran sebagai pilihannya. Buku (34,83 persen), majalah (16,33 persen), dan komik (14,33 persen) menjadi yang berikutnya. 

Bagaimana dengan tantangan generasi sekarang yang lebih mengakrabi gadget daripada buku?

Pertama, untuk perpustakaan daerah dan kelurahan, saya selalu mengimbau untuk terus menambah dan mengupdate koleksi bukunya. Agar sesuai dengan perkembangan zaman dan tetap diminati warga untuk datang. Yang kedua, perkembangan teknologi informasi tidak bisa kita tolak. Maka, kita pun harus mengikutinya. Makanya, muncul perpustakaan elektronik yang bisa diakses lewat ponsel Android itu. Ingin baca, kita tinggal membuka aplikasinya dari layar ponsel. Saya sendiri juga mengunduh dan sering membuka aplikasi Perpustakaan Nasional.

Nah, tantangannya adalah: bagaimana menggeser kebiasaan menggunakan ponsel untuk hal-hal yang kurang berguna ke hal-hal yang berguna seperti membuka koleksi perpustakaan elektronik itu. Kita bisa menjadikan ponsel sebagai sumber belajar karena di situ banyak sekali informasi yang berguna. Apalagi, akses WiFi sudah banyak disediakan oleh Pemerintah Kota Kediri. Sayang jika tidak digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Jadi, gunakan ponsel untuk membaca, bukan hanya ngobrol.

Apa sebenarnya arti penting membaca menurut Anda?

Membaca itu membuka cakrawala pemikiran kita. Banyak membaca, semakin terbuka cakrawala. Semakin luas pengetahuan kita. Nah, orang yang mempunyai pengetahuan luas, tidak akan bertindak gegabah. Tidak mudah ter-influence oleh orang lain. Apalagi untuk hal-hal yang tidak baik. Dia bisa mempertimbangkan baik dan buruk berdasarkan rasionalitas, bukan hanya emosionalitas. Dengan demikian, dia bisa mengukur risiko. Mengetahui strategi dan taktik. Mereka yang banyak bacaannya, akan bisa menguasai masa depan. (hid)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia