Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Mengatasi Kekayaan

03 Juli 2019, 12: 43: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

Suko Susilo

Oleh : Suko Susilo (radarkediri.id)

Share this          

Biasanya, terkait ide menyejahterakan rakyat, dibuatlah judul yang langsung menuju sasaran, yaitu Mengatasi Kemiskinan. Tapi, dalam tulisan ini saya ingin mengingatkan bahwa mengatasi kemiskinan juga dimungkinkan melalui ide mengatasi kekayaan. Semoga judul ini cukup provokatif untuk menggelitik urat baca Anda.

Sejak dulu hingga kini, obsesi terbesar masyarakat dan pemerintah adalah lenyapnya kemiskinan. Wajar, karena bumi Nusantara ini dikaruniai kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Bahkan, Koes Plus menggambarkan kesuburan tanah negeri ini ibarat tongkat dan kayu, bahkan batupun jadi tanaman dalam lagu Kolam Susu. Kekayaan dan kesuburan itu memang tidak mengada-ada. Tapi, sekalipun demikian, sebagian besar rakyat negeri ini tetap miskin.

Saat masih kecil kita dipahampaksakan bahwa negeri ini adalah negeri agraris. Tapi petaninya tak terlihat kaya, bahkan sebaliknya. Sejak kecil kita tahu bahwa negeri ini adalah negeri maritim, tapi nelayannya melarat. Mohon maaf, tentu saya tidak berhasrat mengerdilkan atau bahkan melecehkan mereka. Memang sebagian petani dan nelayan cukup sejahtera bahkan kaya.

Mengapa begitu susah mencari nafkah di negeri yang sering dibangga-banggakan bak untaian permata di khatulistiwa ini? Sampai-sampai di banyak perempatan jalan dan kendaraan umum selalu terlihat pengemis dan pengamen. Bahkan, generasi muda terpelajar pun berkeluh kesah khawatir masa depannya segelap warna toga yang dipakai di hari wisudanya.

Sebenarnya, telah tak terhitung berapa banyak program pemerintah pusat maupun daerah diarahkan untuk memberantas kemiskinan. Dari dulu hingga kini seperti tak bosan tiap rezim menggaungkan target hilangnya kemiskinan. Berbagai macam seminar tentang kemiskinan dilaksanakan. Tapi lucunya, diskusi kemiskinan kok dilaksanakan di hotel berbintang. Wangi dan jauh dari bau tahi ayam layaknya hunian orang miskin.

Dulu jaman Orde Baru, ada teori dan strategi pembangunan trickledown effect. Harapannya, kue yang menggumpal di atas bisa menetes lebih merata dinikmati rakyat di bawah. Saya yakin bahwa para ekonom Orde Baru yang menggagas teori itu bermaksud baik. Tapi, perhitungan itu hanya terjadi di atas kertas. Karena, praktik nepotisme, kolusi, dan korupsi menjadi penghalang tetesan itu sehingga rakyat tetap dipeluk kemiskinan.

Kalau mau jujur, selama ini kita terlalu fokus pada kemiskinannya sendiri. Sering terlupakan bahwa kemiskinan itu bisa juga muncul karena kekayaan. Sehingga, sebenarnya mengatasi kemiskinan juga sangat perlu dibarengi dengan mengatasi kekayaan.

Upaya mengatasi kekayaan bukan berarti orang Indonesia tak boleh kaya. Yang saya maksud dengan mengatasi kekayaan adalah upaya melalui aturan yang berkekuatan hukum bagi proses seseorang mendapatkan kekayaan. Juga dipertimbangkan membuat kebijakan yang mengatur sedapat mungkin kekayaan tersebut bermanfaat bagi semua masyarakat. Kekayaan itu harus juga bisa diakses dan diperebutkan secara fair dan sehat bagi siapa saja yang secara objektif memiliki hak untuk itu.

Adalah kenyataan pahit bahwa kekayaan negeri ini hanya menggumpal di sejumlah kecil orang. Kira-kira, hanya 200 hingga 300 orang saja yang menguasai kekayaan Indonesia. Padahal jumlah penduduk Indonesia saat ini hampir menyentuh angka 280 juta jiwa. Jika konsentrasi kekayaan itu tak terkontrol, maka dampaknya terhadap mayoritas penduduk ini akan cenderung lebih kuat daripada upaya pengentasan kemiskinannya.

Apalagi jika jumlah yang kecil itu tidak memiliki komitmen yang baik terhadap problem kemiskinan sebagai problem bersama. Mereka hanya berusaha terus mencari cara menumpuk kekayaannya sendiri. Jika hal itu terjadi, maka sungguh hal ini menakutkan.

Mungkin peraturan yang mengarah pada pengendalian terjadinya penumpukan kekayaan sedikit banyak telah ada. Tidak terkecuali itikad struktural menyiasati agar hal tersebut tak terjadi. Tetapi, juga tidak boleh dilupakan upaya mengatasi konsentrasi kekayaan itu melalui penghindaran terjadinya kolusi, korupsi, dan nepotisme.

Dalam waktu yang relatif tidak jauh ke depan, Kediri ini akan memiliki bandara internasional. Wilayah inipun akan dilintasi jalan tol. Tentu karena itu, wilayah ini menjadi eksotik bagi para investor. Saya hampir yakin jika Wali Kota Kediri dan Bupati Kediri dikunjungi investor tiap hari. Mereka siap menerkam peluang bisnis akibat adanya bandara dan jalan tol.

Ibarat gadis, kota ini menjadi semakin cantik nan mempesona. Kecantikan itu menjadi berkah atau musibah tentu tergantung niat dan cara mengelolanya. Jika pesona Kediri ini dapat dikelola dengan memerhatikan spirit kebaikan bersama seluruh masyarakat yang mendiaminya, maka kelak akan menjadi berkah.

Pesonanya harus dijaga agar tidak hanya dinikmati oleh orang-orang kaya yang cuma ingin semakin kaya tanpa komitmen ikut memberantas kemiskinan di wilayah ini. Kehati-hatian menerima dan menata investasi itulah yang saya maksud dengan mengatasi kekayaan.

Sebaliknya, jika pesona ekonomi Kediri ini hanya dimaksudkan untuk menandai gengsi kota menjadi metropolitan maka niscaya kutukan yang akan datang. Gemerlap kehidupan kota hasil festival modal besar investor bisa jadi hanya akan menjadikan penduduk semakin tak jelas nasibnya di tanah sendiri. Karenanya, menerima tawaran investasi harus dikalkulasi njlimet manfaatnya bagi masyarakat, terutama masyarakat miskin.

Jika salah mengelola investasi dan menata kekayaan, ibarat gadis cantik salah bergaul. Ingin populer, tanpa terasa masuk dunia gelap dan salah memilih teman. Akhirnya seperti plesetan lagunya Meriem Bellina, Mulanya Biasa Saja… akhirnya hamil juga…. Hehehe…. Musibah bro..!!. (Suko Susilo, Penduduk Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia