Minggu, 25 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Features

Melihat Sisi Lain Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri

Lukisan Cekakik Jadi Pemikat Pengunjung

08 Juli 2019, 17: 19: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

lukisan cekakik kediri

PANGGUNG KREATIF: Nur Habib dan Anggota Komunitas Pelestari Sejarah dan Budaya Wiretno saat workshop lukis cekakik di Pekan Budaya dan Pariwisata. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Pekan Budaya dan Pariwisata selalu jadi jujukan warga Kediri dan sekitarnya. Banyak rangkaian acara yang ditampilkan sejak hari pertama. Salah satunya panggung kreatif komunitas menununjukkan berbagai kreativitas seniman.

MOCH. DIDIN SAPUTRO

Kawasan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) dipadati ribuan pengunjung sejak pagi. Sebagian besar dari mereka menanti arak-arakan mobil hias yang menjadi pembuka Pekan Budaya dan Pariwisata 2019. Selain mobil hias yang menjadi pusat perhatian, warga juga memilih mengunjungi sejumlah titik yang disiapkan.

Di salah satu titik, sejumlah orang terlihat memegang kap kertas. Mereka berjajar di sekitar panggung kreatif kawasan Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri. Mereka terlihat memerhatikan seorang pria paruh baya duduk bersila. Sembari membawa kanvas yang telah digambari karakter tokoh pewayangan.

Nur Habib, nama pria itu. Dia menjelaskan tentang pengalamannya melukis cekakik yang bisa bernilai jual tinggi. Hanya bermodalkan limbah minuman kopi yang selama ini dianggap tak berguna. “Kita manfaatkan limbah ini menjadi berkah,” cetus pria asal Kecamatan Kepung ini sembari menunjukkan hasil karnyanya.

Dari cetusan itu membuat satu per satu pengunjung berdatangan. Beberapa juga tampak mengabadikannya. Tak terkecuali sejumlah pengunjung memanfaatkan untuk mencoba belajar melukis dengan media dan bahan yang tak seperti layaknya lukisan.

Memang, Habib mengaku sengaja mengajarkan lukisan cekakik yang dianggap sampah itu. Namun di tangan seniman bisa bernilai. Menurutnya, melukis itu bebas menggunakan apa saja. Yang terpenting alat tersebut bisa digunakan sebagai alat mengungkapkan isi hatinya. “Selain kepuasan bisa mengungkapkan dengan lukisan juga bisa dapat berkahnya,” imbuh Habib.

Memang dari salah satu pengunjung, terlontar pertanyaan berapa harga lukisannya yang paling mahal. Habib menyebut pernah menjualnya dan laku dengan harga Rp 30 juta. Selain menjelaskan teknik melukis dengan cekakik, ia pun juga menceritakan pengalamannya yang sejak kecil telah hobi menggambar tersebut.

Afifah Khairunisa mengaku senang bisa belajar melukis dengan bahan ampas minuman kopi tersebut. Menurutnya lukisan dari cekakik itu bagus dan sangat unik. Ia menyebut Habib bisa memanfaatkan sesuatu yang jarang dilihat orang. “Padahal cekakik itu biasanya dibuang. Tapi di tangan Pak Habib bisa menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai jual tinggi,” ujar Mahasiswi IAIN Kediri tersebut.

Apalagi hasil karya Nur Habib itu menceritakan kebudayaan di zaman kerajaan. Itu menambah estetika dari hasil lukisan yang dibuatnya. “Dari hasil lukisannya bisa menggambarkan dan mengangkat kearifan local. Dan itu sangat menarik,” imbuhnya.

Kemarin, Afifah pun mencoba menggoreskan cekakik di media kap kertas. Ia mengaku itu susah-susah gampang. Sebab, komposisi antara cekakik dan air yang digunakan harus sesuai. Dan itu membutuhkan ketelatenan. “Lumayan sulit, yak arena masih pertama kali,” tukasnya.

Pekan Budaya dan Pariwisata memang menjadi ajang untuk menampilkan segala potensi yang dimiliki kabupaten ini. Menjadi agenda tahunan yang selalu membuat takjub orang. Berkumpulnya desa-desa wisata, pelaku usaha, hingga komunitas untuk menunjukkan produk dan karya mereka. Sebuah acara yang sangat sayang untuk dilewatkan. Bagi warga Kediri dan sekitarnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia