Kamis, 24 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Adu Balap, Olah Buah, dan Hoax

08 Juli 2019, 16: 44: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

Endro Purwito

Oleh: Endro Purwito (radarkediri.id)

Share this          

  “Harus diperiksa dahulu. Apakah yang ranum benar-benar matang? Jangan-jangan belum masak, atau malah ada yang busuk”

Dokumen berkop Federation Internationale de I’Automobile (FIA) yang beredar di grup WhatsApp (WA) itu terasa menyentak. Bahkan bikin heboh. Terutama para wartawan formula satu (F1).

Betapa tidak. Sekilas terlihat asli. Memajang logo formula satu yang persis. Isinya adalah keputusan stewards (komisi pengawas balapan) yang memvonis Max Verstappen, juara grand prix (GP) asal Belanda, penalti lima detik.

Gara-garanya, pembalap 21 tahun dari tim Red Bull ini terlibat insiden senggolan dengan Charles Leclerc, pembalap Ferrari, di putaran (lap) ke-70. Keputusan stewards ini tentu saja informasi penting. Sebab, dapat membatalkan kemenangannya.

          Bisa saja pembalap Aston Martin Red Bull yang menggunakan power unit Honda RA619H itu dituding curang. Insiden senggolan terjadi dalam seri balap F1 Austrian Grand Prix 2019 di sirkuit Red Bull Ring, Spielberg, Austria, Minggu (30/6).

          Adu cepat di kelas balap mobil formula bertempat duduk tunggal itu bak drama. Pada awal start, pacuan Verstappen tak berjalan mulus. Dari posisi tiga, dia tertinggal di posisi tujuh. Meski begitu, pembalap dari Negeri Kincir Angin ini tak patah arang.

          Dia bangkit lap demi lap. Beberapa pembalap didahului. Hingga putaran ke-7 posisinya naik menjadi enam. Mendekati finis di lap-lap terakhir, hanya mobil Charles Leclerc yang memunggungi Verstappen. Kedua pembalap saling adu cepat. Mereka berambisi berebut posisi terdepan.

Aksi overtake –susul-menyusul– berlangsung seru. Ketika itulah drama senggol terjadi. Pada lap ke-69 Verstappen melancarkan manuver mendahului Leclerc. Kedua mobil sama-sama memasuki tikungan ketiga.

Verstappen menikung mengambil sisi dalam. Dia melakukan late brake. Ini teknik mengerem yang bertujuan menyalip lawan saat berada di tikungan. Dalam penerapannya, pembalap profesional harus benar-benar mengukur dan melihat kemungkinan apakah teknik tersebut bisa dilakukan. Termasuk memikirkan faktor keamanan dan keselamatan.

Strategi late brake Verstappen membuat kendaraannya sedikit melebar ketika keluar tikungan. Di sisi lain, Leclerc yang mengambil sisi luar tikungan mencoba kembali ke racing line. Akibatnya, senggolan tak terhindarkan. Walau begitu, keduanya tetap bisa melanjutkan balapan.

Insiden itu pun menjadi perhatian komisi pengawas balapan. Tetapi, pada akhirnya mereka memutuskan aksi Verstappen menyalip Leclerc sah. Kedua mobil tidak punya ruang tersisa yang cukup untuk menghindari senggolan di ujung tikungan. Hal tersebut dianggap wajar dalam adu balapan yang keras. Pengawas menyatakan tidak menemukan indikasi kecurangan.

Makanya, ketika beredar dokumen FIA yang menyatakan keputusan stewards mengganjar Verstappen penalti lima detik, awak media F1 menganggapnya informasi penting. Sejumlah wartawan lantas mengunggah dokumen tersebut ke akun media sosialnya. Sebagian lagi bahkan telanjur menuangkannya dalam berita.

Namun, selang beberapa saat kemudian, hasil keputusan stewards yang asli muncul. Hasilnya, justru sebaliknya. Stewards menganggap senggolan tersebut adalah race incident biasa. Maka tidak ada penalti untuk Verstappen.

Dokumen tersebut rupanya hoax. Wartawan yang telanjur mengabarkan surat FIA palsu itu pun kalang kabut. Mereka lalu ramai-ramai meminta maaf pada warganet sekaligus menghapus cuitan atau posting-an sebelumnya (Jawa Pos, 2 Juli 2019).

Hoax atau informasi bohong sungguh menyesatkan. Tak hanya di ajang balap, kabar palsu itu bisa menyusup dalam setiap informasi semua bidang. Bukan hanya olahraga. Namun,nyaris di semua ranah informasi dalam kehidupan masyarakat.

Pesta demokrasi pemilihan presiden (pilpres) pun tak luput dari penyebaran virus hoax. Pelaku yang mengemasnya tentu memiliki tujuan tertentu. Itu demi kepentingan yang menguntungkan diri dan kroninya. Ada yang termakan isu sesat itu. Namun, banyak yang tidak. 

 Bisa saja terjadi perpecahan akibat penyebaran kabar sesat tersebut. Sebab terindikasi kuat ada siasat untuk memecah belah. Hoax memang sengaja dibuat untuk memanas-manasi dan menghasut. Sehingga menimbulkan gejolak massa. Ujung-ujungnya terjadi permusuhan dan pertikaian.

Hampir saja kerukunan dan persatuan tercerai-berai. Beruntung sudah banyak masyarakat yang dewasa dan bijak menyikapi informasi. Ibarat ingin  menikmati es buah. Informasi adalah buah yang belum dapat dimakan mentah-mentah.

Namun, harus diperiksa dahulu. Apakah yang ranum benar-benar matang? Jangan-jangan belum masak, atau malah ada yang busuk. Perlu dipastikan. Buah pun harus dibersihkan sebelum diolah. Dicuci, dibilas, lalu dikuliti atau dikupas.

Kemudian diiris, bila perlu juga diperas. Lalu saring dengan jernih supaya aman dan nyaman di pencernaan. Dengan demikian, es buah yang kita nikmati tak sekadar segar. Namun juga menyehatkan.

Begitu penting dan berharganya informasi, sebelum dipublikasikan menjadi berita di media massa harus melalui proses yang ketat dan selektif. Seperti kasus tersebarnya dokumen FIA misalnya. Pewarta semestinya tidak langsung mengunggah atau mem-posting informasi yang diperoleh mentah-mentah. Apalagi yang belum jelas sumbernya.

Kendati dokumen itu memajang kop FIA yang mentereng, wartawan tetap perlu hati-hati. Periksa lebih dalam dan detail serta lengkapi data. Harus dilakukan upaya check and balancing. Ini agar informasi yang diberitakan tepat, akurat, dan benar.

Pewarta memiliki tugas memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui informasi. Karena itu, mereka harus melakukan verifikasi terhadap kebenaran informasinya. Tak cukup hanya memberitakan yang sedang viral. Apalagi sekadar asal comot. Dengan begitu, publik bisa mendapatkan informasi yang jelas sumbernya. Penyampaian berita pun tak cukup asal cepat tetapi kemudian diralat. Hal ini tentu tak sehat.

Lebih cepat memang lebih bagus. Namun, harus didukung liputan yang lengkap dengan konten berita lebih akurat, detail dan dalam. Ini membuat penikmatnya kenyang sekaligus sehat. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia