Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik
Anugerah Desa 2019

Konservasi demi Pohon Usia Ratusan Tahun

12 Juli 2019, 16: 12: 50 WIB | editor : Adi Nugroho

anugerah desa

BERGANDENGAN: Juri Anugerah Desa dan Kades Edi (tengah) berpegangan tangan melingkari batang pohon mahoni yang usianya ratusan tahun. (Puspitorini Dian - radarkediri.id)

Share this          

  KEDIRI KABUPATEN - Awalnya hanya ingin mengecek kondisi pohon tua yang tumbang. Ternyata, apa yang dilakukan Edi Budianto, kepala Desa Tawang, Kecamatan Wates ini membuat hutan Plumpungan ‘tersingkap’.

“Banyak pohon besar dan langka, berumur ratusan tahun, hampir mati karena dipenuhi benalu,” tutur Edi. Benalu ini pula yang diduga menjadi penyebab Pohon Bendo tua yang ambruk pada September 2017 itu.

Tidak ingin pohon-pohon langka di area wilayah desanya benar-benar punah, Edi pun mengajak warga mulai membabat hutan. Benalu yang memakan habis pohon yang rata-rata memiliki diameter hingga tujuh mater ini dimatikan. “Hanya ada enam orang yang berani membersihkan sini,” kenang Edi.

Keberanian Edi inilah yang akhirnya menyadari potensi wilayah seluas 2,5 hektare itu. Tak hanya lebih dari 500 pohon yang diselamatkan, ada sekitar sebelas titik sumber air yang berhasil ditemukan.

Titik-titik air itulah yang kemudian dikelola oleh Edi dengan membuat kolam-kolam. “Tak ada yang dirusak, dibiarkan begitu saja. Hanya dibenahi supaya kelihatan rapi saja,” terangnya. Hanya satu titik saja yang disiapkan menjadi kolam renang untuk anak-anak. Tempatnya pun di lokasi paling pojok. Lantainya pun tidak disemen dan dibarkan hanya berupa tanah.

Kolam-kolam sumber air itulah yang selanjutnya diberi ikan dan di sekelilingnya disiapkan gubuk-gubuk. Tak disangka, usahanya mengonservasi pohon langka itu ternyata berbuah manis. Hutan Plumpungan itu disulap menjadi Sumber Plumpungan dan menjadi jujugan wisata. Pihak desa pun menyiapkan berbagai fasilitas untuk keperluan para pengunjung. Seperti gubuk, toilet, papan penunjuk, dan lain-lain.

Karena melihat potensi inilah Edi memberanikan diri mengajukan sumber air Plumpungan ke Anugerah Desa.  Dia memilih kategori pengelolaan lingkungan dalam lomba kali ini. “Kami berharap apa yang kami lakukan ini bisa melindungi lingkungan dan tanaman yang ada di sini,” terangnya.

Jika Desa Tawang mengusulkan Sumber Air Plumpungan untuk Anugerah Desa, Desa Wonorejo, Kecamatan Wates kembali mengajukan program Rujag Inaseh. Program ini kependekan dari Juru Jaga Ibu dan Anak Sehat. Yaitu program pendampingan terhadap ibu hamil yang bertujuan untuk menekan angka kematian ibu dan anak (AKI/AKB). “Karena angka 1 saja (kematian ibu dan anak) sudah termasuk KLB (Kejadian luar biasa),’ terang Hari Pristiwaningtyas, bidan Desa Wonorejo.

Untuk melancarkan program pendampingan ini, desa menunjuk sepuluh kader Rujag Inaseh. Satu kader mendampingi dua dusun. Rata-rata ada sekitar 5-10 ibu hamil yang ditangani. “Tujuannya agar bisa memantau para ibu hamil baik yang berisiko tinggi atau tidak,” terangnya.

Tak berhenti pada ibu hamil, desa juga membuat program tambahan berupa Simbah Cerdas. Kata cerdas singkatan dari Cerita Risiko Duwur AKI/AKB Harus Stop. Melibatkan mbah-mbah yang ada di desa yang biasanya merawat cucunya, maka pihak desa terus memberikan sosialisasi tentang menekan AKI/AKB melalui beberapa kegiatan. “Biasanya melibatkan muslimat dan saat menggelar pengajian,” sambungnya.

Adanya program Rujag Inaseh ini memang menunjukkan hasilnya sejak diadakan tahun 2016 lalu ini. Angka AKI/AKB pun akhirnya bisa ditekan hingga titik nol. Selain itu, angka stunting juga berhasil ditekan. Para ibu hamil pun merasa nyaman selama masa kehamilan hingga akhirnya melahirkan. Pantas jika akhirnya pihak desa mengajukan program ini dalam kategori Inovasi Terbaik Bidang Pelayanan kesehatan dalam Anugerah Desa 2019.

Manfaat adanya Rujag Inaseh ini diakui oleh Winarti, 35, salah satu ibu hamil yang mengikuti Rujag Inaseh. “Sangat terasa bedanya antara anak pertama dankedua, yang sekarang lebih nyaman karena ada yang mendampingi,” terang Winarti yang baru saja melahirkan anak keduanya dua hari lalu.

Anak pertama dan kedua memang memiliki selisih sepuluh tahun. Diakui Winarti, banyak ilmu yang didapatkannya. Apalagi, selama kehamilan, dia selalu aktif berkumpul dengan ibu-ibu hamil lainnya yang tergabung dalam program yang sama. “Saya juga baru tahu tentang stunting sekarang ini. Dulu tidak tahu,” ucapnya seraya tersenyum.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia