Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Ibu-Ibu Karang Taruna Produktif Bikin Tas Rajut di Desa Jarak

Garap Kerajinan setelah Urusan Dapur Rampung

01 Juli 2019, 23: 22: 50 WIB | editor : Adi Nugroho

karang taruna ibu tas rajut

AKTIVITAS POSITIF:  Ibu-ibu karang taruna selesaikan tahap finishing tas rajut di rumah Guguh Pribadi, Dusun Sagi, Desa Jarak, Plosoklaten (30/6). (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Tak sekadar kumpul-kumpul. Kelompok ibu-ibu istri anggota karang taruna Desa Jarak, Kecamatan Plosoklaten ini punya aktivitas produktif. Mereka membuat kerajinan tas rajut. Keterampilan dan pendapatan pun bertambah.

HABIBAH A. MUKTIARA

Minggu siang itu (30/6) sekitar pukul 11.00 WIB, di samping teras rumah Guguh Pribadi di Dusun Sagi, Desa Jarak, Kecamatan Plosoklaten terlihat tumpukan sandal di depan pintu. Ketika didekati, terdengar suara orang tengah mengobrol di dalam.

Rupanya suara tersebut berasal dari Yani Susanti, Solehah, Siti Arofah, Sukasih Hariani, dan Kristiani Batahera. Mereka sedang berkumpul di ruang tengah.

Tidak sekadar berkumpul untuk ngobrol atau ngerumpi. Namun, ibu-ibu ini beraktivitas membuat tas rajut. Ya, para perajin itu tengah menggarap tahap finsihing pembuatan tas. “Hari ini sudah diberitahu agar ngumpul di sini untuk merekat gambar (decoupage),” terang Guguh ketika ditemui Jawa Pos Radar Kediri.

Di lantai tempat keempat ibu-ibu duduk, terlihat tas hasil rajutan yang siap untuk dirampungkan. Tas-tas tersebut adalah hasil kerajinan dari 10 ibu yang hingga kemarin bertahan untuk membuat tas anyaman berbahan dasar strepingben.

Namun sayang, hanya empat orang saja yang dapat hadir kemarin. “Agar desa ini memiliki produk unggulan, maka kami adakan pelatihan agar terampil,” imbuh pria yang juga ketua Karang Taruna Desa Jarak ini.

Pelatihan yang dilaksanakan pada 26 Juli 2018 merupakan praktik pembuatan tas anyaman. Dengan diadakannya kegiatan pelatihan pembuatan anyaman, banyak ibu warga Desa Jarak yang tertarik. Dalam pelatihan yang berlangsung selama dua hari, sekitar 30 orang yang mengikutinya di balai desa.

Sayangnya karena pelatihan hanya berlangsung selama dua hari, ibu-ibu harus berusaha sendiri untuk menyempurnakan kerajinan tas itu. “Karena pembuatan tas dimulai dari dasar atas dari alas tas, kami lupa ketika dilepes kembali,” jelas Kristiani, istri Guguh, yang merupakan koordinator ibu-ibu perajin tas rajut. 

Untuk membuat tas tersebut, mereka berlatih dengan cara merangkai kemudian dilepas lagi. Setelah itu memasang kembali strepingben. Dengan begitu, akhirnya mahir. “Awalnya kegiatan ini dibiayai desa sebagai salah satu kegiatan karang taruna,” ungkap Guguh.

Awal membuat satu tas, ibu-ibu membutuhkan waktu tiga hari. Namun setelah terbiasa, kini dalam satu hari bisa membuat tiga hingga empat tas. Tergantung ukuran yang dipesan. “Kalau membuat tas rajutan, ibu-ibu mengerjakannya di rumah,” ungkapnya.

Baru saat tahap finisihing, yaitu penempelan gambar, perajin akan diberitahu kapan harus berkumpul. Tempatnya di rumah Guguh. Demi menjaga kualitas, tas tak hanya dicek hasil rajutannya. Tetapi juga agar bahan decoupage tidak berceceran.

Selain berlatih menganyam tas, perajin melakukan penempelan gambar. Pada awalnya mereka sekadar menempelkan mengunakan lem. Ini membuat mereka berpikir bagaimana agar gambar dan tas terlihat menyatu. “Sebelum ditempel, sekitar gambar pada tisu dipotong terlebih dahulu,” terang Kristiani.

Dalam mengerjakan tas rajut, ibu-ibu baru mengerjakan setelah menyelesaikan aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Salah satunya adalah Sukasih. Perempuan 32 tahun ini selain mengurus rumah juga harus pergi ke sawah. Dia menanam cabai.

“Sebelum ke sini (rumah Guguh), tadi saya sekitar jam 06.00 pagi pergi ke sawah. Setelah selesai baru ke sini,” kata ibu dua anak ini.

Begitu pula dengan ibu-ibu lainnya. Mereka mulai membuat tas ketika urusan dapur dan tugas rumah rampung. Bahkan ada yang menunggu anak tertidur. Dengan menjadi perajin tas rajut, mereka mengaku mendapat penghasilan. Setidaknya, untuk uang jajan anaknya.

Selain tas, saat ini sudah berbagai produk dihasilkan. Seperti dompet dan hantaran dari anyaman. Harganya bervariasi. Mulai dari Rp 30 ribu untuk ukuran kecil, Rp 40 ribu ukuran sedang, dan Rp 55 ribu ukuran besar. Produk mereka diberi nama Nur Adanu Craft.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia