Minggu, 15 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Events

Anugerah Desa 2019: Periksa Dijemput, Obat Pun Gratis

05 Juli 2019, 16: 20: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

anugerah desa

KARTU SAKTI: Warga menunjukkan KKS-nya saat periksa di Poskesdes Kandat. (Tauhid Wijaya - radarkediri.id)

Share this          

    KEDIRI KABUPATEN - Inovasi yang dimunculkan para kepala desa bersama perangkatnya di Kabupaten Kediri terus berkembang. Hal itu tercermin dari penjurian tahap kedua Anugerah Desa 2019 yang mulai berjalan minggu ini. Program-program yang dimunculkan cukup inovatif.

   Seperti Kartu Kandat Sehat (KKS) yang digagas oleh Pemerintah Desa Kandat, Kecamatan Kandat. Lewat program ini, masyarakat setempat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis di desanya. Tak perlu harus ke puskesmas kecamatan yang jaraknya relatif jauh. “Jarak memang menjadi kendala bagi warga kami untuk mengakses layanan kesehatan di puskesmas,” ujar Kepala Desa Kandat Elmy Yuni Suntari dalam penjurian, kemarin.

   Untuk diketahui, penjurian tahap kedua dilakukan terhadap desa-desa yang lolos tahap pertama. Yakni, desa yang isian kuesionernya dianggap layak dan memenuhi standar penilaian. Penjurian tahap kedua dilakukan untuk memperdalam isian kuesioner tersebut sekaligus melakukan verifikasi lapangan.

Anugerah Desa 2019

Anugerah Desa 2019 (radarkediri.id)

   Yang menarik, program KKS di Desa Kandat merupakan pengembangan dari program sebelumnya. Yaitu, mobil siaga untuk layanan kesehatan warga. Program tersebut mengantarkan desa ini sebagai nominator inovasi bidang kesehatan pada Anugerah Desa 2017.

   Sebagian hadiah pada 2017 itulah yang digunakan untuk mengembangkan pos kesehatan desa (poskesdes) di kompleks balai desa. “Kami belikan alat-alat kesehatan. Juga pembangunan toilet poskesdes. Kalau bangunan utama poskesdes kami ambilkan dari APBDes,” terang Elmy.

   Ia mengakui, penghargaan pada Anugerah 2017 sebagai nominator bidang kesehatan menantang segenap aparat desanya untuk melangkah lebih maju lagi. Perwujudannya adalah optimalisasi poskesdes tersebut. “Lalu kami kembangkan lagi dengan membuat KKS,” tuturnya.

   KKS diberikan untuk semua warga berdasar data kepala keluarga (KK). Satu KKS bisa digunakan untuk semua anggota keluarga. Dengan kartu itu, mereka bisa mendapat pelayanan kesehatan gratis di poskesdes yang buka sesuai hari dan jam kerja kantor. Yakni, Senin sampai Jumat mulai pukul 08.00-14.00.

   Layanan kesehatan berlaku menyeluruh. Mulai balita hingga lansia. Juga, pemeriksaan dan senam ibu hamil. Ada satu bidan dan asisten yang melayani. Mereka dibantu pula oleh kader-kader posyandu. “Untuk lansia, tidak perlu datang sendiri. Kami lakukan antar-jemput dengan mobil siaga,” tambah Elmy.

   Untuk semua itu, tahun ini desa menganggarkan Rp 53 juta dari dana desa plus Rp 26 juta dari pendapatan asli desa (PAD). Selain untuk membeli obat-obatan dan kelengkapan alat kesehatan seperti autocheck strip asam urat, kolesterol, dan sejenisnya, anggaran itu juga untuk honor bulanan asisten bidan. Termasuk, operasional mobil siaga. “Sebenarnya masih kurang. Tapi, kami optimalkan anggaran yang ada dulu,” tandas Elmy yang ke depan ingin mendatangkan dokter jaga di poskesdes tersebut.

   Mujiati, 52, warga yang ditemui saat mengantre di poskesdes, mengaku merasakan betul manfaat KKS. Dia sudah lima kali datang ke sana menggunakan KKS. Gratis. “Ini tadi keluhannya darah rendah. Pusing,” akunya kepada Jawa Pos Radar Kediri. Terkadang ia diantar keluarganya. Terkadang memanfaatkan layanan antar-jemput mobil siaga.

   Selain di Desa Kandat, penjurian kemarin dilakukan di Desa Purwodadi dan Desa Deyeng, Kecamatan Ringinrejo. Purwodadi mengandalkan program mobil siaga untuk inovasi bidang kesehatan. Sedangkan, Deyeng program pembinaan kelompok macapat untuk inovasi bidang pelestarian kesenian tradisional.

   Salah satu yang menarik, selain menyediakan satu unit mobil siaga milik desa, Pemerintah Desa (Pemdes) Purwodadi juga menyiapkan 12 unit mobil siaga milik warga. “Kami membikin MoU dengan warga yang bersedia kendaraannya dipakai sebagai mobil siaga,” kata Kades Purwodadi Komari.

   Dengan demikian, jika mobil siaga milik desa sedang dipakai, warga yang membutuhkan tidak kebingungan. Semua juga gratis. Sopirnya disediakan oleh desa lengkap dengan honornya. Warga hanya diminta untuk mengisi BBM-nya sendiri. Terkadang digratiskan pula jika tidak mampu.

   Sedangkan di Deyeng,pelestarian dilakukan dengan melakukan fasilitasi terhadap paguyuban macapat yang sudah ada. Di antaranya dengan menampilkannya secara berkala pada kegiatan desa. Juga, mengimbau warga untuk 'nanggap' jika punya hajatan. “Pada 2015 kami sempat menganggarkan Rp 10 juta untuk membeli peralatan gamelan,” terang Kades Samsul Hadi.  

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia