Jumat, 20 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Mahmud Septian Avrizal, Topeng Bujang Ganongnya Rambah Luar Negeri

12 Juli 2019, 16: 07: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

bujang ganong

TELATEN : Mahmud tengah memasang rambut di topeng bujang ganong buatannya, kemarin. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

 Jalan hidup tak selalu berawal dari cita-cita sejak kecil. Bisa juga karena luapan rasa kecewa. Seperti yang dilakoni perajin topeng bujang ganong ini. Pekerjaan ini dia lakoni karena dulu tak mampu membelinya.

IQBAL SYAHRONI

Sinar matahari menyengat di siang itu. Namun, teriknya sang surya tak menghalangi orang-orang yang berseliweran di antara stan-stan di arena Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri. Salah satunya di stan yang penuh dengan ‘wajah’ aneh yang bergelantungan.

Di stan itu suasananya memang terasa lain. Topeng bujang ganong, dengan ciri hidung yang panjang, digantung. Juga ada barong, kaus, hingga perlengkapan jaranan yang lain. Seorang pria dengan telaten menata barang-barang itu. Merapikan setelah ‘diacak-acak’ pengunjung.

Pria itu adalah Mahmud Septian Avrisal. Usianya baru 25 tahun. Dia mengaku barang-barang yang dipamerkan di stannya itu adalah hasil karyanya. Dibuat dengan tangannya.

Mahmud bercerita, awalnya dia hanya menjual topeng bujang ganong. Yang dia buat sendiri, diwarnai sendiri, dan pasang rambutnya sendiri. Itu dia lakukan pada awal 2014 silam.

Lama-lama hobinya sejak SMA itu membawa berkah. Topeng-topeng bujang ganong yang ia buat banyak diminati. “Awalnya sih ingin buat untuk diri sendiri. Tapi juga alhamdulillah ada yang minat untuk beli,” terang pria asal Desa Paron, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri ini.

Dia memang suka mengoleksi topeng bujang ganong. Karena sejak 2009 aktif di kelompok jaranan. Baik di sekolah maupun di desanya. Selain menjadi penikmat, Mahmud juga terampil dalam bermain jaranan. Bahkan bermain musik gamelan pengiring jaranan.

Awalnya, hasrat memiliki topeng bujang ganong mendapat hambatan. Karena harganya tergolong mahal bagi kantong Mahmud. Namun, hal tersebut tidak menghambat Mahmud berkreasi. Ia pun mengumpulkan kayu dan membeli barang seadanya. Kemudian dia jadikan topeng bujang ganong.

Satu per satu topeng dia buat. Niatnya untuk ia pakai saat pentas jaranan bersama dengan kelompok jaranannya. Ternyata, banyak yang suka. “Awalnya dibeli tetangga. Lama-lama banyak yang pesan juga,” cerita lelaki yang saat itu berkaus hitam ini.

Akhirnya dia benar-benar terjun ke bisnis pembuatan topeng ini pada 2016.  Sampai rela meninggalkan pekerjaannya di salah satu perusahaan  distributor makanan.

Mahmud menganggap pekerjaannya dahulu adalah sebagai pembelajaran. Bagian dari pengalaman hidup. Saat itu, meski bekerja, dia tak sekalipun meninggalkan hobi jaranannya. Kadang, saat pulang malam, ia sempatkan untuk membuat topeng bujang ganong. Atau menyempatkan ‘mencuri’ waktu membuat pernik-pernik jaranan saat bekerja mengantar produk pesanan.

Setelah keluar dari pekerjaannya yang dulu, dia akhirnya memberikan waktu dan dedikasinya untuk jaranan. Ia pun mulai merambah ke pembuatan kaus jaranan, celana, pecut, hingga barongan. Namun masih tidak melupakan topeng bujang ganong, yang membuatnya sebesar sekarang. Bahkan, topeng bujang ganongnya ini pernah dipamerkan di Surabaya. Banyak yang tertarik untuk membeli. Termasuk salah satu warga luar negeri dari Singapura hingga Lebanon.

Mulai dari hal kecil yang tidak membuatnya menyerah, hingga saat ini ia sudah memiliki toko tersendiri. Bahkan juga ia membuka lapangan pekerjaan untuk berbagai kerabatnya di tokonya. Yang ia harapkan adalah orang tidak lagi berpandangan negatif terhadap jaranan.

“Melihat anak kecil yang datang mampir ke stan, meski hanya sekadar berfoto dan memegang-megang barongan atau topeng bujang ganong, membuat saya senang. Karena sedikit demi sedikit, pandangan yang buruk dan menakutkan dari jaranan menghilang,” tegasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia