Minggu, 18 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Events

Anugerah Desa 2019: Olah Limbah, Cegah Lingkungan Tercemar

05 Juli 2019, 18: 02: 15 WIB | editor : Adi Nugroho

anugerah desa semen

FUNGSI LAHAN: Tim juri Anugerah Desa 2019 melihat kondisi taman toga di pekarangan KUD Desa Sidomulyo, Kecamatan Semen, kemarin. (Bagus Choco - radarkediri.id)

Share this          

    KEDIRI KABUPATEN – Proses penjurian tahap kedua Anugerah Desa 2019 terus berlanjut. Kemarin (4/7), tim juri bertandang ke Desa Sidomulyo, Kecamatan Semen. Kepala desa bersama perangkatnya mengandalkan program inovasi terbaik bidang pengelolaan lingkungan.

    Mereka menangani sampah rumah tangga dan pasar desa yang selama ini menjadi masalah warga. Pasalnya, dahulu sampah dibuang sembarangan dan menumpuk. Masih banyak yang belum menyadari pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

    “Dahulu sampah dibuang sembarangan malam-malam. Akhirnya mengganggu lingkungan,” ujar Kepala Desa (Kades) Sidomulyo Damam Hidayat.

Anugerah Desa 2019

Anugerah Desa 2019 (radarkediri.id)

Imbasnya, lingkungan kotor. Selain menebar bau tak sedap, juga bisa menimbulkan pencemaran dan mengganggu kesehatan.  Karena itu pemerintah desa bersama masyarakat berembuk. Hasilnya, pada 2016 dibuatlah bank sampah. Untuk mengelolanya dibentuk kelompok. Puma namanya.

“Itu singkatan dari Klepu Mandiri. Klepu adalah nama salah satu dari lima dusun di Sidomulyo,” terang Agus Patnomo, ketua pokja pemanfaatan pekarangan Puma.

Menurutnya, tugas kelompok mengelola bank sampah. Termasuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Caranya dengan melakukan sosialisasi dan penyuluhan.

Mereka juga terjun langsung menangani sampah. Untuk limbah kotoran ternak diolah menjadi pupuk bokashi atau kompos. Kelompok Puma yang diketuai Sri Nurhayati juga mengambil sampah di rumah warga. Lalu mengangkutnya ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

Untuk itu, pemerintah desa memberikan bantuan kendaraan motor gerobak beroda tiga. “Sampah kami pilah dahulu. Sebab yang dikelola di bank sampah hanya sampah kering. Yang basah belum bisa memproses,” kata Sri.

Dia mengungkapkan, sampah kering seperti plastik dari warga dikumpulkan di bank sampah. Umumnya yang mengumpulkan adalah ibu-ibu. Kemudian, pengelola menjualnya ke pengepul. Hasil, penjualan di simpan di bank sampah. “Uang dari setoran sampah yang terkumpul itu biasanya dibagikan saat Lebaran,” ungkap Sri.

Dengan demikian ibu-ibu rumah tangga bisa memperoleh penghasilan. Menurut Sri, setiap ‘nasabah’ bisa menerima hasil dari tabungan di bank sampah tersebut lebih dari Rp 200 ribu. “Tergantung dari banyak sedikitnya sampah yang dikumpulkan. Bila semakin banyak, ya perolehannya juga banyak,” paparnya.

Semua kegiatan pengelolaan sampah itu dipusatkan di gedung bekas koperasi unit desa (KUD). Pekarangan di sekitar eks kantor koperasi tersebut dimanfaatkan untuk taman tanaman obat keluarga (toga). Dari hasil budi daya toga itu, pengelola bank sampah dapat membuat minuman jamu tradisional. Hanya saja pemasarannya masih belum meluas.

Sedangkan untuk tumbuh kembang toga, Agus mengungkapkan, kelompok Puma menggunakan pupuk bokashi. Itu merupakan manfaat dari pengelolaan limbah peternakan yang mereka proses dengan fermentasi. “Dahulu obat (bahan kimia) untuk fermentasi kami beli. Sekarang kami bisa kembangkan sendiri,” katanya.

Pemerintah desa pun mendukung penuh program tersebut. Untuk menyukseskannya dialokasikan anggaran sebesar Rp 45 juta dari APBDes tahun ini. Di awal program dahulu, pada 2016 alokasi dananya masih Rp 15 juta.

Agar kebersihan lingkungan terus terjaga, Kades Damam menambahkan, warga diajak kerja bakti. Dia sendiri ikut terjun membersihkan lingkungan. Kegiatan ini rutin tiap minggu. 

Untuk tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, Damam mengungkapkan, pihaknya tidak khawatir. Pasalnya, telah memiliki lahan yang memadai. Luasnya sekitar 225 ru. Panjangnya sekitar 200 meter dengan lebar 50 meter, dan kedalamannya hingga 25 meter. “Lokasinya strategis di sledotan bengkok desa,” urainya.

Untuk mempermudah akses membuang sampah ke TPA, lanjut Damam, pihaknya telah memperlebar jalur jalan ke sana. Kini lebar jalurnya sampai 3 meter. “Dengan lahan TPA seluas itu, kami tidak bingung lagi tempat buang sampah. Termasuk sampah dari aset pasar desa, tidak bingung harus buang ke mana,” paparnya.

Ke depan, Damam mengatakan, akan memberlakukan retribusi untuk pihak luar desa yang membuang sampah di TPA desanya. “Harapannya nanti di sini dapat merekrut tenaga kerja. Desa juga memperoleh penghasilan dari jasa penanganan sampah di TPA,” tuturnya.

Selain Desa Sidomulyo, tim juri juga menilai inovasi Desa Kanyoran di Kecamatan Semen. Pemerintah desanya mengunggulkan program inovasi terbaik bidang pengelolaan pertanian. Wujudnya berupa budi daya tanaman buah durian montong.

Menurut Jumadi, kepala urusan (kaur) keuangan Desa Kanyoran, program tanam durian berawal sekitar 2002. Waktu itu, Bupati Kediri Sutrisno mengajak kepala desa dan dirinya studi banding budi daya durian ke Thailand. Setelah itu, desanya mendapat bantuan 10 ribu bibit durian dari pemerintah daerah.

“Bibit tersebut segera dibagikan agar ditanam. Saya sendiri tambah 100 batang bibit,” ungkapnya.

Sekitar empat tahun kemudian, sudah tampak hasilnya. Pohon tumbuh subur dan buah duriannya banyak. Rasanya pun lezat. Dagingnya tebal dan bijinya kecil. Ini lantaran struktur tanah dan iklimnya cocok.

Dari situlah, akhirnya pada 2007 banyak warga yang ikut menanam sendiri. “Tahun ini puncaknya, hampir semua menanam. Pokoknya hampir semua pekarangan warga pasti ada tanaman buah durian,” kata Jumadi.

Pemerintah desa didukung pemerintah kecamatan pun membantu dengan proyek pipanisasi untuk pengairan pohon durian. Pasalnya, tanaman ini membutuhkan banyak air untuk tumbuh kembangnya. “Makanya kami dukung dengan jaringan pipanisasi agar tidak kekurangan air,” ungkap Agus Trijono, kasi PMD Kecamatan Semen. 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia