Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Fadona Titalyana, Petenis Nasional Asal Tunge, Wates

Bermotor dengan Ayah saat Ikuti Turnamen

05 Juli 2019, 16: 31: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

juara tenis

RAIH MEDALI: Kenangan Donna, bersama dengan keluarga, usai mendapatkan medali di salah satu kejuaraan.

Share this          

  Orang tua menjadi inspirasi bagi Fadona Titalyana Kusumawati dalam mencapai prestasi. Setiap kali hendak bertanding, petenis ini selalu menghubungi sang ortu. Menambah semangatnya memenangkan pertandingan.

IQBAL SYAHRONI

Dinding rumah di Desa Tunge, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri itu terisi belasan foto berbingkai. Semuanya adalah foto Fadona Titalyana Kusuwati, atau yang karib disapa Dona. Anak kedua pemilik rumah, pasangan Slamet Rianto dan Naning Sulistyowati. Dan, hampir semua foto itu menggambarkan aktivitas Dona di cabang tenis lapangan. Mulai foto bersama tim tenis Asian School Games 2017 di Singapura, foto bersama Menpora Imam Nahrawi, juga ada foto bersama atlet bulutangkis Taufik Hidayat.

Di sudut ruang tamu, terdapat lemari yang berisi puluhan piala. Juga ada medali yang tergantung di lemari kecil itu. Ada pula raket tenis yang dipajang, tergantung di dalam lemari.

“Itu raket tenis yang dibanting oleh Dona, saat kalah dalam Popnas di Semarang, beberapa tahun yang lalu,” terang Rianto, saat ia masuk ke ruang tamu.

Sembari menunggu Dona beristirahat dari latihannya di klub tenis Sukoharjo, Rianto dan Naning menceritakan tentang anaknya yang baru lulus Sekolah Khusus Olahragawan (SKO) Ragunan, Jakarta itu. Memang, setelah lulus itu, Mei 2019, Dona langsung melanjutkan karir tenisnya dan bergabung bersama  Kentung, klub tenis asal Sukoharjo, Jawa Tengah. “Mei lulus, pulang sebentar ke Kediri saat Lebaran, lalu berangkat lagi ke Sukoharjo,” imbuh Rianto.

Melihat putrinya tumbuh sebagai sosok yang mandiri dan bertekad keras membuat keduanya bangga. Mereka pun berusaha memberi support. Sejak masuk ke SMP Ragunan, Rianto selalu berusaha menyaksikan setiap pertandingannya.

Bila tidak, Dona juga selalu menyempatkan diri menghubungi  kedua orang tuanya. Baik melalui pesan singkat atau menelepon langsung. “Biasanya meminta doa, dan ngabari kalau mau tanding. Tapi biasanya jauh-jauh hari kami sudah dikabari,” terang Rianto.

Pria 53 tahun itu ingat betul perjuangan istrinya demi memuluskan jalan sang anak. Mengantarkan Dona di berbagai kejuaraan . Bahkan sejak sang anak duduk di bangku SD. Tak peduli harus naik kendaraan umum ke luar kota. Kala itu Rianto masih bekerja di Kalimantan.

Setelah itu, Rianto rela keluar dari pekerjaannya. Ganti membuka usaha ternak bebek petelur. Sejak itu dia juga menyempatkan diri mengantarkan putrinya ke berbagai turnamen. “Kadang naik bus, kadang naik motor. Berdua dengan Dona,” kenangnya.

Sesaat kemudian, bel telepon berdering. Yang menghubungi adalah Dona. Dia sudah usai berlatih di klubnya.

Dona menceritakan bahwa ia saat ini tengah melakukan persiapan pra PON 2020 di klub tenisnya di Sukoharjo. Perempuan 20 tahun itu menjelaskan bahwa sebelumnya, ia mengikuti kejuaraan  Pertamina 25K ITF Women’s Circuit yang baru saja selesai pada 27 Juni 2019 lalu. “Masuk sampai ke quarter final. Tapi kalah,” imbuhnya

Sejak kecil, Dona memang suka olahraga. Dia awalnya sering bermain dengan teman-teman SD-nya. Baik itu sepak bola , basket, bulutangkis. Bakat tenisnya mulai terlihat oleh guru di sekolahnya. Yang memintanya lebih fokus pada cabang ini.

“Dari situ saya rajin ikut latihan tenis di lapangan di Wates. Kalau tidak salah waktu itu sekitar kelas tiga SD,” imbuhnya.

Di turnamen tenis pertamanya, Dona langsung jadi runner up. Hebatnya, karena saat itu kategorinya tak membedakan laki-laki dan perempuan, hanya Dona seorang wanita yang naik podium.

 “Yang paling membanggakan saat mewakili Indonesia saat bertanding di Asian School Games di Singapura 2017. Juga saat di India dan di Australia,” ujarnya mengakhiri percakapan.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia