Minggu, 15 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Kena Vonis 18 Bulan karena Tak Setor Uang Nasabah

05 Juli 2019, 16: 37: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

penggelapan uang nasabah

TERIMA: Lintang saat menandatangani berkas. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

 KEDIRI KOTA – Lintang Pandu Wirawan, 31, karyawan marketing PT Radana Finance (RF), diganjar hukuman satu tahun enam bulan atau 18 bulan penjara. Gara-garanya, pria asal Nganjuk ini tak menyetorkan uang pembayaran nasabah ke perusahaan. Totalnya Rp 75 juta.

“Terdakwa terbukti secara sah melakukan tindak pidana penipuan,” ujar Hakim Ketua Sulistyo Muhammad Dwi Putro di ruang Candra Pengadilan Negeri (PN) Kota Kdiri sekitar pukul 11.30, kemarin.

Putusan itu lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tatik Herawati. Sebelumnya, Lintang dituntut dua tahun penjara. Dia melanggar pasal 374 KUHP tentang penggelapan.

Kasusnya terjadi pada Januari 2018. Sebelumnya, pada November 2017 Lintang diangkat sebagai Credit Marketing Officer NMC sekaligus marketing surveyor di bidang pembiayaan motor dan peminjaman dana. Dia bertanggung jawab survei kelayakan calon debitor sekaligus memverifikasi dan validasi datanya.

Selama Januari sampai 30 Juni 2018 terdakwa melakukan penarikan angsuran  dan menerima titipan angsuran dari nasabah. Saat itulah tanpa sepengetahuan dan seizin pimpinan perusahaan, Lintang tak menyetorkan sebagaimana mestinya.

“Jadi total kerugian yang tidak dibayarkan terdakwa ke perusahaan sebesar Rp 76.234.500,” ungkap Sulistyo.

Pertimbangan yang memberatkan, perbuatan Lintang meresahkan para nasabah. Sedangkan yang meringankan, selama persidangan ia bersikap sopan dan terus terang. “Terdakwa menyesal dan tidak akan mengulangi,” jelas Sulistyo.

Setelah membacakan putusan, Sulistyo memberikan kesempatan Lintang menanggapi. Dia pun pasrah dengan menerima putusan hakim. “Saya terima Yang Mulia,” pungkasnya kemudian menyalami JPU dan majelis hakim.

Ketika Jawa Pos Radar Kediri mengonfirmasi ke JPU terkait vonis hakim lebih rendah dari tuntutan, Tatik menjawabnya secara normatif. “Memang, terdakwa baru sekali melakukan perbuatan tersebut (penggelapan,Red),” tandasnya.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia