Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Dairul Bertugas Memulasara Jenazah di Kamar Mayat RSUD Gambiran

Bila Tak Utuh Harus Dijahit Dulu

05 Juli 2019, 18: 06: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

mayat

LOYAL: Dairul sedang memeriksa alat yang digunakan untuk pendingin jenazah di kamar mayat RSUD Gambiran, Kota Kediri, kemarin. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

  Menjadi petugas pemulasaraan jenazah bukan hal sepele. Butuh keberanian khusus dan tanggung jawab. Pekerjaan inilah yang dilakoni Dairul. Di kamar mayat yang jadi ruang kerjanya, ia harus memandikan hingga mengkafani.

 

DWIYAN SETYA NUGRAHA

 

Di ruangan yang berada paling ujung dari bangunan utama RSUD Gambiran, Kota Kediri tampak berjejer mobil jenazah. Suasana sunyi menyelimuti ruangan berukuran 15 x 10 meter itu. Ruangan tersebut merupakan kamar mayat. Di ruangan inilah Dairul bertugas menjadi petugas pemulasaraan jenazah.

Ia bertanggung jawab melakukan proses perawatan jenazah. Tugasnya meliputi kegiatan memandikan, mengkafani, menyalati, dan pemakaman jenazah. Pekerjaan itu sudah menjadi rutinitas Dairul di rumah sakit milik Pemkot Kediri tersebut.

Hampir delapan tahun ia bekerja di bagian pemulasaraan jenazah. Awalnya, bapak dua anak ini tidak pernah terbayangkan akan menekuni pekerjaan ini. “Kali pertama saya kaget saat dipindah di bagian pemulasaraan jenazah. Karena saya merasa canggung dengan orang yang sudah meninggal,” ungkapnya ketika ditemui Jawa Pos Radar Kediri di kamar jenazah rumah sakit.

Hampir setiap hari bersama rekannya yang lain, Dairul diberi tugas merawat mayat yang masuk di ruang jenazah. Di tempat kerjanya, dia tampak sibuk membersihkan ruangan yang digunakan untuk memandikan jenazah.

Sesekali, Dairul juga membersihkan mortuary refrigerator. Alat ini merupakan lemari pendingin untuk jenazah yang diinapkan di kamar mayat. “Iya gini, kita harus tetap berjaga jika sewaktu-waktu ada mayat baru,” ujarnya.

Jenazah yang diinapkan di kamar mayat tersebut kebanyakan merupakan jasad yang tanpa identitas. Di antaranya ada gelandangan yang meninggal. “Kalau sudah melebihi satu minggu akan kita makamkan di TPU (tempat pemakaman umum),” tandas pria yang tinggal di Desa Sidomulyo, Kecamatan Semen ini.

Saat wartawan koran ini bertandang di kamar mayat RSUD Gambiran, jarum jam tepat menunjukkan pukul 19.30 WIB. Malam itu dengan sigap Dairul beraktivitas dalam ruangan kerjanya tersebut.

Padahal kala itu tidak ada jenazah yang diinapkan di sana. Di ruangan yang dilengkapi dengan tiga tempat pemandian jenazah ini, banyak suka duka yang dirasakan Dairul selama menjadi petugas pemulasaraan jenazah.

Salah satunya, ia merasa takut saat kali pertama dipindahtugaskan menjadi petugas pemulasaraan jenazah. Sebelumnya, pria yang tahun ini menginjak usia 41 tahun tersebut bertugas sebagai cleaning service.

Di awal kerjanya sebagai pemulasara jenazah, Dairul harus bertugas memandikan mayat korban kecelakaan. “Awalnya takut, tapi akhirnya sudah terbiasa,” terangnya.

Bahkan, dia merasa tak tega ketika harus melihat beberapa tubuh jenazah yang sudah terpisah dari organ yang lain. Dengan kondisi tubuh yang sudah tak lengkap itu, Dairul harus menjahitnya terlebih dahulu sebelum dilakukan proses pemandian.

“Pertama kali tak tega lihat organ tubuh yang berceceran, apalagi saat memandikan dalam posisi tubuh tak lengkap,” kenangnya.

Yang menarik, selama melakukan piket jaga di ruangan tersebut, Dairul sering mendengar suara-suara aneh. Salah satunya, terdengar suara orang mandi dan suara kereta jenazah yang jalan sendiri.

Bahkan, tak jarang ia juga mendengar sirine mobil ambulans bunyi sendiri. Padahal, mesin kendaraan itu tak menyala. Mobil tersebut terparkir di depan ruangannya. “Sering Mas, saya dengar sirine bunyi sendiri. Tapi saya sudah biasa,” urainya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia