Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Harjito, Pegiat Budaya yang Berusaha Pertahankan Kearifan Lokal

Sisipkan Ajaran Nenek Moyang

10 Juli 2019, 13: 41: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

seni budaya

GEMULAI: Harjito memberi contoh gerakan tari di hadapan murid-muridnya, di padepokan tarinya. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

 Nguri-nguri budaya Jawa di zaman teknologi memang bukan pekerjaan mudah. Butuh inovasi. Memadukan kearifan lokal dengan kekikinan agar kebudayaan Jawa masih diterima masyarakat.

 

DWIYAN SETYA NUGRAHA

“Awas, konsentrasi! Mimik wajahnya senyum,” suara pria terdengar dari satu pendapa di Desa Senden, Kecamatan Kayenkidul, Kabupaten Kediri. Setengah berteriak. Seperti ingin yang diteriaki memusatkan perhatian pada kata-katanya.

Lelaki itu berada di bangunan pendapa seluas 8x8 meter persegi. Di sekitarnya puluhan penari cilik menggerakkan tangannya. Lemah gemulai. Menggelayut selendang dari pundak para bocah yang rata-rata perempuan itu. Gemulai tangannya merunut alunan gamelan dari tape rocorder produk lama. Yang menggunakan kaset.

Pria itu adalah Harjito Mudho Darsono. Seorang pengiat budaya Jawa. Ya dalang, ya penari. Di padepokan miliknya, Padepokan Cipta Mudha Laras, pria 48 tahun ini waspada mengamati gerakan anak didiknya.

“Begini ini aktivitas saya sehari-hari, sebagai budayawan,” ucap pria yang saat itu mengenakan baju adat Jawa itu.

Di padepokan ini semua aktivitas budaya Harjito berlangsung. Di salah satu sudutnya terdapat seperangkat gamelan. Juga peralatan wayang. Menambah kesan seni pada bangunan yang ornamen Jawa Kuno tersebut.

Harjito bercerita, budaya Jawa sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ki Harjo, demikian dia juga sering disapa, merupakan generasi ketiga dari pendiri padepokan seni itu. Yang masih berusaha mempertahankan kearifan lokal.

Padepokan Cipta Mudha Laras didirikan oleh eyangnya, Ki Siram Atmosastro. Dalam perjalanannya, padepokan ini terus berupaya memadukan budaya baru dengan tidak meninggalkan yang lama.  “Ini bagian dari akulturasi budaya Jawa,” terang pria dengan tiga orang putri ini.

Akselerasi budaya merupakan proses sosial yang mengolaborasikan budaya baru tanpa meninggalkan budaya lama. Dan ini yang dipegang teguh Ki Harjo dalam menjawab tantangan zaman. “Ini sebagai upaya dalam nguri-nguri budaya jawa di zaman gadget seperti ini,” ujarnya.

 “Alhamdulillah, padepokan Cipto Mudho Laras ini tak sepi dari peminatnya. Bahkan keinginan dari masyarakat akan mempelajari budaya jawa semakin meningkat,”  sambungnya.

Tak mudah bagi Harjito mempertahankan eksistensi Padepokan tersebut. Banyak petuah yang harus ia bagikan kepada murid-muridnya untuk mempertahankan eksistensi padepokan. Salah satunya, Ki Harjito memegang teguh filosofi hangesti Gusti nggayuh mukti (memegang kuat iman untuk mencapai keilmuan) kepada semua murid-muridnya. “Bagi saya ini penting kami ajarkan kepada murid-murid sejak dini,” kata Harjito.

Filosofi itulah yang hampir tiga dekade ia tularkan kepada para murid-muridnya. Dia juga mempertahankan kearifan lokal Kediri. Dengan menyisipkan ajaran warisan nenek moyang agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Bahkan, menurutnya bisa ditinggalkan generasi berikutnya jika budaya tersebut tidak dikenalkan sejak dini bagi penerus-penerusnya. “Ini upaya kami bersama untuk nguri-nguri  budaya yang memadukan kearifan lokal Kediri,” pungkasnya.

Beberapa kearifan lokal yang dia tanamkan ke muridnya adalah sikap santun anak kepada orang tua. Juga, cerita-cerita atau tari yang dia ajarkan bertumpu pada budaya Kediri asli. Seperti cerita panji.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia