Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Nuning Sulistyani, Olah Sampah Plastik Jadi Peluang Bisnis

Ubah Pekarangan untuk Pengolahan

08 Juli 2019, 17: 02: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

nuning sampah plastik

PRODUKTIF: Nuning saat berada di pekarangan samping rumahnya yang dijadikan tempat untuk memilah sampah botol plastik (21/6). (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

   Masalah sampah plastik belum dapat diatasi dengan baik. Dari yang berserakan di pinggir jalan hingga di saluran air. Namun di tangan Nuning Sulistyani malah menjadi peluang bisnis. Bahkan membuka lapangan pekerjaan bagi tetangganya.

Suara kereta api siang itu terdengar sangat keras di salah satu rumah bercat putih di Dusun Payak, Desa Tanon, Kecamatan Papar. Memang, jarak rumah yang menghadap utara itu itu terpaut sekitar 50 meter dari rel kereta.

Tampak terlihat beberapa sampah botol plastik berserakan. Ada pula tempat sampah dari karung beras. Di dalamnya terdapat sampah botol-botol plastik di halaman. Tidak seperti rumah umumnya di dusun tersebut yang menghiasi halaman dengan pot bunga atau tanaman-tanaman hias.

Minggu Inspiratif Radar Kediri

Minggu Inspiratif Radar Kediri (radarkediri.id)

Keluarlah perempuan berkerudung cokelat muda dari pintu utama rumah itu. Sembari mempersilakan masuk, perempuan yang diketahui bernama Nuning Sulistyani itu menjelaskan, sampah plastiknya hendak dipindah ke dalam. “Biasanya, kalau lagi banyak sampah plastiknya, sampai ke halaman depan Mas, tidak seperti saat ini,” ujarnya kepada Minggu Inspiratif Radar Kediri.

Perempuan kelahiran 1981 itu menambahkan bahwa bisnis pengolahan sampah plastiknya dimulai akhir 2011. Awalnya juga tidak sebesar ini. Namun, karena usaha yang sungguh-sungguh dan doa, Nuning akhirnya dapat mengepakkan sayapnya lebih lebar terhadap usaha tersebut. Bahkan, ia juga membuka pekerjaan bagi para tetangganya.

Bisnis tersebut, lanjut Nuning, mengorbankan banyak waktu dan tenaga. Mulai saat bisnisnya masih kecil, ia mengorbankan pekarangan di timur rumahnya. Pekarangan yang awalnya digunakan untuk tanaman itu disulap menjadi tempat pengumpulan sampah botol plastik.

“Dulunya ditanami bermacam-macam tanaman dalam pot, ya dirawat sama saya dan ibu,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, Nuning juga menjelaskan, seiring berjalannya waktu, ia juga mengharuskan untuk mengubah kandang ternak di belakang rumahnya. Hal tersebut dilakukan karena orang tuanya juga sudah berhenti mengurusi ternaknya. “Karena juga umur orang tua juga sudah sepuh, terus beliau jual juga hewan-hewan ternaknya,” papar Nuning.

Melihat banyaknya sampah botol plastik yang menggunung di pekarangan samping rumahnya, Nuning pun memutuskan menggunakan pekarangan belakang bekas kandang hewan ternak. Sekarang kandang belakang rumah Nuning digunakan untuk memilah dan mengolah sampah botol plastik. Sedangkan di pekarangan yang semula tempat tanaman, digunakan untuk sampah botol plastik yang belum dipilah dan diolah.

Istri dari Ahmad Muhlis ini menjelaskan bahwa bermula dari banyaknya plastik yang menumpuk di rumah mertuanya. Menurut Nuning, sampah plastik adalah sampah plastik aki bekas. Karena mertuanya juga berjualan aki di rumahnya.

Dari kejadian tersebut, Nuning mulai berpikir memanfaatkan plastik aki yang tidak terpakai. Awalnya ia tidak tahu sama sekali tentang pengolahan sampah plastik. Hingga akhirnya ia mulai mencari melalui internet. “Karena awalnya saya juga bingung, tidak menemukan fungsi aki bekas,” paparnya.

Namun, namanya usaha pasti ada untung dan ruginya. Nuning mengaku bahwa dahulu sampah plastiknya pernah ditolak pabrik, hingga pernah dikirimi karung yang berisi beberapa batu dan air di di dalam botol plastik agar saat ditimbang beratnya pas. Hingga pada akhirnya para pengepul yang curang langsung ia blacklist dari kontaknya. “Kalau dari pabrik memang lebih teliti. Plastik harus dipisahkan sesuai jenisnya,” terangnya.

Nuning rugi hampir dua ton saat hendak diberikan ke pabrik. Dari pengalaman itu, akhirnya dia terus belajar memilih dan memilah plastiknya sendiri. Kini, ia hafal jenis-jenis plastik sesuai nama dan warnanya. Jenis plastik biasanya tertera di bagian bawah kemasannya.

Dengan usahanya ini, Nuning bersyukur dapat membantu perekonomian keluarganya. Selain itu, dapat membantu para tetangganya yang membutuhkan pekerjaan.

 

Ogah Kerja Kantor,  Pilih Wirausaha  

Jiwa wirausaha Nuning sudah terlihat sejak kuliah. Lulusan jurusan matematika MIPA di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, ini mengaku, pernah mencoba berbagai pekerjaan selama kuliah.

Mulai berdagang nasi pecel hingga membuka jasa fotokopi. Tidak merasa malu, Nuning malah lebih semangat. “Dulu banyak yang suka nasi pecel. Ramai yang pesen, jadi tambah semangat berjualan,” ujarnya.

Sambil kuliah, Nuning berjualan nasi pecel dan makanan lebih dari empat bulan. Bumbu pecel ia racik dari rumah. Lalu dibuat di tempat kosnya dan dikirim saat jam makan siang di kampusnya.

Karena jarak rumah dan kampus tidak begitu jauh, Nuning pernah dalam satu minggu pulang ke rumah untuk mengambil bumbu pecel. “Karena yang pesen banyak, Mas,” paparnya.

Jiwa wirausahanya terus dibangun karena Nuning tidak suka bekerja di kantor. Wanita 38 tahun ini pernah bekerja kantoran setelah lulus kuliah. Namun tidak lama, ia memutuskan untuk resign.

Mulai dari bekerja di bagian sparepart kendaraan hingga di salah satu perusahaan telekomunikasi, Nuning belum menemukan perasaan yang cocok dengan pekerjaannya. “Namun saat bekerja juga dijadikan pengalaman, namun ya tetap tidak cocok,” akunya.

Nuning juga menceritakan bahwa pernah bekerja sebagai pengajar murid SD. Hal tersebut ia lakukan saat masih kuliah, hingga ia pulang setelah lulus ia juga meneruskan menjadi guru les matematika dan ilmu pengetahuan alam (IPA) setingkat SD.

Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, setelah melahirkan anaknya, Nuning pun berhenti mengajar. Kesehariannya sekarang mengurus anak dan mengolah sampah botol plastiknya.

Dia mengatakan, lebih menyukai dunia bisnis dan menganggap jika apa yang dikerjakannya saat ini adalah anugerah, meski sehari-hari ia harus menghadapi sampah botol plastik. “Kegiatan apa saja yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membuat keberkahan bagi yang mengerjakan dan bagi sekitar,” pungkasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia