Jumat, 20 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Paro Edhang

10 Juli 2019, 12: 48: 50 WIB | editor : Adi Nugroho

sego tumpang

Sego Tumpang (radarkediri.id)

Share this          

“Paro edhang,” ujar Dulgembul sambil menyerahkan cuilan gedang goreng di tangannya kepada Matkriting. Itu adalah makanan terakhir yang dimiliki. Di siang yang terik tapi penuh terpaan angin. Seperti hari-hari ini.

Bagi dua kanca plek seperti mereka, sepotong gedang goreng adalah penyelamat dari kelaparan. Terlebih saat ndak ada warung yang bisa diutangi selama Mbok Dadap ndak bakulan. Dan, secuil gedang goreng yang diberikan Dulgembul adalah keadilan bagi Matkriting. “Suwun ya, Mbul..,” ucapnya sambil ngambusi gedang goreng di tangan sebelum melahapnya.

Keadilan. Itu adalah cita-cita kemanusiaan yang didambakan oleh semua orang. Bersanding dengan kemakmuran. Adil dalam kemakmuran. Makmur dalam keadilan. Begitu ada yang merumuskannya. Sebab, adil tapi ndak makmur ya podo ae. Podo ngenese. Itu hanya cocok untuk yang menerapkan asas sama rasa sama rata. Sementara, makmur tapi tidak adil ya pasti akan gegeran ae.

Gegeran di republik ini, selalu berpangkal pada soal keadilan itu. Soal keadilan yang pemenuhannya tidak dirasakan oleh yang berharap. Padahal, kata adil disebut sampai dua kali dalam Pancasila yang menjadi dasar negara. “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” serta “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”

Cuma, masalahnya, perspektif terhadap keadilan sering berbeda. Seperti di jalanan. Keadilan bagi pengendara motor dan mobil acap tak sama. Bagi pemotor, memakan marka untuk menyalip kendaraan di depannya tidaklah melanggar prinsip keadilan. Bukan sebuah keserakahan. Meski, dari arah berlawanan sedang melaju mobil. Karena memang masih ada ruang yang tersisa.

Sementara, bagi pengemudi mobil, bisa dianggap sebaliknya. Meski, masih ada ruang yang sama pula bagi pemotor dari arah berlawanan.

Itu sebabnya, ada pemotor yang justru menengahkan kendaraannya. Mencoba menghadang mobil yang hendak menyalip dari arah berlawanan. Kalau sopir mobilnya nekat, ya menepi. Tapi, sambil ngidoni dan misuhi. Padahal, seandainya mau, ruang di sebelah kirinya masih terbuka lebar untuk menepi sejak awal. Memberi jalan bagi pengemudi mobil yang hendak menyalip kendaraan di depannya. Tanpa harus misuh-misuh. Tanpa harus ngidoni.

Menengahkan motor, misuh, ngidoni, adalah bentuk perlawanan. Perlawanan dari pemotor yang muncul akibat ‘ketidakadilan’ yang dirasakannya. Dan, ‘ketidakadilan’ baginya adalah ketika ruas jalan yang menjadi haknya diambil orang lain. Ia tidak rela sedikit pun untuk membaginya. Perasaan ‘ketidakadilan’ ini akan semakin cepat tersulut ketika menggunakan pendekatan kelas: ‘kelas pemotor’ versus ‘kelas pemobil’. Aku versus kamu. Kita versus mereka.

Padahal, seandainya pemotor itu mau belajar mengemudi mobil dan kemudian membiasakan diri mengendarainya, perspektifnya tentang ‘keadilan’ dan ‘keserakahan’ bisa berubah. Demikian pula pengemudi mobil yang sudah terlalu lama tidak lagi mengendarai motor. Atau, pengemudi mobil yang bahkan mengemudikan motor saja belum pernah. Perlu untuk mencoba kembali mengendarai motor. Agar memahami bahwa pemotor yang tak segera menepi bukan berarti menantang. Tapi, karena menghindari lubang di tepi jalan.

Pendekatan kelas proletar versus borjuis, aku versus kamu, dan kita versus mereka seperti itu memang meniadakan dialog. Yang ada hanyalah opposite. Aku baik, kamu jahat. Tidak membuka kemungkinan ada yang baik dan jahat di masing-masing pihak. Padahal, pada diri seorang manusia pun, tidak mungkin hanya ada kebaikan tanpa keburukan. Atau keburukan tanpa kebaikan. Sebab, baik dan buruk sudah inheren dalam dirinya. Tinggal bagaimana manusia mengelola agar kebaikan bisa lebih dominan dibanding keburukannya.

Seperti cerita Dulgembul dan Matkriting di atas. Bagi Dulgembul yang melahap sendirian sepotong gedang goreng miliknya bisa dianggap bukan keserakahan. Sebab, itu adalah gedang goreng miliknya sendiri. Yang didapat dengan cara yang sah. Dengan membeli. Atau, diberi emaknya sendiri. Sementara, dia sedang sangat lapar.

Namun, pada saat yang sama, itu bisa dianggap pula sebagai keserakahan. Sebab, Matkriting yang duduk di sampingnya sama-sama sedang kelaparan. Tapi, tak memiliki apa pun untuk dimakan. Maka, mencuil bagiannya untuk diberikan kepada kanca plek-nya adalah upaya Dulgembul untuk menciptakan ‘kita’. Sembari meleburkan ‘aku’ dan ‘kamu’.

Di situlah, keadilan akan tercipta. Keadilan yang dihadirkan karena ada kemauan untuk paro edhang… (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia